Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Log Out Madilog, Selamatkan Pemikiran Generasi

Thursday, February 26, 2026 | Thursday, February 26, 2026 WIB


Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), adalah sebuah karya. Buah pemikiran Tan Malaka yang terbit pertama kali pada 1943 ini dianggap magnum opus (karya besar) dari Tan Malaka sebagai sintesis materialisme dialektis Marxis dan logika Hegelian (Wikipedia).

Patut diketahui Karl Marx dan Hegel adalah dua tokoh sentral peletak dasar teori sosialisme komunisme. Tan Malaka sendiri adalah tokoh yang terkenal dengan ideologi komunisme dan pernah dipilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1921.

Di sinilah titik kritisnya. Madilog bukan karya biasa. Namun karya seorang tokoh komunisme (sekalipun dalam bukunya, Tan Malaka mengaku muslim) yang berisi gagasan materialisme, dialektika, logika, dan anti-Tuhan. 

Tragisnya karya ini digandrungi generasi muda tidak terkecuali generasi muslim. Keterpesonaan mereka dengan gagasan madilog yang mengajak pembacanya berpikir rasional dan kritis yang relevan dengan Islam dalam hal keadilan dan kemajuan menyusutkan pemikiran yang mengarahkan pada isi madilog yang jika didalami ada keengganan dengan konsep dalam Islam terkait syari'at .

Mereka memandang manifesto intelektual dalam madilog bertujuan untuk membebaskan sekaligus membentuk cara berpikir generasi mendatang. Pemikiran Tan Malaka tentang materialisme, dialektika, dan logika dianggap memberikan panduan berharga dalam menghadapi tantangan zaman modern. Cukup menarik bagi generasi yang haus akan perubahan.

Kritikan Tan Malaka terhadap logika mistika begitu panjang. Logika mistika dianggap sebagai konsep keyakinan yang melekat pada seseorang berdasarkan pada dogma-dogma dari ayat suci Maha Dewa yang berkuasa. Narasi ini dibangun oleh Tan Malaka melalui cerita tentang Dewa Rah dalam keyakinan Mesir kuno yang dianggap sebagai Maha Dewa yang mencipta dan menguasai alam semesta. Berbagai contoh logika mistika ditulisnya sebagai penghalang kemajuan suatu bangsa. Sebagai contoh adanya angan-angan keberhasilan jika beriman kepada sebuah keyakinan menyebabkan kemalasan dalam bekerja.

Terkait logika mistika ini, sebagian berpendapat bahwa logika mistika terkait fenomena kepercayaan banyak masyarakat Indonesia terhadap hal klenik, berupa santet dan perdukunan, yang menurut mereka sebagai penyebab Indonesia tidak menjadi negara maju. Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa logika mistika terkait kepada fenomena meningkatnya ketaatan masyarakat terhadap agama, termasuk Islam.

Dari sini kita butuh kehati-hatian dan perhatian. Jika logika mistika dalam Madilog bukan hanya tentang klenik atau jimat, tetapi justru lebih banyak tentang agama, terutama Islam karena Islam merupakan agama berbasis wahyu dan meyakini perkara yang gaib. Maka meluruskan cara pandang generasi agar tidak terjebak narasi Tan Malaka yang tidak terlepas dari keyakinannya pada materialisme, dialektika, dan logik (Madilog) harus segera dikritisi. Bahkan di log out.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Islam, materialisme merupakan akidah dari ideologi sosialisme-komunisme. Materialisme memandang bahwa materi adalah asal dari segala sesuatu. Melalui perkembangan dan evolusi (dialektika) materi, materi benda-benda lainnya menjadi ada. Jadi, di balik alam materi tidak ada alam lainnya. Materi bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir) dan kadim (terdahulu), materi tidak ada yang mengadakan, artinya wajibul wujud (wajib adanya). Penganut ideologi ini mengingkari penciptaan oleh Zat Yang Maha Pencipta. Mereka juga mengingkari aspek kerohanian dan beranggapan bahwa pengakuan adanya aspek rohani merupakan sesuatu yang berbahaya bagi kehidupan. Agama dianggap sebagai candu yang meracuni masyarakat dan menghambat pekerjaan.

Oleh karena itu harus ada koreksi terhadap pandangan yang mengategorikan keimanan seorang muslim kepada hal gaib sebagai logika mistika hanya karena keimanan tersebut bersandar pada hal yang transenden. Islam tidak menempatkan kepercayaan pada hal gaib itu sebagai mitos, tetapi sebagai bagian dari epistemologi wahyu yang terverifikasi. Kebenarannya telah dibuktikan secara rasional dengan proses berpikir. Lalu akankah generasi dibiarkan terjebak dengan konsep yang ditawarkan madilog Tan Malaka? Tentu tidak. 

Generasi muda muslim harus memiliki cara pandang yang benar, bukan pada konsep materialistis yang menjebak mereka hanya berorientasi pada dunia semata. Memutus rantai kehidupan setelah kematian, hingga mereka hanya mengukur keberhasilan materi sebagai capaian tertinggi. Jangan sampai cara pandang ini membalikkan pada kehancuran sebagaimana hancurnya peradaban tanpa Islam. Naudzubillaahi min dzaalik.

Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update