Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dolar Melemah, Inflasi Makin Parah

Monday, May 25, 2026 | Monday, May 25, 2026 WIB Last Updated 2026-05-25T09:06:30Z

 



Oleh Wanti Ummu Nazba 

Muslimah Peduli Ummat 


"Naik seperti tangga, turun seperti gelombang." Peribahasa ini sesuai dengan kondisi dolar yang saat ini sedang melemah, kadang naik dan kadang turun seperti saat ini. 

Fluktuasi nilai dolar yang bergerak tidak stabil, kadang naik dan kadang turun secara tajam, mencerminkan rapuhnya kondisi moneter global. Pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan, tetapi telah memengaruhi biaya hidup masyarakat sehari-hari.

Dikutip dari tempo.com, 16/5/2026 berdasarkan data ekonomi terbaru, nilai tukar rupiah bahkan sempat mencapai Rp17.600 per dolar AS. Kondisi ini menyebabkan biaya impor bahan baku dan energi meningkat drastis sehingga memukul sektor produksi dan distribusi dalam negeri.

Dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat kecil, termasuk para nelayan di wilayah Pantai Utara Jawa. 

Selain menghadapi cuaca buruk yang menurunkan hasil tangkapan, mereka juga kesulitan memperoleh solar bersubsidi. Akibatnya, banyak nelayan terpaksa mengurangi aktivitas melaut karena tingginya biaya operasional. Bahkan di beberapa daerah seperti Pati, para nelayan melakukan aksi protes akibat harga BBM nonsubsidi yang melonjak tajam.

Tekanan ekonomi yang makin berat membuat banyak masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam pinjaman online demi bertahan hidup. Data OJK menunjukkan bahwa total pinjaman online masyarakat Indonesia terus meningkat signifikan, menjadi tanda bahwa banyak keluarga mengalami krisis pendapatan.

Di tengah kesulitan rakyat, sebagian pernyataan elite politik dinilai kurang peka terhadap realitas yang terjadi. Anggapan bahwa masyarakat desa tidak terdampak oleh pelemahan dolar dianggap keliru, sebab kenaikan kurs juga berpengaruh terhadap harga pupuk, pakan ternak, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lainnya yang digunakan masyarakat pedesaan.

Jika ditelaah lebih jauh, persoalan ini dinilai berakar dari penerapan sistem ekonomi kapitalis sekuler yang bergantung pada uang kertas tanpa nilai intrinsik. Nilai mata uang sangat dipengaruhi oleh spekulasi pasar dan kondisi geopolitik global. Ketika terjadi konflik internasional, investor cenderung menarik modal dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS. Akibatnya, rupiah semakin tertekan dan rentan mengalami depresiasi.

Selain itu, kebijakan liberalisasi perdagangan menyebabkan Indonesia semakin bergantung pada impor. Sektor pertanian dan industri strategis dalam negeri melemah sehingga ketika rupiah turun, harga barang dan biaya produksi langsung melonjak. Dalam kapitalisme, kepentingan ekonomi sering kali lebih mengutamakan keuntungan kelompok pemilik modal dibanding kesejahteraan rakyat.

Pemerintah dinilai belum mampu memberikan solusi mendasar terhadap persoalan ini. Ketergantungan pada utang luar negeri terus meningkat untuk menutup defisit anggaran negara. Ketika nilai rupiah melemah, beban pembayaran utang dan bunganya ikut membengkak. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, rakyat kembali dibebani dengan pajak, kenaikan tarif, serta pengurangan subsidi.

Akibatnya, masyarakat harus menghadapi inflasi dan tekanan ekonomi tanpa perlindungan yang memadai. Kondisi inilah yang kemudian mendorong sebagian rakyat terjerumus ke dalam praktik pinjaman online berbasis riba demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dalam pandangan Islam, persoalan ekonomi semacam ini diyakini dapat diselesaikan melalui penerapan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh. Islam menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi makro.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penggunaan mata uang berbasis emas dan perak, yakni dinar dan dirham. Karena memiliki nilai intrinsik, mata uang tersebut dianggap lebih stabil dan tidak mudah terpengaruh spekulasi pasar global maupun kepentingan politik negara besar.

Selain itu, Islam melarang praktik ekonomi nonriil seperti riba, spekulasi, dan perjudian valuta asing. Aktivitas ekonomi diarahkan pada sektor riil seperti perdagangan, pertanian, perikanan, dan industri. Negara juga berkewajiban menjaga stabilitas harga, mencegah penimbunan barang, serta melarang monopoli yang merugikan masyarakat.

Dalam sistem Islam, sumber daya alam seperti minyak, gas, dan batu bara dipandang sebagai milik umum yang harus dikelola negara demi kesejahteraan rakyat, bukan diserahkan kepada swasta atau pihak asing.

Lebih jauh, Islam menempatkan pemimpin sebagai pelayan dan pelindung rakyat. Seorang pemimpin bertanggung jawab memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi serta melindungi mereka dari kesulitan hidup dan ketidakadilan sistemik.

Fenomena melemahnya rupiah dan meningkatnya jumlah masyarakat yang terjerat pinjaman online dianggap sebagai peringatan bahwa ekonomi kapitalisme saat ini memiliki banyak kelemahan. 

Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat mempertimbangkan penerapan sistem ekonomi Islam sebagai alternatif untuk mewujudkan kesejahteraan yang lebih adil dan berkah.

Wallahu a’lam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update