Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Undang-Undang Sadis, Produk kapitalis Frustasinya Zionis!

Friday, April 17, 2026 | Friday, April 17, 2026 WIB Last Updated 2026-04-17T03:56:42Z

 


Oleh Santika

Aktivis Dakwah

Kekejaman dan kebiadaban Israel semakin hari makin menjadi. Dilansir dari dari SindoNews.com.id pada tanggal 30-03-2026 Israel mengesahkan undang-undang yang melegalkan hukuman mati bagi para tahanan khususnya penduduk palestina yang terbukti melakukan serangan mematikan. Pengesahan undang-undang itu disetujui ketika pembacaan kedua d0an ketiga dengan 62 suara mendukung dan 48 menentang  dan satu abstain. Perdana mentri Benjamin Netanyahu memberikan dukungan secara terbuka  terhadap undang-undang tersebut. Berbanding terbalik dengan kongres yang dilakukan di Amerika Serikat (AS), justru sangat mengecam dengan UU itu karena menurut Rashaida Talaib seorang politikus dan pengacara Amerika Serikat yang menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS (DPR AS/US House of Representatives) dari Partai Demokrat karena UU itu hanya sebuah wadah untuk lebih menyiksa para tahanan Palestina dan termasuk langkah apartheid. Protes keras juga dilakukan oleh kelompok hak asasi manusia dan negara-negara di Eropa karena menurutnya undang-undang ini sangat diskriminatif dan melanggar undang-undang Internasional.

Tidak disangsikan lagi lahirnya UU  yang melegalkan hukuman mati bagi para tahanan Palestina adalah bentuk frustasi zionis Israel terhadap penduduk Palestina, yang terus bertahan. Ini adalah bentuk eskalasi yang signifikan terhadap sistem pemidanaan zionis.  Tak ayal u dang-undang ini juga menunjukkan kepada dunia kegagalan zionis dalam membumi hanguskan penduduk palestina. Namun dibalik itu semua, Israel seolah-olah jumawa terhadap posisinya saat ini. Sehingga dengan beraninya membuat undang-undang yang berlawanan dengan UU international. Seakan ingin menampakkan super powernya dengan kezaliman dan kekejaman yang terus memuncak, tanpa memperdulikan lagi kecaman disekitarnya. Sementara dunia Islam tampak terpecah belah masih dengan kondisi  keterpurukannya dan hanya sebatas mengutuk aksi zionis atau bahkan lebih memilih diam.

Dengan semakin arogannya zionis seharusnya Umat Islam bangkit, bersatu dan menyudahi kebiadabann zionis. Namun sangat disayangkan, umat Islam hanya sibuk dengan aksi yang hanya sebatas mengecam atau hanya mengutuk saja. Terutama para ulama dan kaum cendekiawan muda, seharusnya ikut berperan aktif dalam berbagai langkah nyata guna membungkam kekejaman zionis yang selalu disupport oleh Amerika.

Nampak jelas keadaan kaum Muslim saat ini hanya seperti buih dilautan, tak ada satu negarapun yang mau mengambil bagian dan menyudahi konflik ini. Kondisi kita telah digambarkan oleh Rasulullah saw. Hari ini jumlah umat muslim lebih dari dua miliar jiwa. Akan tetapi, Nabi saw. menggambarkan kita seperti buih di lautan. Banyak, tetapi lemah. Di antara penyebabnya, beliau sebutkan, karena umat dibelit penyakit al-wahn: cinta dunia dan takut mati. Penyakit ini terutama berjangkit di kalangan para penguasa negeri-negeri Muslim. Mereka menjadi pengecut di hadapan kaum kafir imperialis karena takut kehilangan jabatan dan kekuasaan. Mereka malah memilih bersekutu dengan Israel dan menjadi kacung AS serta kafir penjajah lainnya.

Kini saatnya kita untuk menghentikan arogansi Israel dengan melakukan perubahan yang mendasar yaitu menggantikan kepemimpinan dengan kepemimpinan Islam Dan saatnya pula mengemban dakwah politik Islam bukan dengan metode yang lainnya. Karena hanya sistem Islamlah kelak yang akan melahirkan kepemimpinan yang adil dan jauh dari penindasan dan kekejaman sesuai dengan metode dakwah Rasulullah saw. Keadaan ini pula menjadi urgensi terhadap adanya pemimpin  Umat (khalifah) yang bisa menyatukan umat walaupun berbeda negara. Khilafahlah kelak yang akan memandu kaum muslim untuk membumi hanguskan  zionis dan antek-anyeknya. Semoga pertolongan Allah Swt. itu semakin dekat dengan terpahamkannya umat sehingga keberadaan sistem Islam, dan kepemimpinan Islam itu kembali tegak. wallahulam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update