Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

BoP Trump: Perdamaian Palsu di Tengah Derita Palestina

Saturday, March 14, 2026 | Saturday, March 14, 2026 WIB

 


Oleh Aas K

Aktivis Muslimah

Tragedi kemanusiaan di Gaza masih terus berlangsung. Dilansir media online CNN Indonesia.com pada hari Senin (23/2/2026)-Wilayah itu berada dalam kehancuran setelah serangan berulang dari Israel. Kelaparan meluas, ratusan ribu warga hidup di tenda-tenda pengungsian, dan aktivitas pendidikan praktis terhenti. Anak-anak yang seharusnya belajar di sekolah kini hidup dalam ketakutan dan keterbatasan. Kondisi ini menunjukkan betapa berat penderitaan rakyat Palestina akibat konflik yang terus berkepanjangan.

Di wilayah Tepi Barat, situasi tak kalah memprihatinkan. Kekerasan, penembakan, pembunuhan, serta penggusuran terhadap warga Palestina terus terjadi. Aksi tersebut dilakukan baik oleh tentara Israel maupun pemukim Israel yang makin agresif merampas tanah-tanah Palestina. Berbagai perjanjian damai yang pernah dibuat ternyata tidak mampu menghentikan kekerasan tersebut. Bahkan, Israel berkali-kali dituduh melanggar kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.

Dalam situasi seperti ini, muncul gagasan Board of Peace (BoP) yang digagas oleh Donald Trump. Namun, banyak warga Palestina memandang gagasan ini dengan skeptis. Selama ini, Amerika Serikat dikenal sebagai sekutu utama Israel dalam berbagai kebijakan politik dan militer. Bahkan di forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amerika Serikat sering menggunakan hak veto untuk melindungi Israel dari berbagai kecaman internasional.

Karena itu, banyak pihak menilai bahwa konsep BoP berpotensi menjadi alat legitimasi bagi kepentingan politik tertentu. Sebagian kalangan menilai gagasan tersebut dapat digunakan untuk membenarkan kebijakan yang berujung pada semakin terpinggirkannya rakyat Palestina, termasuk melalui penguasaan wilayah dan perubahan demografi yang merugikan mereka.

Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa proyek-proyek politik baru terkait Gaza dapat membuka jalan bagi skenario yang menguntungkan kepentingan geopolitik tertentu di kawasan Timur Tengah. Dalam perspektif ini, keterlibatan sejumlah penguasa di negeri-negeri Muslim dalam proyek tersebut dipandang oleh sebagian kelompok sebagai bentuk dukungan terhadap agenda yang tidak sepenuhnya berpihak pada rakyat Palestina.

Sebagian pihak juga menilai bahwa pembentukan berbagai lembaga atau struktur baru yang diklaim mewakili kepentingan Palestina perlu dikaji secara kritis. Mereka khawatir lembaga-lembaga tersebut justru tidak benar-benar mewakili aspirasi rakyat Palestina, melainkan menjadi bagian dari strategi politik yang lebih besar.

Dalam pandangan banyak kalangan Muslim, konflik Palestina bukan sekadar konflik politik atau wilayah, tetapi juga menyangkut keadilan dan kemanusiaan. Al-Qur’an mengingatkan umat Islam untuk tidak membiarkan pihak yang zalim menguasai orang-orang beriman, sebagaimana disebutkan dalam ayat:

“Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 141)

Karena itu, sebagian tokoh dan aktivis muslim menyerukan pentingnya persatuan umat Islam di seluruh dunia dalam membela hak-hak rakyat Palestina. Persatuan tersebut dipandang sebagai kekuatan moral dan politik yang dapat menekan berbagai bentuk penjajahan dan ketidakadilan.

Di tengah berbagai wacana perdamaian yang muncul, umat Islam diingatkan untuk tetap kritis dan tidak mudah percaya pada solusi yang dinilai tidak menyentuh akar persoalan. Perdamaian sejati, menurut pandangan ini, hanya dapat terwujud jika penjajahan berakhir, hak-hak rakyat Palestina dipulihkan, dan keadilan benar-benar ditegakkan.

Dengan demikian, tragedi yang terjadi di Gaza dan Tepi Barat bukan hanya persoalan regional, tetapi juga ujian bagi dunia internasional dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Masa depan Palestina sangat bergantung pada keberanian komunitas global untuk menghadirkan solusi yang benar-benar adil, bukan sekadar kesepakatan politik yang rapuh.

Wallahu a'lam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update