Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tragedi Pena dan Buku: Potret Gagalnya Sistem Pendidikan ala Kapitalis Sekuler

Thursday, February 26, 2026 | Thursday, February 26, 2026 WIB

 


Oleh: Kursiyah Azis ( Aktivis Muslimah)



Akhir Januari di tahun 2026, Seorang anak yang masih belia nekat mengakhiri hidupnya hanya karena tak mampu membeli buku dan pena. Di titik ini seharusnya menjadi peringatan keras terhadap para pembuat kebijakan, karena tragedi itu tak lagi bisa disebut musibah personal. Ini adalah kejahatan struktural. Sebab ketika kebutuhan paling dasar untuk belajar menjadi alasan kematian, maka yang sesungguhnya bangkrut bukan keluarga si anak, melainkan sistem pendidikan dan ideologi yang menopangnya. Yakni Kapitalis sekuler.


Dilansir dari Tirto.id (4/2/2026) Ditemukan sepucuk surat yang menjadi saksi bisu atas kepergian anak berinisial YRB (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, ia mengakhiri hidup diduga akibat ketidak mampuannya membeli buku dan pena.


Merespons tragedi ini, KPAI pun menggelar case conference bersama Kemendikdasmen pada hari yang sama dengan tujuan mendalami faktor ekonomi, pola asuh, hingga dugaan perundungan di lingkungan sekolah.


Peristiwa meninggalnya korban pun diketahui pada Kamis (29/1/2026) pukul 11.00 WIB di dekat pondok milik neneknya. Di sebuah pohon cengkih, korban ditemukan oleh neneknya yang hendak mengikat kerbau.


*Sistem Pendidikan ala Sekuler*


Sejatinya tragedi tersebut bukan soal air mata, melainkan ia soal tanggung jawab politik dan ideologis.

Pendidikan dalam Sistem Kapitalistik seringkali terkesan mahal, Kompetitif, dan Tak Berperikemanusiaan

Sistem pendidikan hari ini berdiri di atas logika kapitalisme yakni mengutamakan efisiensi, kompetisi, dan penghematan anggaran. Akibatnya anak diposisikan sebagai “peserta didik”, tapi disisi lain justru ia diperlakukan layaknya unit produksi. Siapa yang mampu mengikuti standar maka ia selamat, sebaliknya siapa yang miskin maka akan tersingkir secara halus, bahkan sampai kehilangan nyawa.


Buku dan pena seharusnya menjadi hak mutlak, tetapi dalam sistem ini malah berubah menjadi komoditas. Siapa punya uang, ia belajar. Siapa tidak, ia dipaksa menanggung malu, tekanan mental, dan stigma kegagalan. Di sinilah pendidikan kehilangan wajah manusianya.


*Negara Sekadar Regulator, Bukan Pelindung*


Negara dalam sistem sekuler-kapitalistik tak lagi berfungsi sebagai pelindung rakyat, melainkan sebagai pengelola anggaran dan administrator kebijakan. Tugas negara direduksi hanya cukup membuat aturan, lalu menyalurkan bantuan seadanya, kemudian merasa telah menunaikan kewajiban sepenuhnya.


Ketika seorang anak mati hanya karena pena dan buku, negara tak bisa bersembunyi di balik istilah “oknum”, “kasus individual”, atau “keluarga kurang mampu”. Ini adalah hasil langsung dari kebijakan yang abai, dari sistem yang memindahkan tanggung jawab negara ke pundak rakyat miskin.


*Maraknya Normalisasi Ketimpangan dan Kriminalisasi Kemiskinan*


Anak miskin seringkali dipaksa “memahami keadaan”. Mereka dituntut tabah, sabar, dan berjuang sendiri. Sementara itu, sistem terus memproduksi ketimpangan tanpa rasa bersalah. Kemiskinan bukan dihapus, tapi dinormalisasi sedemikian rupa.


Dan yang lebih kejam lagi, ketika anak gagal memenuhi tuntutan sekolah, secara otomatis ia akan dicap pemalas, bodoh, atau tak berprestasi. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah kriminalisasi kemiskinan dalam dunia pendidikan.


