Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Derita Sunyi Anak Gaza Tercabik Luka

Friday, June 12, 2026 | Friday, June 12, 2026 WIB

 


Oleh: Dwi Fitrah Insana Kakiet


"Tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma," kata psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, ke BBC Mundo.


"Ada lebih dari satu juta anak yang telah menderita trauma parah."


Katrin telah melakukan dua misi kemanusiaan ke Gaza pada tahun 2024 dan 2025 bersama Medecins Sans Frontires (MSF), untuk melayani anak-anak yang kehilangan kemampuan berbicara akibat konflik. (detiknews/30/05/2026)


Katrin tak mengetahui dengan pasti berapa banyak anak di Gaza yang berhenti berkomunikasi. Namun, Katrin mengaku menemukan puluhan kasus serupa di Gaza.


Dokter-dokter setempat mengatakan kepada jaringan Al Jazeera bahwa kasus seperti itu "jumlahnya terus meningkat."


Enam bulan pengumuman gencatan senjata di Gaza terlewati. Namun, kekerasan masih berlanjut dan "serangan-serangan Israel terus berlanjut secara rutin," kata Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, Volker Trk, April silam. (detiknews/30/05/2026)


Sedikitnya 846 orang, yang mencakup perempuan dan anak-anak, tewas di Gaza dalam rentetan serangan Israel sejak gencatan itu, menurut kementerian kesehatan setempat.


Sejak Oktober 2023, pasukan Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 20.000 anak di Gaza dan menyebabkan lebih dari 41.000 terluka, menurut UNICEF.

Secara total, serangan-serangan Israel menewaskan lebih dari 72.000 orang yang mayoritas warga sipil, dan melukai lebih dari 172.000, menurut kementerian kesehatan Gaza. (detiknews/30/05/2026)


BBC Mundo mewawancarai Katrin Glatz Brubakk tentang trauma yang menyebabkan anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara. (detiknews/30/05/2026)


Derita sunyi yang dialami anak2 Gaza hingga mereka kehilangan kemampuan bicara adalah dampak kejahatan entitas zionis yang terus menyerang, membunuh dan menghancurkan Gaza. 


Remuk hati saya rasanya saat menyaksikan dan mendengar bagaimana anak-anak kecil direnggut nyawanya pada saat mereka mencari air, sekedar untuk bertahan hidup. Remuk hati saya pada saat orang-orang mengaku paling bermoral memasuki rumah-rumah lalu menghancurkan perabotannya tanpa alasan dengan tertawa-tawa, sambil merampok dan melakukan pelecehan dan penindasan terhadap anak-anak yang begitu kecil. Remuk hati saya saat melihat anak-anak gaza tertimpa beton dari runtuhan rumah mereka, Remuk hati saya melihat anak-anak gaza yang seharusnya tersenyum ceria dengan boneka mereka tetapi menangis menjerit dengan linangan darah ditubuhnya. Remuk rasanya hati saya dengan ketakutan dan guncangan mental mereka ditengah-tengah suara bom yang bergemuru. Remuk rasanya hati saya melihat anak-anak yang seharusnya bersekolah dan bermain menikmati masa kecilnya kini di perlihatkan oleh kenyataan gelap nan sunyi suara rintih kesakitan, pilu dan dingin. 


Remuk rasanya hati saya saat masjid dan gereja yang berusia ratusanan dan bahkan ribuan tahun dihancurkan tanpa alasan apapun selain kebencian. Remuk hati saya saat orang-orang sebenarnya memiliki kemampuan untuk menghentikannya malah mengatakan yang bersalah adalah orang-orang palestina yang tidak mau tunduk ditindas. Mereka mengaku bahwa merekalah penjaga tatanan dunia dan bahwa merekalah pembawa kebebasan dan rahmat bagi semesta. 


Al-Qur'an, kitab yang saya imani. Mengingatkan kita pada semua tentang hal ini, "Dan apabila dikatakan kepada mereka: " Janganlah kalian membuat kerusakan dimuka bumi: Mereka menjawab, sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan".  


Di tengah-tengah kesempitan harapan itu, kita juga menyaksikan keajaiban pula pada sisi sebaliknya. Anak-anak yang disebut oleh perdana mentri Israel Benyamin Netanyahu sebagai "anak-anak kegelapan (Children of darkness" justru mengajarkan kita tentang cahaya rahmat yang sebenarnya. 


Kita lihat kondisi di Gaza kian hari makin mencengkam, anak-anak hidup dalam trauma parah di kondisi yang penuh ketidakpastian dam berlangsung lama. Anak-anak itu mengkhawatirkan nyawa mereka, hidup keluarga mereka, teman-teman dan orang yang mereka kasihi.

Reaksi dari tekanan itu berbeda di masing-masing anak. Beberapa menunjukan sikap gelisah, susah tidur, emosi, hingga berteriak. Dan, penderitaan seperti itu bisa dideteksi.

