Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kasus Bunuh Diri Marak, Buah Sistem yang Rusak

Friday, February 13, 2026 | Friday, February 13, 2026 WIB


Ummu Junnah

Praktisi Kesehatan


Kembali masyarakat  dikejutkan dengan berita anak SD gantung diri karena tidak mampu beli Alat tulis, Siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), YBR (10), tewas gantung diri lantaran orang tuanya tak mampu membelikan buku tulis dan pulpen. Sebelum tragedi  tersebut, YBR dan siswa lainnya berkali-kali ditagih uang oleh sekolah sebesar Rp1,2  juta.


Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyoroti kasus anak Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) gantung diri. YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen. Namun, ibunya tak dapat memenuhi karena tak memiliki uang. (Liputan6.com)


Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, menilai kasus tersebut menjadi atensi Kementerian Sosial. Pihaknya bersama pemerintah daerah akan memperkuat pendampingan untuk kelompok tidak mampu, agar kejadian serupa tak terulang. 


Kasus bunuh diri anak hingga remaja dengan latar belakang yang sama tidak terjadi kali ini saja. Menurut data pusiknas polri sekitar kurang lebih 270 kasus bunuh diri ditangani polri sejak Januari hingga awal 2026. Rata-rata lebih dari 100 kasus setiap bulannya. 


Dengan demikian kasus ini bukan hanya kasus individual semata melainkan kegagalan sistemik yang menempatkan pendidikan sebagai beban negara bukan hak dasar yang dijamin kebutuhannya. 


Ketika alat tulis saja menjadi pemicu alasan anak untuk mengakhiri hidupnya maka ada yang salah dalam tata kelola pendidikan saat ini. 


Pendidikan yang seharusnya menjadi hal dasar menjelma menjadi barang mewah. Akses pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan ekonomi bukan kebutuhan anak. 


Negara cenderung melempar beban pendidikan kepada keluarga, dengan dalih keterbatasan anggaran kalaupun tersedia bantuan prosedurnya berbelit-belit, seleksi dan mekanismenya ketat. 


Alih-alih terjamin pendidikan di negeri ini, malah semakin tidak terjangkau oleh rakyat kecil di berbagai pelosok negeri.


Inilah ciri khas pelayanan pendidikan yang menerapkan sistem kapitalisme saat ini, seperti kebutuhan dasar publik disesuaikan mengikuti kemampuan keuangan. 


Jika terjadi masalah, negara akan hadir dengan sikap reaktif, negara akan bergerak ketika terjadi tragedi. Itupun hanya sekedar formalitas tanpa menyentuh akar persoalan. 


Masalah mendasar tentang komersialisasi pendidikan dan ketimpangan ekonomi dan lemahnya tanggung jawab negara diabaikan, akibatnya problem pendidikan terus berulang dalam bentuk dan kasus yang berbeda seperti putus sekolah, tekanan mental hingga tragedi bunuh diri yang seharusnya tidak pernah terjadi. 


Pandangan Islam


Kondisi ini berbeda ketika IsIam dijadikan sebagai panduan hidup. Islam memandang pendidikan sebagai pintu utama manusia untuk mendapatkan ilmu. Dengan ilmu,  manusia mampu bebas dari kebodohan dan  menuntunnya keluar dari kekufuran. 


Mampu memahami hakikat Penciptanya, membedakan antara haq dan batil serta menjalankan kehidupan  sesuai dengan syariat Islam. 


Dengan demikian,  pendidikan bukan hanya sekedar aktivitas teknis pengajaran melainkan penjagaan akal yang mempunyai tujuan pokok syariat. 


Pendidikan dalam IsIam diposisikan sebagai hak dasar rakyat, bukan dikomersilkan seperti saat ini. Hal ini tercermin dalam kebijakan Rasulullah saw. pasca perang badar, beliau menetapkan tawanan perang bisa menebus dirinya dengan mengajarkan baca tulis kepada anak-anak kaum muslimin. 


Hal ini menunjukkan bahwa sebagai kepala negara IsIam di Madinah Rasulullah saw. menjamin pendidikan secara langsung diselenggarakan oleh negara. 


Dalam negara khilafah yang diwarisi oleh Rasulullah saw., negara sebagai raa'in (pengurus rakyat). Negara menyediakan pendidikan secara gratis baik miskin maupun kaya dengan kualitas yang sama. Sarana dan prasarana disediakan mulai dari gedung, perpustakaan, alat tulis dan kebutuhan pendidikan lainnya dengan kualitas terbaik. 


Pelayanan pendidikan tidak hanya terpusat di kota-kota besar saja, akan tetapi menjangkau desa-desa dan wilayah terpencil yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah. 


Inilah bukti keagungan Islam ketika syariatnya diterapkan oleh negara. Maka, perlu bukti apa lagi? Bahwa Sistem yang diterapkan saat ini yaitu kapitalisme sekuler telah mendatangkan berbagai kerusakan yang menyeluruh dalam kehidupan.


Wallahu alam bishshawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update