Oleh Fildareta F. Auliyah, S.Pd
Pengajar dan Pemerhati Remaja
Menteri Kesehatan Ke seulatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memperkirakan sedikitnya 28 juta dari 287 juta penduduk Indonesia memiliki masalah kesehatan jiwa. Perkiraan itu merujuk pada rasio gangguan kejiwaan global yang disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Berdasarkan data hasil pemeriksaan CKG Kementerian Kesehatan per 1 Januari 2026, sekitar 27 juta lebih penduduk telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa. Hasilnya menunjukkan bahwa gejala depresi dan kecemasan pada kelompok anak sekolah dan remaja jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia. Pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, sebanyak 4,8 persen atau 363.326 orang terdeteksi mengalami gejala depresi, sementara 4,4 persen atau 338.316 orang menunjukkan gejala kecemasan. (kompas.com)
Meningkatnya gangguan kesehatan mental pada generasi muda, khususnya Gen Z telah menjadi perhatian serius belakangan ini. Global 2025 Gen Z and Milennial Survey menunjukkan bahwa sekitar 29% gen Z di Indonesia mengalami stress dan kecemasan hampir sepanjang waktu. Sebagian besar kecemasan gen Z adalah masalah masa depan keuangan dalam jangka panjang dan kesehatan dan kesejahteraan keluarga (swa.co.id). Ketidakpastian finansial dan masa depan inilah yang terbukti dapat memicu stress kronis, insomnia, hingga burnout.
Fenomena ini diperkuat dengan kecenderungan overthinking yang tinggi. Bahkan, herald.id menyebutkan bahwa 85% kekhawatiran gen Z ternyata tidak pernah terjadi. Artinya, sebagian besar kecemasan gen Z saat ini berawal dari konstruksi pikiran terhadap masa depan yang belum pasti terjadi, bukan pada realitas yang sedang dihadapi.
Ketidakseimbangan antara Takdir dan Ikhtiar
Banyak Gen Z merasa terjebak dalam kekhawatiran: “Apakah aku akan sukses?”, “Bagaimana jika aku gagal?”, “Apakah aku akan diterima oleh orang lain?”, dan masih banyak pikiran-pikiran lainnya yang belum pasti terjadi. Pikiran-pikiran ini terus berputar tanpa henti, menguras energi mental. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi dan akses informasi yang luas, ketenangan jiwa justru semakin sulit ditemukan.
Jika ditelaah lebih dalam, salah satu akar persoalan ini adalah kesalahan dalam memahami konsep hidup, termasuk dalam memandang ketetapan Allah. Dalam Islam, manusia memiliki dua zona pasti, yakni zona kendali (ikhtiar) dan zona takdir (tawakal). Zona Ikhtiar adalah segala sesuatu yang bias direncanakan, diusahakan, dan diubah sesuai dengan keinginan manusia. Sedangkan zona takdir adalah segala sesuatu yang merupakan hasil dari ikhtiar manusia yang datang tanpa permisi dan hanya bias diterima manusia apapun hasilnya. Namun, bukan berarti manusia tidak memiliki peran. Justru, Islam mengajarkan keseimbangan antara menerima takdir dan melakukan ikhtiar terbaik.
Sayangnya, banyak generasi saat ini terbailk. Mereka justru terjebak pada hal-hal yang berada di luar kendali mereka—seperti hasil akhir, masa depan yang belum terjadi, atau penilaian orang lain. Lebih banyak fokus pada “apa yang akan terjadi”, bukan pada “apa yang bisa dilakukan hari ini”. Akibatnya, pikiran dipenuhi kecemasan terhadap sesuatu yang sejatinya merupakan wilayah ketetapan Allah dan bukan wilayah manusia.
Di sisi lain, hal-hal yang sebenarnya menjadi tanggung jawab manusia—seperti berusaha, belajar, dengan maksumal, berusaha memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah—justru sering terabaikan. Generasi termakan ekspektasi tinggi tanpa ikhtiar yang tinggi pula. Ketika usaha minim namun ekspektasi tinggi, kegelisahan, kecemasan, tekanan, overthinking, bahkan sampai depresi menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Peran Kapitalisme dalam Memproduksi Kecemasan
Namun hari ini, menjadi wajar terjadi peningkatan gangguan kesehatan mental pada gen Z. Keterbalikan antara usaha dan ekpektasi memang salah satu faktor penyebabnya. Tetapi hal ini juga tidak dapat dilepaskan dari struktur sistemik kehidupan modern saat ini, yakni kapitalisme. Dimana saat ini muncul standar hidup yang sangat materialistik. Misalnya, stabilitas finansial di usia muda, pencapaian karier yang tinggi dalam waktu singkat, gaya hidup mewah dan sebagainya.
Media digital makin memperkuat konstruksi ini melalui budaya komparasi sosial. Gen Z terus-menerus terpapar narasi kesuksesan instan dan kebahagiaan materialistik yang pada akhirnya ketika tidak bisa dicapai, akan menjadi tekanan psikologis bagi generasi.
Ditambah lagi, kapitalisme menilai manusia dari produktivitas dan pencapaian. Kapitalisme secara tidak langsung menggiring manusia untuk mengukur kebahagiaan dari hasil, bukan proses. Akibatnya, jika generasi mengalami kegagalan dalam mencapai target, tidak hanya dipandang sebagai kegagalan ekonomi, melainkan juga kegagalan personal. Hal inilah yang makin memperparah gangguan kesehatan mental pada mayoritas gen Z hari ini.
Kontras Historis
Jika dibandingkan dengan generasi pemuda dalam sejarah Islam, terdapat perbedaan fundamental dalam cara pandang terhadap kehidupan. Pemuda seperti Mus’ab bin Umair atau Zaid bin Tsabit hidup dalam kondisi yang secara objektif jauh lebih berat—tekanan sosial, konflik, bahkan ancaman fisik. Namun, mereka tidak mengalami krisis mental seperti yang banyak terjadi saat ini.
Hal ini bukan berarti mereka tidak menghadapi ujian psikologis, tetapi karena mereka memiliki kerangka berpikir tauhid yang kokoh. Mereka memahami bahwa hasil berada dalam zona Takdir, sedangkan usaha adalah kewajiban manusia yang ada dalam zona ikhtiar. Orientasi hidup mereka berpusat pada keridaan Allah, bukan validasi sosial atau pencapaian material.
Tentu saja hal itu terjadi karena ada penjagaan dari lingkungan yang kondusif dan sejalan dengan konsep Islam. Penerapan ajaran Islam secara menyeluruh memiliki peran signifikan dalam menjaga ketenangan jiwa manusia. Dalam Islam, kehidupan dipandang sebagai bagian dari ketetapan Allah yang telah diatur dengan penuh hikmah, sebagaimana tercermin dalam konsep Qada dan Qadar yang menanamkan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas izin-Nya. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS At-Talaq ayat 3: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
Keyakinan ini membentuk pola pikir yang lebih tenang dan terarah, karena manusia didorong untuk fokus pada ikhtiar terbaik yang bisa dilakukan, bukan terjebak dalam kekhawatiran terhadap hal-hal yang berada di luar kendalinya. Penerapan nilai-nilai seperti ikhtiar, tawakal, sabar, dan syukur pun menciptakan lingkungan sosial yang saling menguatkan. Dalam kondisi demikian, generasi tidak akan mudah larut dalam kecemasan atau depresi akibat ketidakpastian masa depan, karena ia memiliki sandaran keyakinan yang kokoh bahwa setiap ketetapan Allah adalah yang terbaik bagi dirinya.
Wallahu a'lam bissawwab

No comments:
Post a Comment