Oleh : Yusmi Ummu Nadia (Relawan Opini)
Seorang mahasiswi berinisial (F) menjadi korban pembacokan oleh mahasiswa berinisial (RM) di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Kamis pagi, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB. Aksi brutal ini berlangsung saat korban akan mengikuti seminar proposal. Korban dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka berat di bagian kepala. Petugas keamanan kampus berhasil menangkap pelaku dan menyerahkan ke Polsek Bina Widya, Kota Pekanbaru. Kepala Bidang Humas Polda Riau Kombes Zahwani Pandra Arsyad mengungkapkan kasus penganiayaan berat ini dilatarbelakangi motif hubungan pribadi. (MetroTv.com)
Sistem Sekuler Sebagai Biang Keladi
Pergaulan di tengah-tengah masyarakat kini kian rusak dan makin jauh dari aturan agama. Akar masalah dari semua ini adalah diterapkannya sistem sekuler di negeri ini. Hal ini mengakibatkan aturan agama tidak membolehkan untuk mengatur urusan kehidupan. Manusialah yang berhak mengatur urusan mereka sendiri. Standar penilaian baik dan buruk, manusialah yang memberikan, bukan Allah SWT. Dampaknya, muncul gaya hidup liberal, dimana orang bebas berbuat apapun karena kebebasan dianggap hak setiap manusia. Kebebasannya pun di lindungi oleh undang-undang. Akibatnya, kemaksiatan menjadi di normalisasi, laki laki dan perempuan, tidak ada batasan dalam bergaul.
Aktivitas pacaran dimaklumi. Padahal sangat jelas larangan Allah atas aktivitas yang mendeksti zina. Hal ini sydah Allah sampaikan secara tegas dalam QS Al-isra: 32
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
Belum lagi dalam sistem pendidikannya, pemerintah menjadikan kurikulum pendidikan hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik semata, sangat kurang dalam pembinaan karakter. Hal ini menyebabkan munculnya generasi-generasi, dewasa secara fisik namun kekanak-kanakan secara perilaku dan lemah secara emosional.
Islam Sebagai Solusi
Saatnya kita mengganti sistem sekuler kapitalis liberal dengan sistem kehidupan yang terbukti pernah melahirkan generasi emas di masanya, yakni sistem Islam. Sudah semestinya kita mengambil aturan hidup dari Sang Pencipta yang aturannya pasti benar dan membawa kebaikan bagi semua makhluk. Salah satu contoh Muhammad Al Fatih (Mehmed II), adalah sultan ketujuh Kesultanan Utsmaniyah yang terkenal sebagai penakluk Konstantinopel (sekarang Istanbul) pada tahun 1453, menjadikannya salah satu pemimpin Muslim paling berpengaruh yang berhasil menaklukkan ibu kota Kekaisaran Romawi Timur. Dikenal sebagai "Sang Penakluk," ia dikenal karena kepemimpinan militernya yang brilian, kecerdasan intelektual, dan kombinasi kekuatan spiritual serta material untuk mencapai kemenangan, mengubah Konstantinopel menjadi ibu kota baru Utsmaniyah.
Dengan penerapan syariat Islam, negara dalam konsep kepemimpinan Khilafah akan bertanggung jawab untuk semua urusan rakyat. Termasuk negara akan mengurusi generasi dengan sebaik-baiknya. Seperti memastikan penerapan sistem pendidikan yang tidak hanya terfokus pada pencapaian akademis saja, tetapi juga membentuk kepribadian Islami dalam diri tiap anak. Sehingga anak sejak awal sudah memiliki perilaku terpuji dan tidak pantang menyerah, siap mengarungi badai kehidupan.
Negara pun akan melahirkan berbagai regulasi yang menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan membawa pengaruh positif. Penerapan sistem Islam akan meniscayakan terciptanya masa depan gemilang, melalui perbaikan generasinya. Sedangkan sistem sekuler kapitalis sudah dipastikan tidak akan mampu melakukan perbaikan.
Menjauhkan generasi dari agama hanya akan membuka jalan kemaksiatan yang merusak generasi. Hanya dengan sistem Islam generasi muda akan tumbuh menjadi sosok pribadi yang beriman dan bertakwa. Generasi cemerlang yang akan mampu mengemban peradaban Islam yang mulia saat ini dan di masa depan. Sebagaimana tujuan penciptaan manusia
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku". (Adz-Dzariyat:56). Wallahu a’lam bishawab

No comments:
Post a Comment