Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Judol–Pinjol: Perangkap Digital Generasi Muda

Friday, February 06, 2026 | Friday, February 06, 2026 WIB

 


Oleh : Anti


Kondisi generasi muda hari ini sangat memprihatinkan.  Pemuda hari ini dengan ekonomi terbatas mudah disasar iklan judol dan pinjol karena kerja algoritma. Algoritma platform media sosial mampu menyimpulkan status sosial ekonomi pengguna dari jejak digital mereka. Termasuk alamat dan perilaku daring yang  menampilkan iklan yang sesuai dengan kerentanan mereka. Mengingat  anak muda dari keluarga kurang mampu memiliki keinginan kuat untuk mobilitas sosial, mereka menjadi sasaran utama iklan yang menjanjikan penghasilan cepat, meskipun berisiko tinggi.


Kaum muda dengan sumber daya keuangan yang lebih terbatas. Terutama anak laki-laki  menjadi pihak yang paling terpapar algoritma iklan tentang cara menghasilkan uang dengan mudah. Tetapi penuh risiko, seperti pinjaman dan judi daring. Sementara itu, jenis iklan yang sering muncul untuk kaum muda kelas atas adalah yang terkait perjalanan dan rekreasi. 


Hal ini diungkap dalam penelitian Carolina Saez-Linero dan Monika Jimenez-Morales dari Communication, Advertising and Society (CAS), Universitas Pompeu Fabra (UPF), Barcelona, yang dilaporkan di Communication & Society dan dirilis pada Rabu (3/12/2025). Isabel Rodríguez de Dios (Universitas Salamanca) juga turut berkolaborasi dalam studi ini. (Tim Kompas, 05/12/2025)


Perempuan asal Semarang, Jawa Tengah, misalnya tergiur iklan diskon harga tiket pesawat. Sementara tanggal gajian masih jauh. Tanpa berpikir panjang, ia mengajukan permintaan pinjaman di platform teknologi finansial. Caranya mudah dan cepat. Hanya dengan mengunggah foto diri dan kartu tanda penduduk, dia bisa mencairkan dana pada hari yang sama. Sejak saat itu,  seperti ketagihan. Ia bolak-balik berutang melalui aplikasi pinjaman online alias pinjol. Bahkan ke tiga-enam platform pembiayaan sekaligus. Dana pinjaman dipakai untuk hal-hal konsumtif, seperti berbelanja, makan, berlibur, sampai menonton konser. Tak terasa, utang telah menumpuk. Cicilan bulanan sudah melampaui gaji. (Tempo, 05/12/2025)


58% Gen Z menggunakan pinjol untuk kebutuhan gaya hidup dan hiburan. Riset Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menemukan 58 persen Gen Z memanfaatkan pinjaman online (pinjol) untuk kebutuhan gaya hidup serta hiburan. Temuan itu disampaikan Ketua Program Studi Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi Unpar, Dr Vera Intanie Dewi. Untuk itu, mahasiswa seharusnya mulai melatih kemampuan mengelola uang sebelum masuk ke dunia kerja. 


Minim Dana Darurat Riset yang sama mengungkapkan persoalan lain terkait perencanaan keuangan. Sebanyak 61,7 persen usia 17–40 tahun tidak memiliki dana darurat, sementara 67 persen masyarakat Indonesia baru mulai merencanakan dana pensiun lima tahun menjelang masa pensiun. Vera menambahkan, survei juga mencatat 54 persen milenial meminjam melalui pindar untuk membiayai kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini menunjukkan masyarakat masih belum mencapai tingkat kesejahteraan finansial yang ideal. Pinjaman Ilegal Masih Marak Vera menegaskan tujuan financial well-being makin sulit diraih karena beberapa faktor, mulai dari daya beli yang tergerus hingga maraknya pinjaman ilegal. 


Otoritas Jasa Keuangan (OJK),  menghentikan 11.388 entitas pinjaman ilegal sepanjang 2017–2024. Situasi tersebut menunjukkan sebagian masyarakat masih bergantung pada pinjaman untuk kebutuhan hidup. 

Kampus Jadi Sasaran Edukasi Keuangan Asisten Direktur Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Jawa Barat. Tujuan besarnya, para generasi masa depan ini paham dan terampil mengatur keuangannya agar hidupnya berkualitas. Seminar tersebut juga mendorong mahasiswa memahami strategi pengelolaan uang hingga menjadi debitur yang bijak dan tidak mudah terjebak scam. 


Sementara itu, Head of Collection Operation Home Credit Indonesia, Andri Maulana, menyampaikan bahwa pihaknya telah menjalankan edukasi perencanaan keuangan sejak 2015. Lebih dari 56 kelas di banyak kota se-Indonesia dengan peserta sedikitnya 17 juta orang. Kami berharap anak muda bisa memanfaatkan produk dan layanan keuangan dengan bijak dan cermat. Agar bisa membangun pondasi finansial yang baik sehingga masa depan aman dan goals hidup tercapai.


