Oleh Seni Rosdiana
Tim Penulis Pena Cemerlang
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memberikan sejumlah pelajaran penting bagi dunia Islam. Selama ini, Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel, kerap dipersepsikan sebagai kekuatan yang nyaris tak terkalahkan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa menghadapi satu negara muslim seperti Iran saja bukan perkara mudah bagi mereka. Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, secara terbuka menggaungkan klaim kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. (Media Indonesia, 10/04/26)
Adapun, Amerika Serikat memang memiliki jaringan aliansi militer paling kuat di dunia, tetapi kekuatan aliansi tidak selalu berarti kepatuhan mutlak. Dalam kasus melawan Iran, garis batas itu terlihat jelas. Amerika Serikat tidak mampu secara penuh memaksa negara-negara sekutunya untuk terlibat langsung dalam konflik tersebut. Ketika ketegangan meningkat, negara-negara sekutu terutama Negara Eropa justru menunjukan sikap hati-hati, bahkan tidak ingin terlibat langsung.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam politik global, tidak ada kawan atau lawan yang benar-benar permanen yang ada hanyalah kepentingan. Dalam konteks ini, hubungan antarnegara bersifat dinamis dan transaksional. Negara akan mendukung sekutunya sejauh hal itu sejalan dengan kepentingan nasionalnya, tetapi tidak akan ragu mengambil jarak jika risiko yang dihadapi dianggap terlalu besar. Bahkan, dalam aliansi yang paling solid sekalipun, selalu terdapat ruang negosiasi, perbedaan, dan batasan
.
Dinamika seperti ini menunjukkan bahwa kekuatan global tidak hanya ditentukan oleh banyaknya sekutu, tetapi oleh kemampuan mengelola hubungan dan kepentingan secara cermat. Negara yang mampu membaca perubahan, menyesuaikan strategi, dan membangun kepercayaan tanpa mengabaikan kepentingannya sendiri akan berada pada posisi yang lebih kuat dalam jangka panjang.
Di sisi lain, kita juga menyaksikan realitas yang memprihatinkan yaitu adanya sebagian penguasa di negeri-negeri muslim yang justru bersekutu dengan kekuatan asing. Bagi sebagian kalangan, kedekatan beberapa negara Muslim dengan Amerika Serikat dipandang sebagai bentuk keberpihakan yang melemahkan solidaritas umat. Apalagi ketika kebijakan luar negeri mereka tampak selaras dengan kepentingan Barat di kawasan Timur Tengah. Banyak negara di kawasan menghadapi ancaman keamanan langsung, ketergantungan ekonomi, serta kebutuhan stabilitas internal. Aliansi dengan kekuatan besar seperti Amerika Serikat sering kali dilihat sebagai strategi bertahan, bukan semata pilihan ideologis.
Kondisi ini semakin melemahkan posisi umat Islam secara global dan menghambat terwujudnya persatuan yang kokoh. Persatuan umat sering dibayangkan sesuatu yang utuh dan otomatis, tapi nyatanya dunia Internasional bekerja berdasarkan kepentingan nasional. Bahkan, negara dengan identitas agama pun tidak memiliki tujuan yang sejalan.
Potensi kesatuan negeri-negeri muslim sejatinya sangat besar. Jika kekuatan yang tersebar ini dapat disatukan, bukan mustahil ia akan menjadi kekuatan global baru yang mampu berdiri sejajar, bahkan menandingi hegemoni kekuatan besar dunia saat ini. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dibangun adalah kesadaran umat akan pentingnya persatuan. Konflik global yang melibatkan kekuatan besar memberikan pelajaran bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada militer, tetapi pada persatuan, keteguhan prinsip, dan keadilan. Dalam Islam, persatuan umat merupakan perintah yang sangat mendasar. Allah Swt berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali ‘Imran: 103)
Dalam Islam terdapat kepemimpinan yang berfungsi sebagai simbol persatuan umat, yang menyatukan berbagai wilayah muslim dalam satu arah politik dan peradaban. Dalam sistem ini, umat tidak lagi terkotak-kotak oleh batas negara, melainkan terikat dalam satu kepemimpinan yang mampu menjaga dan melindungi kepentingan bersama secara menyeluruh
.
Selain itu, sistem Islam melalui dakwah dan jihad bukan sekadar konsep teoritis, tetapi menjadi metode nyata dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai. Dakwah tidak hanya dimaknai sebagai ceramah, melainkan sebagai upaya membangun kesadaran kolektif. Sementara itu, jihad tidak terbatas pada makna kekerasan atau konflik fisik, melainkan mencakup kesungguhan dan perjuangan berkelanjutan untuk memperbaiki diri, menentang ketidakadilan, serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang beradab dengan menegakkan hukum yang adil demi melindungi kaum lemah dari penindasan.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
No comments:
Post a Comment