Ani Hayati (Ummu Rozan)
Apa itu Board of Peace? Board of Peace (BoP), atau Dewan Perdamaian, merupakan organisasi yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menyampaikan optimisme kuat terhadap tercapainya perdamaian di Gaza usai menandatangani Board of Peace (BoP) Charter yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tersebut. Optimisme tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam keterangannya kepada awak media di Davos, Swiss (setkab.go.id. 22/01/2026).
Sejalan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang buka suara mengenai iuran yang harus dibayarkan Indonesia secara suka rela setelah bergabung Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian. Besaran iuran yang harus dibayarkan Indonesia disebut mencapai US$ 1 miliar atau setara Rp 16,7 triliun untuk memperoleh keanggotaan tetap. (cnbcindonesia.com 01/29/2026).
Dari fakta diatas, apakah Indonesia bergabung dengan BoP dapat menyelasaikan masalah antara Israel dan Palestina? Ataukah justru menambah masalah baru dengan membayar US$ 1 miliar dengan tumbal APBN negara, kemudian Indonesia hanyalah pengikut karena arah BoP dikendalikan oleh Trump (AS) dengan kuasa hak veto.
Ini jelas bahwa Indonesia tidak dapat memberikan pengaruh besar terhadap BoP, tetapi justru BoP dibentuk bukan untuk perdamaian Palestina, bahkan didalam program tersebut Palestina tidak dilibatkan sama sekali.
Sebaliknya, BoP sejatinya bagian dari kepentingan geopolitik dan ekonomi AS. Pemerintah AS mengumumkan rencana mereka membangun “Gaza Baru” yang pada hakikatnya adalah pembangunan dari nol wilayah Palestina yang telah hancur akibat genosida oleh Zionis sejak 7 Oktober 2023.
BoP dibentuk bukan untuk perdamaian Palestina (bahkan Palestina tidak dilibatkan sama sekali), melainkan untuk kepentingan geopolitik dan ekonomi AS. Trump ingin menguasai Gaza, mengusir penduduknya, dan membangun Gaza Baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara, dan menara apartemen.
BoP justru ditujukan untuk menghancurkan Palestina. Keberadaan negara-negara muslim (termasuk Indonesia) hanya menjadi pelengkap legitimasi. BoP adalah alat untuk merealisasikan 20 poin rencana Trump atas Gaza.
Keikutsertaan negeri-negeri muslim dalam BoP adalah bentuk pengkhianatan terhadap muslim Gaza. Hingga saat ini serangan udara itensitas Israel kembali menghantam Jalur Gaza dan menewaskan sedikitnya 32 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Serangan pada Sabtu (31-1-2026) disebut sebagai yang terberat sejak fase kedua gencatan senjata berlaku. Tenda-tenda pengungsi di Khan Younis, apartemen warga, hingga lokasi penampungan dilaporkan menjadi sasaran, memicu kecaman luas dari berbagai pihak internasional. Situasi ini kembali menimbulkan pertanyaan besar soal keberlangsungan gencatan senjata.
Warga Gaza menggambarkan kepedihan mendalam, sementara negara-negara mediator, seperti Mesir dan Qatar mendesak semua pihak menahan diri. Di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan, jumlah korban terus bertambah dan krisis kemanusiaan di Gaza kian memburuk.
Ini jelas bahwa Palestina tidak butuh BoP maupun rencana AS. Yang Palestina butuhkan adalah pembebasan dari pendudukan Zionis.
Perdamaian hakiki bagi Palestina hanya akan terwujud jika Zionis hengkang dari wilayah Palestina. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan hal ini adalah jihad. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang akan mengomando jihad akbar untuk membebaskan Palestina.
Negeri-negeri muslim tidak boleh bersekutu dengan negara kafir harbi fi'lan yang tengah memerangi muslim Palestina (AS dan Zionis). Negeri-negeri muslim justru harus bersegera menegakkan Khilafah. Umat Islam harus menjadikan Khilafah sebagai qadhiyah masiriyah (agenda utama) dan segera merealisasikannya.
Mengingatkan dengan firman Allah Swt. dalam (QS Al-Mumtahanah: 9). “Allah hanya melarang kamu bersekutu dengan orang-orang yang berperang melawanmu karena agamamu, mengusirmu dari tempat tinggalmu, dan mendukung orang lain dalam mengusirmu. Dan siapa pun yang bersekutu dengan mereka, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” wallahu a'lam bissawab.

No comments:
Post a Comment