Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Urgensi Kedaulatan Energi: Lepas Dari Ketergantungan dan Panic Buying

Friday, March 13, 2026 | Friday, March 13, 2026 WIB

 


Oleh: suryani


Jakarta, CNN Indonesia – Panic buying bahan bakar minyak (BBM) melanda sejumlah negara di tengah perang iran melawan Amerika Serikat (AS) dan israel yang memicu lonjakan harga minyak dunia.


Medan, kompas – Antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU di kota medan, sumatera utara, jumat (6/3/2026). Warga rela mengantre lebih dari satu jam karena khawatir pada kabar tentang kelangkaan stok bahan bakar minyak akibat perang Timur tengah.


Bloomberg Technoz, Jakarta – Penutupan jalur perdagangan minyak dan gas di Selat Hormuz membuat harga minyak mentah melonjak tinggi. Pada saat bersamaan, kekhawatiran akan pasokan minyak mentah dan produk bahan bakar minyak (BBM) pun meningkat.


Jakarta (ANTARA) – Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN) mengimbau masyarakat untuk tidak panic buying bahan bakar minyak (BBM) akibat isu potensi gangguan pasokan energi akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.


Analisis:


Panic Buying bukan sekedar perilaku belanja berlebihan, melainkan respon defensif terhadap ketidakpastian. Ketakutan seringkali di picu oleh isu kenaikan harga atau kelangkaan stok yang tidak terverifikasi. Ketika otoritas gagal memberikan kepastian informasi secara cepat, spekulasi di media sosial mengambil alih kendali narasi.


Masyarakat menyadari bahwa kenaikan harga BBM akan diikuti kenaikan harga pangan dan transportasi. Membeli BBM sebanyak mungkin sebelum harga naik adalah upaya rasional individu untuk melindungi daya beli mereka.


Selain itu masyarakat ketika melihat antrean panjang di SPBU menciptakan tekanan psikologis. Seseorang yang awalnya tidak berniat mengisi bensin akan ikut mengantre karena takut kehilangan kesempatan.


Fenomena panic buying adalah alarm yang menunjukkan bahwa ketahanan energi kita masih rapuh. Kedaulatan energi menjadi urgensi nasional karena beberapa hal.


Pertama, selama kita masih bergantung pada impor minyak mentah atau BBM jadi, harga domestik akan selalu di ikuti oleh konflik geopolitik dan fluktuasi kurs mata uang. Kedaulatan berarti memiliki kendali penuh atas sumber dan harga energi sendiri.


Kedua, energi adalah kebutuhan dasar. Kelangkaan energi yang berlarut-larut dapat memicu kerusuhan sosial dan kerusuhan sosial dan mendelegitimasi kepercayaan publik terhadap pemerintah.


Ketiga, kedaulatan energi mendorong kemandirian industri. Dengan energi yang stabil dan terjangkau, biaya produksi menjadi lebih kondusif dibandingkan negara lain yang bergantung pada impor.


Kontruksi islam:


Dalam islam, fenomena panic buying dan kedaulatan energi dapat di analisis melalui kacamata Maqasid Syariah (tujuan syariat) dan etika distribusi kekayaan alam. Islam memandang energi sebagai bagian dari kepemilikan umum yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kontruksi, negara bertindak sebagai pengelola (wasilah) bukan pemilik mutlak. Maka kedaulatan energi dalam islam berarti negara wajib memastikan energi tersedia bagi seluruh rakyat tanpa hambatan distribusi atau monopoli ketidakpastian akibat konflik eksternal maupun internal. 


Panic buying mencerminkan hilangnya ketenangan batin dan sikap tawakal, sehingga seseorang cenderung mengikuti nafsu ketakutan mereka untuk menumpuk kebutuhan melebihi kebutuhan sebenarnya. Islam mengajarkan bahwa dalam setiap yang kita ambil secara berlebihan mungkin ada hak orang lain yang terhambat karena stok habis akibat keserakahan seseorang.


Sistem islam sangat kompleks dalam mengatasi sebuah permasalahan tidak hanya melihat dari sisi akar masalahnya tetapi juga memberikan solusi yang merata demi kemaslahatan ummat. Maka kita perlu tahu bahwa untuk menerapkan sistem islam secara kaffah atau menyeluruh maka di butuhkan khilafah segera sebagai solusi hakiki untuk menekan sistem sekuler-kapitalis yang menggerogoti manusia saat ini, dampak yang paling menonjol dari segi ekonomi.


Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update