Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Miris! Dulu Guru Digugu dan Ditiru, Sekarang Diguyu

Friday, April 24, 2026 | Friday, April 24, 2026 WIB

Oleh Nur Fitriyah Asri
Penulis Opini Ideologis

Tawa itu pecah di sebuah ruang kelas di Purwakarta. Bukan karena lelucon guru, tapi karena seorang guru sedang diolok-olok muridnya sendiri. Videonya viral. Netizen ramai. Dulu, kata “guru” cukup membuat anak menunduk segan. _Digugu lan ditiru_. Ucapannya jadi pegangan, teladannya jadi panutan. Kini? Guru bicara, murid menantang. Guru menegur, orangtua melapor. Guru mendidik, ujungnya bisa di-bui. Sungguh miris. 

Peristiwa memilukan kembali terjadi di mana guru dilecehkan oleh siswa, terjadi pada Kamis, 16 April 2026, di SMAN 1 Purwakarta, kelas XI IPS. Seorang guru berhijab, seusai mengajar, berjalan  membelakangi muridnya. Saat itulah ia mendapat perlakuan tidak pantas dari muridnya. Murid  tertawa-tawa bertingkah mengejek melakukan gestur mengacungkan jari tengah dan lainnya merekam. Jadilah video viral yang memalukan dan memilukan. Sosok guru dilecehkan hanya bisa menunduk malu dan pilu, seharusnya sosok yang harus dihormati.

Akibat perbuatannya, sekolah memberikan skorsing 19 hari. Namun, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai sanksi tersebut belum tentu bisa membentuk karakter siswa. Dia mengusulkan memberikan hukuman  edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku siswa, yaitu membersihkan sekolah, menyapu halaman setiap hari, termasuk membersihkan toilet sekolah selama 2-3 bulan tergantung perkembangan dari siswa itu sendiri. Prinsip dasar hukuman untuk memberikan manfaat bagi pembentukan karakter. Bagaimanapun anak perlu dibimbing oleh orang tua dan gurunya, jelas Dedi Mulyadi. (Detik.com, 19/4/2026)

Pertanyaannya: siapa yang salah? Muridnya? Orang tuanya? Atau ada yang sengaja mencabut “wibawa” dari pundak guru, lalu menyerahkan tongkat didik ke tangan sistem sekuler yang tak kenal adab?

Pelecehan guru di Purwakarta, ini bukan kenakalan remaja biasa. Tetapi sebagai cerminan krisis moral akibat sistem pendidikan sekuler-liberal yang mengabaikan adab kepada guru. Hal ini bisa terjadi karena negara berasaskan sekularisme, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Tentu cabang-cabangnya juga sekuler termasuk pendidikannya. Maka wajar jika kurikulum pendidikan nasional porsi pendidikan agama hanya diberikan waktu dua jam pelajaran per minggu. Padahal, pendidikan agama inilah yang mendasari dan membentuk akidah dan akhlak siswa menjadi baik. 

Sementara itu, orang tua yang seharusnya menjadi pendidik pertama dan utama tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Karena para orang tua disibukkan mencari nafkah, termasuk para ibu-ibu yang lebih memilih bekerja di luar rumah untuk mendapatkan uang demi menutupi kebutuhannya.

Akibatnya, anak kurang perhatian, kurang pendampingan, dan kurang pengawasan. Anak merasa longgar dan bebas mau melakukan apa saja. Sementara derasnya arus digital yang mudah diakses mendorong pelajar lebih memilih beraktivitas di media sosial dengan membuat konten. Demi konten agar viralnya lebih spoken semua ia lakukan meski melecehkan martabat gurunya. Inilah akibat pendidikan sekuler tanpa pondasi akidah yang kuat menjadikan siswa rentan menuruti hawa nafsunya. 

Kejadian di SMA 1 Purwakarta tersebut, sebagai bukti lemahnya wibawa guru. Mengapa siswa menjadi "berani" melakukan tindakan tidak beradab? Apakah karena sanksi sekolah selama ini lemah tidak bertaring? Atau guru tidak berdaya, tidak berani menegur pada siswa yang berbuat salah karena takut dituntut dan dipidanakan? 

