Oleh. Susanti
Komunitas Muslimah Coblong
Pada Rabu (4/2/2026), militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menggempur habis-habisan Jalur Gaza, Palestina. Imbas dari kejadian tersebut mengakibatkan 23 orang tewas, termasuk anak-anak. Secara lebih rinci, 14 orang tewas akibat serangan artileri Israel di lingkungan Tuffah dan Zeitoun di Kota Gaza, sedangkan empat lainnya dilaporkan tewas dalam serangan di kamp pengungsi Qizan Abu Rashwan.
Sejak gencatan senjata diterapkan pada Oktober lalu, pasukan Israel telah membunuh 520 warga Palestina. Sebelum gencatan tersebut, Israel telah meluncurkan agresi ke Gaza sejak Oktober 2023 yang mengakibatkan lebih dari 70.000 warga Palestina tewas dan jutaan orang terpaksa mengungsi.
Faktanya, gencatan senjata dan apa yang disebut sebagai Board of Peace (BOP) ditawarkan oleh para penjajah sebagai solusi perdamaian bagi Palestina. Namun dalam kenyataannya, pelanggaran gencatan senjata terus-menerus dilakukan oleh zionis Israel. Sayangnya, dunia seolah terlalu naif dan percaya pada janji-janji yang diinisiasi oleh penjajah tersebut, meskipun realitasnya justru berbanding terbalik dengan perdamaian.
Pembentukan BOP dan narasi gencatan senjata yang dibuat oleh AS hanyalah sandiwara untuk melakukan kolonialisme atau penjajahan gaya baru guna melanggengkan kekuasaan atas tanah Palestina. Mirisnya, penguasa negeri-negeri Muslim seakan tidak memiliki keberanian untuk melawan. Mereka cenderung tunduk dengan dalih menjaga keamanan negeri masing-masing dan mencegah meluasnya perang, bahkan ikut mendukung skema BOP tersebut.
Padahal dalam sejarah, umat Islam di seluruh dunia digambarkan bagaikan satu tubuh. Jika salah satu bagian terluka, bagian lainnya akan merasakan sakit dan saling melindungi. Begitu pentingnya peran Masjidilaqsa dan Palestina bagi umat Islam. Selain sebagai tempat peristiwa Isra Mikraj, Masjidilaqsa adalah masjid suci yang pernah Allah tetapkan sebagai kiblat pertama kaum Muslim sebelum dipindahkan ke Masjidilharam.
Sejarah perpindahan kiblat (Tahwil al-Qiblah) terjadi dalam dua masa. Pertama, diperintahkan dari Ka'bah ke Masjidilaqsa hingga zaman Nabi Isa AS. Kedua, pada masa Rasulullah saw, Allah memerintahkan kiblat kembali ke Ka'bah hingga saat ini.
Maka dari itu, gencatan senjata dan terbentuknya BOP bukanlah solusi sejati bagi pembebasan Palestina. Umat Islam harus memiliki sikap tegas, mandiri, dan tidak menjadi antek asing yang toleran terhadap narasi palsu para penjajah. Persatuan umat dalam kepemimpinan politik sangat dibutuhkan untuk melawan hegemoni penjajahan dan melepaskan diri dari sistem yang cacat.
Kunci pembebasan yang sebenarnya adalah dengan memahamkan umat serta penguasa Muslim untuk berani melakukan jihad fii sabilillah dan menyatukan kembali negeri-negeri Muslim di bawah naungan kepemimpinan khilafah.
Wallahua'lam bissawab

No comments:
Post a Comment