Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dunia Digital Ancam Generasi, Islam sebagai Solusi

Wednesday, April 15, 2026 | Wednesday, April 15, 2026 WIB




Oleh Ummu Nasywa


Member AMK dan Aktivis Dakwah


Dilansir www.pikiran-rakyat.com (29/03/2026), Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Bandung tentang upaya pemerintah membatasi kepemilikan akun media sosial pada anak-anak bertujuan untuk melindungi dari bahaya digital, seperti pornografi, perundungan siber, dan gaya hidup instan. Akan tetapi hal ini tidak bisa berdiri sendiri, perlu adanya dukungan yang dibangun atas sinergisitas antara pemerintah daerah, keluarga, juga lingkungan. Pembatasan ini merupakan implementasi Peraturan Menkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 mengenai Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).


Ade Irfan Al Anshory selaku Ketua KPAD Kabupaten Bandung, menjelaskan secara umum bahwa anak-anak belum memiliki literasi digital dan kontrol diri memadai untuk menyaring konten. Menurut Ade, pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital, menerbitkan dan mengimplentasikan kebijakan itu sebagai bentuk penguatan, bahwa ruang digital mesti ramah dan sesuai tahap perkembangan anak-anak. KPAD Kabupaten Bandung mendukung kebijakan itu, tapi dengan sejumlah catatan. Implementasinya mesti disertai edukasi dan pengawasan, tidak semata-mata hanya bersifat pembatasan administrasi saja.


Tidak bisa dimungkiri saat ini semuanya serba digital, bahkan dunia digital seolah dikuasai generasi muda, yaitu Gen Z dan Gen Alpha. Dua generasi tersebut dikenal sebagai warga dunia digital (digital natives). Anak-anak dari balita saja sudah diberikan gadget, dengan alasan anak tidak rewel. Padahal akrabnya anak-anak dengan dunia digital bisa membawa faktor negatif salah satunya mengganggu fase tumbuh kembang anak.


Dunia digital dalam sistem kapitalisme saat ini telah dirancang sebagai strategi bisnis di dunia digital untuk mendulang keuntungan sebanyak-banyaknya. Tidak peduli apakah medsos itu berbahaya karena bisa menghancurkan generasi atau tidak. Asal bisa menghasilkan untung yang besar, efek buruk apapun tidak mau tahu. Itulah wajah asli dari sistem kapitalisme.


Apalagi bisnis global ini dilindungi oleh teknologi tinggi yang dimiliki negara adidaya seperti Amerika dan Cina. Gencarnya iklan produk-produk teknologi tinggi keluaran terbaru membuat para konsumen menjadi konsumtif. Yakni perilaku atau gaya hidup individu yang membelanjakan uang atau materi secara berlebihan untuk barang/jasa berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan dasar, tanpa pertimbangan yang matang. Perilaku ini sering ditandai dengan pembelian impulsif, mengejar gengsi, serta ketidakmampuan menahan diri dari godaan tren atau diskon.


Sebenarnya fenomena dampak buruk penggunaan media digital pada generasi bukan semata karena minimnya literasi digital individu. Namun, kita juga harus menyadari adanya hegemoni digital oleh negara kapitalis (AS) yang mencengkeram generasi muslim. AS menjajah umat Islam melalui ruang digital, yaitu melalui platform digital yang diakses setiap hari oleh generasi muda hingga memengaruhi pemikiran dan kepribadian mereka.


Bahaya besar mengintai generasi muda di ruang digital. AS sebagai negara adidaya kapitalis yang menguasai big data, leluasa menyebarluaskan ideologinya dengan algoritma. Algoritma mengikuti keinginan pasar yang dibentuk oleh negara pemegang kedaulatan digital (AS) sehingga algoritma akan didominasi nilai-nilai yang dianut sistem kapitalisme, yaitu sekularisme, liberalisme, hedonisme, pluralisme dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut membentuk opini, standar perilaku, serta gaya hidup sampai akhirnya menjadi identitas generasi muda kita. Perlahan generasi muda muslim pun kehilangan identitas islamnya.


Indonesia tidak akan berdaya menghadapi serangan digital ini, karena langkah membentengi tidak sepadan dengan masifnya invasi konten yang dihadapi generasi. Negara juga tidak membentengi generasi dengan kurikulum yang sahih yang melahirkan pribadi islami. Padahal kepribadian Islam ini adalah benteng paling kuat untuk menghadapi kemajuan teknologi apapun.


Untuk tujuan teknologi yang aman, selain diperlukan sistem yang sahih juga harus ada pemimpin yang amanah. Pemimpin ini hanya takut kepada Allah dan sadar bahwa kepemimpinannya itu akan dimintai pertanggungjawaban nanti di akhirat kelak, sehingga Ia akan mengurus rakyatnya sesuai syariah Islam.


"Imam (Khalifah) adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Al-Bukhari)


Generasi muda yang bertakwa dan berkepribadian Islam menjadi syarat utama yang harus diwujudkan agar mereka menjadi pelaku perubahan menuju peradaban Islam. Pendidikan agama di keluarga menjadi fondasi pertama dan utama. Dibutuhkan juga masyarakat islami yang melakukan amar makruf nahi mungkar untuk mewujudkan lingkungan yang islami. Namun, kedua hal tersebut hanya bisa terwujud jika ada peran negara sebagai perisai (pelindung).


Seandainya ketakwaan hadir pada ketiga pilar ini (individu, masyarakat, dan negara), literasi digital pun dapat dipahami dengan baik. Ini karena setiap orang yang bertakwa akan menjadikan halal dan haram sebagai standar dalam berperilaku. Setiap pengguna media digital yang bertakwa akan menggunakan prinsip literasi digital yang bersumber dari wahyu, yaitu berupa syariat Islam.


Negara yang menerapkan syariat Islam kafah akan menjadi negara yang berdaulat di dunia nyata maupun dunia maya. Penjagaan dan perlindungan umat, baik secara preventif maupun kuratif, bukan hanya diberlakukan oleh pemerintah Islam di dunia nyata, tapi juga dunia maya. Khilafah atau pemerintahan Islam akan membuat aturan dalam penggunaan teknologi digital untuk melindungi generasi, disertai dengan penerapan sistem pendidikan, dan sistem sanksi yang tegas.


Kedaulatan digital akan membuat pemerintah Islam mampu membuat platform digital baru yang sejalan dengan syariat. Sehingga mengarahkan potensi generasi muda untuk kemuliaan Islam dan kaum muslim. Ruang digital akan menjadi sarana dakwah di dalam negeri maupun ke luar negeri dan ke seluruh penjuru dunia sehingga terwujudlah Islam rahmatan lil alamin. Maka hal inilah yang harus menjadi konsentrasi umat Islam saat ini. Sangat jelas solusi semua masalah dalam kehidupan ini terutama di era digital yaitu penerapan syariat Islam secara kafah. Ketika Islam diterapkan di seluruh sektor maka kesejahteraan umat akan terasa nyata begitu pun keberkahannya.


Wallahu'alam bi ash-Shawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update