Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pengkhianatan Dibalik Nama Perdamaian Semu

Tuesday, February 10, 2026 | Tuesday, February 10, 2026 WIB



Oleh. Hasna Husna Husniyah

(Aktivis Remaja)


Keputusan Indonesia bergabung dengan Board of Peace atau BoP menimbulkan kegelisahan serius di tengah masyarakat. Dilansir dari abc.net.au, 30 /1/2026 Presiden Prabowo Subianto mengumumkan keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) dalam kunjungannya ke Davos, Swiss, pada 22 Januari 2026. Publik mempertanyakan konsistensi sikap politik luar negeri Indonesia yang selama ini dikenal mendukung kemerdekaan Palestina, namun kini justru masuk ke dalam sebuah forum internasional yang dibentuk tanpa melibatkan Palestina sebagai pihak utama yang dizalimi. Lebih jauh, Indonesia harus membayar hingga satu miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar tujuh belas triliun rupiah demi mendapatkan keanggotaan tetap, sebuah harga yang dinilai tidak sebanding dengan manfaat yang dijanjikan.


Di ruang publik, kebijakan ini dipandang janggal dan melukai rasa keadilan masyarakat. Banyak yang menilai bahwa BoP bukanlah jalan menuju perdamaian sejati, melainkan instrumen politik global yang dikendalikan Amerika Serikat. Arah kebijakan BoP berada di bawah dominasi AS dengan kuasa veto, sementara figur Donald Trump dan lingkar kekuasaannya dikenal memiliki agenda terbuka terkait Gaza, mulai dari penguasaan wilayah, pengusiran penduduknya, hingga rencana pembangunan kawasan baru yang menghapus identitas dan hak rakyat Palestina. Fakta bahwa Palestina tidak dilibatkan secara nyata memperkuat kecurigaan publik bahwa BoP hanyalah kedok untuk melanggengkan kepentingan penjajah.


Opini masyarakat semakin mengeras karena melihat adanya kontradiksi antara narasi perdamaian dan realitas politik. Perdamaian sejati tidak mungkin lahir dari forum yang dikendalikan oleh pihak yang selama ini menjadi pelindung utama penjajahan Israel. Ketika Indonesia memilih masuk dan bahkan membayar mahal untuk forum semacam ini, publik menilai langkah tersebut bukan hanya keliru secara politik, tetapi juga mencederai amanat konstitusi untuk menentang segala bentuk penjajahan.


Dalam pandangan Islam, persoalan ini tidak berhenti pada kritik kebijakan, melainkan menyentuh wilayah akidah. Palestina adalah tanah yang diberkahi, tempat berdirinya Masjid Al Aqsha, dan penjagaannya merupakan kewajiban seluruh kaum Muslim. Islam dengan tegas melarang kaum Muslim menyerahkan urusan strategis kepada pihak yang memusuhi Islam dan menindas kaum beriman. Allah berfirman dalam penggalan ayat yang artinya, : “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (TQS : An Nisa : 141) Ayat ini menegaskan bahwa dominasi politik penjajah atas negeri dan keputusan kaum Muslim adalah sesuatu yang diharamkan secara prinsip.


Islam juga mewajibkan pembelaan nyata terhadap kaum Muslim yang tertindas. Allah berfirman yang artinya : “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa agar dikeluarkan dari negeri yang zalim.” (TQS An Nisa : 75) Ayat ini menunjukkan bahwa sikap pasif atau tunduk pada skema penjajah bertentangan dengan perintah Allah. Pembelaan dalam Islam bukan sekadar simpati atau forum diplomasi semu, tetapi tindakan politik yang berpihak dan bermartabat.


Rasulullah ﷺ juga menegaskan ikatan kuat antar sesama Muslim. Dalam hadits shahih riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa kaum Muslim itu satu tubuh, apabila satu bagian sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur. Hadits ini menegaskan bahwa penderitaan Palestina adalah penderitaan seluruh umat, dan tidak dibenarkan bagi kaum Muslim untuk berdiam diri atau mengambil kebijakan yang justru melemahkan perjuangan mereka.


Solusi hakiki atas penjajahan Palestina tidak akan lahir dari lembaga buatan negara adidaya, melainkan dari penerapan Islam secara kaffah. Islam menawarkan kepemimpinan politik yang mandiri, bebas dari tekanan Barat, dan berani menentang penjajahan dengan seluruh kekuatan yang dimiliki umat. Ketika umat Islam kembali menjadikan syariat Allah sebagai landasan kebijakan, maka pertolongan Allah adalah sebuah kepastian. Allah berfirman, “Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (TQS : Muhammad : 7)


Karena itu, umat Islam perlu meyakini bahwa perdamaian sejati Palestina tidak akan datang dari Board of Peace yang dikendalikan penjajah, tetapi dari kebangkitan umat yang kembali kepada Islam secara menyeluruh. Inilah jalan yang hakiki, bermartabat, dan dijanjikan kemenangan oleh Allah.


Wallahu'alam bi showwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update