Akar Masalah


Kehidupan ini senantiasa berurusan dengan ekonomi dan sebagai penunjang hidup. Karena ekonomi tersebut menjadi masalah jika tidak teratur. Himpitan ekonomi yang lahir dari sistem Kapitalisme mendorong sebagian anak muda terjerumus ke judol dan pinjol sebagai jalan pintas. Anak muda hari ini karena adanya tekanan sosial ekonomi sehingga memaksa untuk menggunakan judol untuk memenuhi kebutuhan, ini juga di picu ketidak adannya lapangan kerja yang mumpuni untuk mencukupi kebutuhan hidup.


Adapun pekerjaan upah gaji yang dindapatkan tidak mampu menopang kebutuhan ekonomi harian karena harga jual beli melonjak naik sedangkan gaji tidak berubah. Di tambah lagi gaya hidup hari ini mengikuti tren yang di butuhkan adalah ekonomi tentunya uang. Gaya hidup di sistem sekuler yang menjadi patokannya adalah fomo atau ikut-ikutan tren. Ketika ada yang lagi tren maka mengikutinya adalah sebuah kebagusan dan mesti di penuhi.


Gaya hidup tersebut mengantarkan pada minat untuk melakukan peminjaman onlien yang memudahkan memenuhi gaya hidup tersebut. Sehingga sistem hari ini dinilai membuka seluas-luasnya pada masyarakat untuk jatuh pada kesengsaraan dan jauh dari aturan Allah. Gaya hidup generasi hari ini tidak berstandart pada islam sehingga mengikuti tren atau fomo adalah hal biasa. Ketika gaya hidup tergantung fomo maka akan berdampak pada tekanan hidup berindikasi pada ekonomi. Minimnya ekonomi yang dimiliki sehingga memaksa diri dengan melalukan peminjaman online dengan proses yang mudah dan instan. 


Gaya hidup tersebut di akibatkan jauhnya generasi dari pemahaman islam. Pemahaman islam ini juga di sebabakan tidak adanya didikan dari orang tua, lingkungan apalagi negara. 

Negara gagal melindungi generasi. Nilai-nilai sekuler dan materialis dalam sistem pendidikan dan lingkungan masyarakat membuat generasi rentan pada tindakan spekulatif dan berisiko.


Terlebih  negara memandang masyarakat hanya sebagai alat untuk menghasilkan keuntungan. Tanggung jawab negara bukan sebagai pelindung, pengayom melainkan sebagai penguasa yang berkuasa terhadap rakyat. Rakyat di perlakukan seperti budak. 


Di tambah Ruang digital yang dikuasai logika Kapitalisme menjadikan platform (lewat algoritmanya) berfokus pada kebiasaan. Bukan keselamatan pengguna, semata-mata demi mendapatkan keuntungan dan menjadikan generasi sebagai pasar. Meraup keuntungan dangan melalui ruang digital sangat menjanjikan bagi penguasa kapitalistik karena masyarakat banyak menggunakan media digital.


Sistem Islam adalah solusi 


Dalam sistem Islam akan di terapkan sistem ekonomi Islam yang akan menjamin kesejahteraan seluruh rakyatnya (individu per individu), termasuk generasi. Khilafah akan mensejahterakan rakyat dengan menerapkan sisem ekonomi islam. Salah satu wujudnya adalah pengelolaan kekayaan alam (tambang, hutan, laut, dll) oleh negara. Sedangkan hasilanya di berikan pada rakyat berupa layanan public yang berkualitas dan gratis. Negara juga membuka lapangan pekerjaan secara meluas sehingga tidak ada laki-laki dewasa yang menganggur dengan gaji yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. 

Pendidikan Islam membentuk kepribadian Islam generasi sehingga menyandarkan perbuatannya pada halal-haram, bukan manfaat materi. 


Dalam islam negara akan membentuk benteng ketakwaan pada indidvidu melaui sistem pendidikan berbasis akidah islam. Khilafah akan Membangun kepribadian islam, pola piker (akliah) dan jiwa (nafsiah) bagi umat, yaitu dengan cara menanamkan tsaqofah islam untuk membentuk diri kegerasi. Infrastruktur digital dalam Khilafah dibangun di atas paradigma Islam, sehingga mampu melindungi generasi dari konten merusak, normalisasi maksiat, dan kriminalitas. 


Digital dan website nya akan diawasi oleh tim siber khilafah sehingga tidak ada konten judol dan pinjol yang mencul. Pelaku judol dan pinjol dan bandarnya akan di hukum dengan tega sehingga akan jera.


Generasi Muslim harus memahami identitasnya sebagai Muslim dan sebagai pembangun peradaban melalui pembinaan Islam dan aktivitas dakwah bersama kelompok dakwah Islam ideologis. urgensi ideologi sebagai jalan perubahan, ideologis bukan sekedar penguatan iman atau suntukan motivasi spiritual. Ia adalah proses istemik untuk membangun cara berfikir, cara menilai, dan cara bergerak berdasarkan akidah islma.


Tanpa landasan ideologis maka menumbuhkan manusia yang perilaku fomo dan juga arah hidup tidak jelas. Ideologis akan menjadi benteng yang membuat generasi muda mampu membaca realita logaritma media dan bisa memfilter apa saja yang mereka ikuti. Mereka harus paham dengan pengaturan media hari ini bahwa pemegang utamanya adalah kendali sistem kapitalisme. 


Wallahu A'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update