Olehnya itu, tragedi ini tidak bisa di sebut sebagai tindakan bunuh diri semata, tapi ini adalah bentuk Pembunuhan sistemik yang perlu ditegaskan dengan jujur dan keras bahwa sesungguhnya anak itu tidak “memilih mati”. Melainkan ia dipaksa oleh situasi yang diciptakan oleh sistem yang seringkali mengabaikan kebutuhan dasar pendidikan, dan menyerahkan beban kepada keluarga miskin, lalu mengukur keberhasilan dari angka dan peringkat.

Sehingga secara tifak langsung menghilangkan empati dari ruang belajar.


Dengan demikan, maka tragedi ini adalah pembunuhan sistemik, bukan sekadar bunuh diri sebagaiamana yang tampak.


*Pendidikan dalam Islam adalah Hak, Bukan Beban*


Islam memandang pendidikan sebagai hak dasar yang wajib dipenuhi negara, tanpa syarat kemampuan ekonomi. Negara bertanggung jawab penuh menyediakan berbagai fasilitas, baik itu berupa Pendidikan gratis dan berkualitas, Buku, pena, dan sarana belajar. Termasuk lingkungan pendidikan yang manusiawi dan penuh rahmah.


Dalam Islam, kelalaian penguasa terhadap kebutuhan dasar rakyat adalah kezaliman, dan kezaliman yang dibiarkan akan melahirkan kerusakan yang tak main-main pula termasuk hilangnya nyawa anak-anak.


Oleh karena itu maka, Tragedi pena dan buku bukan sekadar kisah pilu, tapi ia merupakan dakwaan terbuka terhadap sistem pendidikan sekuler-kapitalistik. Karena selama pendidikan masih tunduk pada logika pasar, selama negara masih bermental pengelola bukan pengurus, maka anak-anak miskin akan terus menjadi korban. Mungkin hari ini satu anak dan besok bisa siapa saja.


Dalam Islam, pendidikan bukan komoditas, melainkan ia adalah hak rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)


Negara dalam sistem Islam wajib menyediakan pendidikan gratis, Menyediakan fasilitas belajar seperti (buku, alat tulis, sarana sekolah) serta menjamin tidak ada anak yang putus sekolah karena kemiskinan.


Sebagaimana sejarah mencatat pada masa Umar bin Khattab, kebutuhan rakyat benar-benar diperhatikan. Bahkan orang yang kelaparan langsung disantuni dari Baitul Mal. Apalagi hanya sekadar pena dan buku , itu perkara kecil bagi negara yang bertanggung jawab.


Olehnya itu maka, jika sistem islam yang diterapkan dalam memgatur kehidupan otomatis akan terwujud keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali karena islam akan menerpkan larangan membiarkan Kemiskinan, apalagi sampai menghancurkan mental

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ .

“Hampir saja kefakiran itu membawa kepada kekufuran.”


Akibat kemiskinan yang tidak ditangani maka akan menghancurkan mental, harga diri, bahkan nyawa. Maka Islam tidak hanya menyuruh sabar, tetapi mewajibkan sistem yang menutup pintu kemiskinan ekstrem, selain itu sistem islam juga meniscayakan terwujudnya masyarakat wajib peduli terhadap sesama.

Islam membangun masyarakat yang saling menanggung. Jika ada anak tidak mampu beli pena maka tetangga harus peduli, sekolah harus membantu, masjid harus bergerak, dan Negara wajib turun tangan.Tidak boleh ada sikap “bukan urusan saya”. Sebab muslim satu dengan yang lainnya adalah bersaudara.


Olehnya itu maka, solusi agar tak terjadi tragedi serupa di butuhkan solusi sistemik, bukan sekadar bantuan sesaat,

sebab tragedi seperti ini bukan hanya masalah individu, tapi ia merupakan masalah sistem yang melegalkan pendidikan mahal, solidaritas sosial lemah, dan kekayaan yang berputar di kalangan tertentu. Ini semua sebagai buntut negara yang lepas tangan akan tanggung jawabnya sebagai pengurus rakyat. Sehingga dengan demikian kebutuhan akan hadirnya pemimpin yang amanah serta bertanggung jawab semakin menguat. Namun semua itu hanya dapat terwujud ketika sistem islam yang menjadi pengatur kehidupan. Wallahu alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update