Oleh: Dwi Fitrah Insana Kakiet
Fenomena hikikomori menarik perhatian global. Hal ini bermula di negara sakura, Jepang. Sebuah kebiasaan menarik diri dari kehidupan sosial, di mana seseorang mengurung diri di rumah atau kamar selama enam bulan atau lebih tanpa bekerja, sekolah, atau berinteraksi dengan orang lain. (Invoice Indonesia, 2025)
Istilah hikikomori sendiri mulai populer di akhir tahun 1990-an. Kata ini berasal dari bahasa Jepang: hiku yang berarti menarik diri dan komoru yang berarti bersembunyi atau mengurung diri. Jadi secara harfiah, hikikomori menggambarkan seseorang yang memilih menjauh dari kehidupan sosial lalu tenggelam dalam dunianya sendiri. (Halodoc, 22/7/2025)
Istilah ini dipopulerkan oleh seorang psikiater Jepang bernama Tamaki Saito lewat bukunya yang membahas remaja yang mengisolasi diri dari masyarakat.
Fenomena ini awalnya dianggap "aneh khas Jepang". Namun ternyata banyak negara mulai mengalami gejala serupa, termasuk di negeri kita. Hikikomori kini mulai ditemukan di Indonesia dan menjadi perhatian karena berkaitan dengan kesehatan mental, isolasi sosial, serta pola interaksi generasi muda di era digital. (National Geographic Indonesia, 09/05/2026)
Mungkin tidak selalu tampak dalam bentuk seekstrem mengunci diri bertahun-tahun. Namun gejalanya dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak remaja lebih nyaman di kamar daripada di ruang keluarga, dengan pintu kamar tertutup, lampu redup, headset terpasang di telinga. Jari yang sibuk scroll layar gadget tanpa henti. Lebih betah ngobrol di grup chat daripada ngobrol dengan orang tua. Lebih terbuka dengan teman online daripada keluarga sendiri. Ini awal terbentuknya generasi dekat di mata tetapi jauh di hati (secara emosional). Fatal!
Karena itu, menjaga generasi saat ini, khususnya anak remaja, tidak bisa dibebankan hanya kepada orang tua. Seorang guru juga punya peran yang cukup penting. Sekolah dan rumah harus menjadi dua tempat ternyaman bagi anak, tempat orang-orang memberikan dukungan, tempat tumbuh dan membentuk mental serta karakter tangguh bak baja, tempat segudang solusi maupun saran didapati. Tempat terhangat dan penuh cinta.
Sebab banyak anak sebenarnya bukan malas. Mereka hanya lelah. Banyak yang bukan pembangkang. Mereka hanya bingung dan merasa sendiri. Maka orang tua adalah tempat pulang yang hangat, bukan tempat yang dingin penuh ego, penghakiman, perbandingan, dan ambisi. Orang tua mempunyai tangan dan pundak untuk merangkul dan memeluk seorang anak. Mendengar tanpa buru-buru menghakimi, menerima pendapat anak, dan menyampaikan saran secara bijak serta penuh cinta. Karena remaja yang merasa dimengerti lebih mudah diarahkan pada potensi besarnya. Mereka kreatif, cepat belajar, dan penuh ide. Punya energi untuk berkarya dan memberikan manfaat. Maka tugas orang tua bukan membuat mereka sekadar sibuk, tetapi membantu mereka merasa dihargai, didengar, dan memiliki tujuan hidup.
Islam sendiri mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Sehingga mengurung diri dari lingkungan sosial secara tidak langsung dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan hakikat ajaran Islam yang menuntut umatnya aktif bersosialisasi, bermanfaat bagi sesama, serta menjaga kesehatan fisik dan mental.
Konsep ruhbaniah yang dilarang menunjukkan bahwa Islam melarang umatnya mengasingkan diri dari kehidupan dunia secara ekstrem, yakni beruzlah tanpa batas waktu hingga meninggalkan kewajiban sosial. Mengurung diri membuat seseorang tidak dapat menjalankan amar makruf nahi mungkar, fungsi dakwah, menuntut ilmu, maupun berinteraksi sosial dengan keluarga, kerabat, dan masyarakat. Kesehatan tubuh dan jiwa adalah amanah. Mengurung diri hingga memicu stres, depresi, atau kecanduan digital bertentangan dengan tujuan menjaga jiwa (hifz an-nafs). Islam sangat menekankan pentingnya silaturahmi, komunikasi yang baik dalam keluarga, dan saling tolong-menolong.
Maka dari itu, remaja harus dibimbing menjadi generasi yang kuat mentalnya, hangat hubungan keluarganya, sehat interaksi sosialnya, dan aktif berkontribusi untuk umat. Karena masa depan bangsa dan cita-cita agama ini bukan dibangun oleh generasi hikikomori, tetapi generasi yang hatinya hidup membara penuh juang, pikirannya tumbuh penuh dengan ide-ide berlian, dan langkahnya bagai para sahabat dan sahabiah yang membawa manfaat hingga akhir hayat.
Wallahu'alam.

No comments:
Post a Comment