Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menganalisis Rupiah yang Masuk ke Jurang

Friday, May 29, 2026 | Friday, May 29, 2026 WIB

 



Oleh Dra. Rahma

Aktivis Muslimah 


Sampai akhir April 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah ke titik terendah dalam sejarah. Kurs Rupiah ditutup di Rp17.346 per USD. Setahun terakhir, rupiah telah melemah 5,3 persen. Fenomena ini juga terjadi di banyak negara, termasuk negara-negara Muslim lainnya. Lira Turki, misalnya, melemah 17,1 persen, sementara Pound Mesir melemah 5,4 persen.

Penyebab utama pelemahan rupiah adalah tekanan di sektor finansial yang mendorong kaburnya dana investor asing dari Indonesia secara masif. Di sisi lain, tekanan dari neraca perdagangan barang dan jasa relatif rendah. Sepanjang 2025, neraca perdagangan barang dan jasa Indonesia dengan luar negeri hanya defisit 1,4 miliar USD. Angka ini jauh lebih kecil dibanding 2024 yang defisitnya mencapai 8,6 miliar USD. Bahkan kuartal III 2025 sempat surplus 4 mi liar USD. Artinya ekspor Indonesia masih cukup kuat sejalan dengan peningkatan harga berbagai komoditas ekspor.

Tekanan jangka pendek terbesar berasal dari aliran keluar modal saat asing melepas obligasi pemerintah dan saham senilai 6,8 miliar USD pada 2025. Sementara tekanan struktural berasal dari beban tetap yang setiap tahun harus dibayar yaitu pembayaran bunga obligasi dan dividen kepada investor asing pemilik saham di sektor strategis seperti perbankan, telekomunikasi, energi, dan pertambangan seperti Freeport McMoran dan ExxonMobil. Tahun lalu, pembayaran bunga obligasi kepada asing sebesar 9,8 miliar USD atau sekira Rp160,8 triliun dan dividen 30,8 miliar USD atau sekitar Rp507,4 triliun (dengan kurs rata-rata 2025 sebesar Rp16.475 per USD). Aliran ini terus berulang setiap tahun selama kepemilikan asing tetap dominan dan cenderung membesar seiring akumulasi modal asing di Indonesia

Di saat yang sama, Bank Indonesia memotong suku bunga sebesar 1,25 persen sepanjang 2025 demi mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara bank sentral Amerika Serikat justru mempertahankan bunga tinggi untuk melawan inflasi. Akibatnya, menyimpan uang di Amerika menjadi lebih menguntungkan sekaligus lebih aman dibanding di Indonesia. Investor pun ramai-ramai memindahkan dana mereka ke sana.

Lalu, pada awal 2026, uang asing yang kabur dari pasar saham dan obligasi kembali meningkat mencapai Rp18,6 triliun hanya dalam satu bulan. Kaburnya investor tersebut disebabkan oleh sentimen negatif terhadap pengelolaan fiskal pemerintahan Prabowo.

Hal ini menunjukkan sistem mata uang fiat, mata uang yang tidak ditopang aset riil dan nilainya hanya bersandar pada kepercayaan dan otoritas penerbit, sangat rapuh terhadap kebijakan bank sentral negara besar. Selain itu, alat utama kebijakan moneter berupa pengaturan suku bunga, dalam pandangan Islam termasuk riba nasi'ah, yaitu tambahan atas pinjaman yang dipatok di muka tanpa pertukaran nilai yang setara.

Karena itu, solusi fundamental bagi mata uang rupiah dan juga mata uang negara-negara lain khususnya di dunia Islam adalah pembentukan mata uang emas dan perak bersama. Dengan mata uang yang sama tersebut, kurs antar negara anggota tetap karena dipatok ke berat emas, sehingga tidak bisa digoyang spekulan. Selain itu, jumlah uang beredar otomatis terbatas oleh cadangan emas, jadi tidak bisa dicetak seenaknya. Negara Muslim juga lebih terlindungi dari pengaruh kebijakan bank sentral negara Barat. Dengan kondisi tersebut, ekonomi negeri-negeri Muslim dapat fokus pada peningkatan produksi di sektor riil. Hal ini pada akhirnya akan menciptakan ekonomi yang lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara kapitalisme yang mengandalkan mata uang fiat.

Tantangannya memang ada, baik secara politik maupun ekonomi, tetapi semuanya bisa diatasi. Persatuan umat Islam dalam kekuatan politik dalam bingkai Khilafah Islam akan memudahkan mengatasi perbedaan kondisi ekonomi antar wilayah, termasuk memberikan transfer dari wilayah yang surplus ke wilayah yang mengalami kekurangan emas dan perak. Di samping itu, pengelolaan dan distribusi cadangan emas di era teknologi blockchain seperti saat ini dapat dilakukan secara lebih transparan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update