Namun, ada anak-anak yang bereaksi dengan membisu sepenuhnya. Seolah-olah sistem saraf mereka berkata: "Saya tidak kuat lagi".

Akhirnya, cara yang dilakukan untuk melindungi diri mereka adalah dengan menarik diri. Dan, bahasa adalah bagian dari hal itu.


Skenario genosida rakyat Gaza dilakukan untuk menghancurkan fisik dan mental. 


Apa itu Genosida? Menurut konvensi genosida ini adalah, kejahatan kemanusiaan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghancurkan, secara keseluruhan, maupun sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras, atau kelompok agama. 


Ini bisa dilakukan melalui: membunuh anggota-anggota kelompok yang menjadi sasaran, menyebabkan kerusakan fisik dan mental, secara sengaja menciptakan kondisi hidup diperhitungkan untuk menghadirkan kehancuran fisik secara penuh maupun sebagian. Dan tindakan untuk mencegah kelahiran dari kelompok-kelompok yang menjadi sasaran tersebut. Dan tentu zionis israel melakukan ini semua dengan suatu rencana yang menjijikan, sebuah skenario yang didukun oleh negara-negara sekutu israel.


Ini menjadi salah satu kedukaan kita sebagai manusia apalagi sebagai umat islam, tentu mengutuk keras zionis, Tragedi mematikan yang terjadi di gaza dengan begitu banyak korban fisik maupun psikis yang di alami anak-anak gaza.  


Apa yng dilakukan israel adalah sebuah genosida suatu bentuk kejahatan kemanusiaan yang di siarkan dengan langsung ke seluruh dunia. Kita dapat menyaksikan vidio-vidio yang merekam dengan jalas bagaimana israel melakukan kejahatan brutal. Kita menyaksikan bagaimana israel dengan darah dingin membunuh penduduk sipil yang sudah menyerah. Kita menyaksikan bagaimana israel menembaki para pengungsi yang mencoba menemukan makanan. Kita mem-follow akun-akun orang-orang palestina yang menceritakan bagaimana mereka menghadapi pengusiran dan bombardir terus-menerus, sampai saat mereka kemudiaan menyampaikan selamat tinggal karena dia akan segera dibunuh. Kalau kita masih manusia normal, kebrutalan itu tentu saja membuat hati kita tersentuh, sakit bahkan teriris-iris terhadap kekejaman itu.dengan kehancuran yang mereka buat yang kita saksikan dengan terang-benderang seperti itu. 


Umat Islam kehilangan perisai yang melindungi, yaitu Khilafah Islam. 


Pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenung dan bertanya kepada diri sendiri: ”Di manakah posisi umat Islam hari ini di hadapan dunia?” Ketika adzan berkumandang dan shaf-shaf shalat dirapatkan, di belahan bumi lain darah kaum Muslim justru tertumpah tanpa pembela. Tangisan dan jeritan anak-anak Gaza, seakan menggema, namun sering berlalu tanpa jawaban nyata.


Muslim yang memiliki kepekaan nurani dan ketajaman akal tentu bertanya: mengapa penderitaan umat seakan tak berujung? Padahal umat Islam berjumlah lebih dari dua miliar jiwa, dianugerahi kekayaan alam melimpah, posisi geografis strategis, serta potensi kekuatan besar jika disatukan. Dengan semua karunia itu, seharusnya umat Islam mampu menjadi kekuatan penentu dunia. Namun realitasnya, umat justru hidup lemah, terpecah, dan terus menjadi korban dominasi kekuatan imperialis Barat.

Akibat kehilangan perisai umat, di negeri-negeri Islam bermunculan para penguasa jahat yang merupakan para pelayan negara imperialis yang berperan penting menghancurkan Khilafah Islam dan tentu hari ini mereka juga menghambat kebangkitan khilafah sebagai satu-satunya negara islam yang akan menjadi perisai untuk seluruh alam baik manusia tampa pandang ras, etnis, dan kelas sosial, begitu pula hewan maupun tumbuhan semua akan merasakaan keberkahan dan rahmat yang diturunkan langsung dari Tuhannya.

Suaramu Ngaruh!


Perjuangan palestina adalah perjuangan kita semua, sebagai manusia yang memiliki nurani, secara naluriah kita memiliki pandangan yang jernih untuk membela mereka yang tertindas. 

Jangan percaya bahwa apa yang kita lakukan nggak ngaruh, penting untuk memahami bahwa setiap tindakan dan kebijakan dari individu atau kumpulan individu seperti negara, atau organisasi bahkan perusahaan, merupakan sesuatu yang tidak muncul dari ruang hampa. Ketika seorang pejabat seperti presiden As dan presiden indonesia maupun kepala negara-negara global membuat suatu kesepakatan yang lemah, sanggatlah berpengaruh terhadap ancaman maupun genosida berkelanjutan di gaza. Maka tentu kita sebagai muslim tentu tidak berdiam diri dengan hal itu, tentu perlunya sebuah strategi untuk selalu menyuarakan palestina dari cengraman zionis israel. 


Wallahu a’lam bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update