Oleh. Irma Sari Rahayu
Anda pernah melihat anak-anak melakukan gerakan hand stand atau seperti gerakan akrobatik dengan mengangkat kedua kaki sementara pipi dijadikan sebagai penahan keseimbangan? Waspadalah, karena mereka sedang melakukan gerakan berbahaya yang tidak disadari.
Saat ini sedang viral tren freestyle atau gerakan hand stand di kalangan anak-anak. Mereka melakukannya di sekolah, di rumah, bahkan mungkin di tempat lainnya. Perilaku ini ditengarai karena meniru gerakan freestyle dari game online seperti Free Fire. (tribunnews, 6-5-2026)
Namun, di balik keseruan dan viralnya, gerakan freestyle telah merenggut korban. Seorang siswa TK (F) dan siswa SD (HIW) di Lombok Timur Nusa Tenggara Barat meninggal dunia karena patah leher akibat mengikuti gaya freestyle.
Dampak Negatif Media
Tak dapat dipungkiri, dunia digital hari ini sudah sedemikian akrab dalam kehidupan. Masuk ke dalam rumah-rumah masyarakat, tak terkecuali anak-anak. Tangan-tangan mungil mereka sedemikian mahir menari pada keypad gawai dan berseluncur dengannya. Game online maupun offline adalah yang paling digemari dan diunduh aplikasinya oleh anak.
Nalar anak yang belum sempurna belum mampu mengidentifikasi dan memilah, mana dunia permainan dan nyata. Yang dirasakan hanyalah sensasi senang, tertarik, dan tantangan untuk mencoba setiap adegan yang ada di dalam gawai tanpa mengerti risikonya.
Pada tahun 2024, MP seorang bocah berusia 9 tahun nekat menyetir sendiri mobil orang tuanya setelah bermain game mengendarai mobil dari internet. MP tidak pernah belajar menyetir mobil sebelumnya. Ia terinspirasi dan belajar cara membawa mobil dari game yang baru saja dimainkan. Akibatnya, MP menabrak beberapa motor dan mobil selama ia berkendara, dan baru berhenti setelah mobil menabrak tiang rambu lalu lintas (Tirto.id, 6-8-2024)
Selain rasa penasaran, adanya pengakuan dan apresiasi dari teman atau orang yang menyaksikan keberhasilannya melakukan freestyle ikut memengaruhi tren ini makin berkembang. Apalagi jika anak mengunggahnya di media sosial dan mendapat validasi berupa like dan view yang banyak, mmbuat perasaannya semakin bangga. Hal ini disampaikan oleh psikolog anak dari Kancil Evryanti Putri.
Cukupkah dengan Pendampingan Orang Tua?
Maraknya tren freestyle dan sudah memakan korban ini patut menjadi perhatian serius semua pihak terutama orang tua. Seyogianya orang tua adalah garda terdepan dalam menjaga keselamatan anak. Namun kenyataannya, orang tua tak mampu berdiri sendiri untuk senantiasa mengawasi dan menjaga buah hatinya. Adakalanya orang tua terpaksa mengizinkan anak mengakses gadget dengan alasan agar anteng, sementara orang tua sibuk. Entah karena bekerja atau sekadar mengerjakan pekerjaan rumah.
Orang tua yang bekerja acapkali menitipkan anak kepada pengasuh atau nenek. Melalui pola asuh merekalah anak dibiarkan bermain game. Bukan karena semata-mata pembiaran, tetapi terpaksa membiarkan agar pekerjaan mereka tak terbebani dengan rengekan anak.
Berbagai problem yang dihadapi masyarakat saat ini adalah rantau dan cabang yang kayu akibat membiarkan akar masalahnya tetap membusuk. Sehingga seakan-akan permasalahan hidup tak kunjung selesai.
Sistem kapitalisme adalah pangkal masalah dalam setiap masalah dalam kehidupan. Kehidupan sekuler yang menihilkan peran agama dalam kehidupan, menganggap apapun bebas dilakukan asalkan bermanfaat. Manfaat yang dimaksud sistem ini adalah materi.
Para kapitalis mengembangkan game tanpa mempertimbangkan keselamatan penggunanya. Asalkan menghasilkan cuan, unsur lainnya diabaikan. Negara pun seakan mandul dalam membatasi bahkan melarang berbagai konten berbahaya. Baginya ranah dalam rumah tangga adalah urusan individu. Maka permasalahan anak adalah urusan orang tua. Jika terjadi sesuatu dengan anak, maka orang tua lah yang harus bertanggung jawab. Ini lah ciri negara yang mengadopsi sistem kapitalisme.
Penjagaan Paripurna dalam Islam
Allah Swt. telah menurunkan seperangkat aturan yang saling berkaitan untuk mengatur hidup manusia. Allah telah memberikan tanggung jawab kepada seorang khalifah untuk melaksanakan aturan tersebut dalam sebuah sistem bernegara yang bernama Khilafah Islam. Semua pihak baik orang tua masyarakat maupun negara berkewajiban menjaga keamanan anak sesuai dengan porsinya.
Orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap anak-anak mereka, karena Allah memerintahkannya. Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yaitu: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang kepala keluarga adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.
Namun orang tua tak akan mampu berjuang sendiri tanpa ada dukungan masyarakat dan negara. Bisa jadi, ia susah berupaya membatasi penggunaan gawai, menghapus instalasi game atau upaya lainnya. Namun jika negara berlepas tangan, maka akan muncul peristiwa serupa tetapi berbeda kasusnya. Negara sepatutnya melarang dengan tegas dan menghapus berbagai jenis game atau aplikasi yang membahayakan jiwa. Memberikan sanksi terhadap siapa saja yang masih melanggar.
Inilah bentuk penjagaan yang paripurna. Fungsi negara sebagai ra'in atau pelayan atau penjaga rakyatnya terealisasi. Sangat mustahil akan didapatkan dalam sistem saat ini. Penjagaan nyawa bagi anak-anak dan warga negara secara umum hanya akan dikecap di dalam sistem Islam.
Wallahua'lam. []

No comments:
Post a Comment