Oleh Yeyet Mulyati
Board Of Peace(BoP) adalah rangkaian kebijakan luar negri Washington yang diklaim bertujuan untuk menyelesaikan dan menciptakan stabilitas di Timur Tengah yang di gagas persiden Amerika Donald Trump. Sejarah BoP tidak dapat dilepaskan dari kegagalan berulang proses perdamaian Palestina dan Israel sejak Oslo Accord, dimana perundingan yang dilakukan sejak awal dirancang secara simetris dan cenderung menguntungkan pihak yang dominan yakni "Israel" Sementara Posisi Palestina dilemahkan secara sistematis. Maka istilah Board of Peace ini dapat dipahami sebagai simbol dari kebijakan luar negeri Trump Timur Tengah, khususnya Abraham Accord (2020), kesepakatan ini menormalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara Arab, seperti Ini Emirat Arab, Bahrain, Maroko dan Sudan yang dipromosikan sebagai " Jalan Menuju Perdamaian ".
Dari 60 negara yang di undang untuk bergabung dalam BoP namun hanya 26 negara yang bergabung didalam nya, antara lain Azerbaijan, Kuwait, Arab Saudi, Turki Qatar dan beberapa negara muslim lainya termasuk Indonesia. Jika kita perhatikan justru pendukung terbanyak berasal dari negara yang penduduknya mayoritas muslim, sedangkan beberapa negara Eropa malah menolak untuk bergabung dengan BoP. Sungguh miris saudara se Aqidah yang seharusnya menjadi penyelamat saudaranya malah bergabung dengan biankerok dari penjajahan Israel atas Palestina.
Setali tiga uang dengan negara muslim lain Indonesia pun turut bergabung dan menandatangani pengesahan sebagai Anggota BoP, bahkan Indonesia siap untuk membayar biaya keanggotaan BoP sebesar, 1 miliar dollar atau kalau dirupiahkan setara dengan 17 triliun. Hal itu ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono dalam keterangannya di Bad Ragaz, Swiss pada Jum'at 23 Januari 2026 usai Presiden prabowo menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos.
Sungguh disayangkan apa yang dilakukan oleh pemimpin negri ini yang tergabung menjadi anggota BoP, dan dengan keyakinannya bahwa BoP ini bisa menyelesaikan permasalahan Palestina dari penjajahan Israel, ditambah dengan statment nya yang mengatakan bahwa perdamaian di Palestina bisa terwujud jika semua orang mengakui dan menghormati dan menjamin keamanan untuk Israel, baru perdamaian bisa diraih. Statmen yang disampaikan orang no satu ini menimbulkan kontroversi di tengah-tengah umat. Seharusnya perkataan tersebut tidak keluar dari mulut seorang muslim, apalagi ia adalah seorang pemimpin hal ini tentu saja menyakiti hati kaum Muslim Indonesia khusnya dan kaum Muslim seluruh Dunia, bukan itu saja apa yang dilakukan nya itu berarti telah mengkhianati Rasullullah dan juga Allah. Karena dengan bergabungnya Indonesia berarti Indonesia mendukung penjajahan Israel atas Palestina bahkan menjadi penjamin keselamatan dari penjajah.Keputusan indonesia bergabung dengan Board of Peace ( BoP) yang di gagas presiden Amerika Serikat( Donald Trump) menimbulkan kontrovensi besar.Pemerintah beralasan bshwa langkah ini diambil demi memperjuangkan perdamaian di palestin, khususnya Gaza.Namun fakta yang muncul menunjukkan bahwa BoP bukanlah wadah yang benar-benar berpihak pada rakyat melainkan politik yang di berikan oleh Amerika Serikat .
Islam menawarkan solusi yang di berikan ke palestina yaitu palestina tidak butuh dengan adanya BoP yang di rencanakan oleh Amerika Serikat tetapi yang di butuhkan adslah kebebasan yang mereka miliki. Perdamaian hakiki bagi palestina hanya akan terwujud jika zionis hengkang dari wilayah palestina. Negeri-negeri muslim tidak boleh bersekutu dengan negara kafir harbi fi'lan ( As dan Zionis) yang tengah memerangi islam. Dan satu-satunya jalan untuk membebaskan Palestina adalah dengan jihad. Dan negara-negara muslim harus segera menegakkan khilafah. Karena dengan khilafahlah umat islam akan memiliki kekuatan pololitik dan militer yang terpusat untuk melawan Zionis.
Walluhu'alam bishowab
No comments:
Post a Comment