Inilah fenomena yang terjadi di dunia pendidikan. Saat adab dicerai dari ilmu, saat HAM kebablasan membungkam guru, saat kurikulum lebih sibuk mencetak pekerja daripada mencetak manusia berakhlak... maka lahirlah generasi yang lebih takut tidak viral daripada takut durhaka pada guru. Sungguh miris dan memprihatinkan.

Ironi memang, pada saat pemerintah sering menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila," yang bertujuan mencetak  lulusan yang tidak hanya unggul akademik, tetapi juga memiliki karakter kokoh sesuai kepribadian bangsa Indonesia. Pelajar diharapkan menjadi pembelajar seumur hidup yang berkompeten dan berkarakter (Kemendikdasmen). Justru yang terjadi output pendidikan saat ini pelajar makin liberal, kasus bullying naik 30%, judi online merajalela di kalangan SMP-SMA, hingga hilangnya adab kepada guru. Fenomena tersebut menjadi tamparan keras bahwa program-program Profil Pelajar Pancasila baru sebatas formalitas administrasi di atas kertas.

Bagaimana cara Islam memuliakan guru dan mencetak generasi beradab? Yakni sebagai berikut:

Pertama, kurikulum dibangun berlandasan akidah Islam untuk mencetak generasi yang memiliki syaksiyah Islamiyah (kepribadian Islam), yaitu pola pikir dan pola sikap sesuai syariat. Pendidikan  dianggap sebagai
kurikulum terintegrasi, yakni menyeimbangkan antara pelajaran agama (fardu ain) dan ilmu pengetahuan umum (fardu kifayah), sehingga terbentuk individu yang bertakwa dan memiliki keahlian yang dibutuhkan umat. 

Kedua, pendidikan tidak hanya terbatas pada jalur pendidikan formal. Namun, juga pendidikan informal yang berfokus pada peran keluarga dan masyarakat. Sebab, dalam Islam pendidikan keluarga merupakan fondasi awal di mana seorang ibu sebagai pendidik pertama dan utama membentuk akidah dan akhlak putra-putrinya. 

Ketiga, Islam lebih mendahulukan adab dari pada ilmu. Sebagaimana  Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa memuliakan orang berilmu (guru), maka sungguh ia telah memuliakan aku. Barangsiapa memuliakan aku, maka sungguh ia telah memuliakan Allah." (HR. Tirmidzi)

Adab menempati posisi lebih tinggi dari ilmu karena kunci keberkahan dan kebermanfaatan ilmu. Adab adalah penuntun ilmu, mencegah kesombongan. Menyakiti hati guru penyebab hilangnya keberkahan, yakni ilmunya tidak bermanfaat, sulit dipahami, dan cepat hilang. Serta dianggap sebagai perbuatan durhaka, yaitu penyebab kesempitan kehidupan. Hal ini lah yang menjadi peringatan dan pengingat bagi pelajar untuk senantiasa menghormati dan memuliakan guru.

Keempat, media sosial berfungsi sebagai sarana efektif untuk dakwah (menyebarkan kebaikan dan ilmu agama). Untuk menyampaikan informasi positif. Untuk tabayun (memverifikasi  Informasi) demi menghindari fitnah serta menjadi sarana muamalah yang bertanggung jawab. Oleh sebab itu, Khilafah tidak akan membiarkan media sosial jadi hutan bebas. Konten perusak akidah diblokir, pelaku diberi sanksi takzir yang membuatnya jera.

Kelima, negara  memuliakan posisi guru dengan mendapat penghargaan tinggi dan kesejahteraannya dijamin. Di masa Khalifah Umar bin Khattab, gaji guru 15 Dinar sebulan-setara 60 juta hari ini. Sehingga wibawa guru terjaga di mata anak didik dan masyarakat.

Jadi, sampai kapan kita biarkan guru diguyu?Saatnya campakkan sekularisme, terapkan syariat Islam secara kaffah (total).
Alhasil, di bawah naungan Khilafah, wibawa guru akan kembali. Guru tidak lagi diguyu, tetapi digugu dan ditiru, karena adab diletakkan di atas ilmu.

Wallahua'lam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update