Oleh : Kursiyah Azis ( Aktivis Muslimah)
Sebagai salah satu negara dengan penduduknya mayoritas muslim terbesar di dunia. Negara Indonesia kini resmi menjadi bagian dari anggota sebuah gerakan yang di gagas oleh para penjajah. Tepat disaat darah Muslim Palestina masih terus mengalir, di tambah rumah-rumah mereka diratakan, dan hak hidup mereka dirampas secara terang-terangan, dunia Islam justru dihadapkan pada ironi pahit: sebagian negeri Muslim, khususnya Indonesia memilih merapat pada aliansi global bernama BoP. Sebuah langkah politik yang dibungkus rapi dengan istilah kerja sama, stabilitas, dan kepentingan strategis, namun sejatinya ia menyimpan konsekuensi yang dangat besar sehingga mengakibatkan retaknya solidaritas umat terhadap Palestina.
Melansir dari setkab.go.id, kamis (22/01/2026) Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menyampaikan optimisme kuat terhadap tercapainya perdamaian di Gaza usai menandatangani Board of Peace (BoP) Charter yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pihaknya begitu yakin bahwa dengan ikut bergabung sebagai bagian dari Anggota BoP, maka ini adalah langkah tepat yang sangat bersejarah dalam menciptakan perdamaian di palestina.
BoP Demi Palestina adalah Topeng Kemunafikkan
Sejatinya, palestina bukan sekadar isu regional. Namun ia adalah luka kolektif umat Islam di seluruh dunia. Sejak puluhan tahun, penjajahan Zionis Israel berlangsung dengan dukungan kekuatan besar dunia. Dalam situasi seperti ini, posisi politik negeri-negeri Muslim seharusnya jelas, yakni berdiri tegas di barisan pembela Palestina, bukan justru mengambil jalan abu-abu yang akan menguntungkan penjajah.
Sungguh disayangkan ketika sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar akhirnya bergabung dengan BoP. Hal ini jelas menunjukkan arah yang semakin tersesat, sebab aliansi ini, yang secara nyata atau terselubung beririsan kepentingan dengan kekuatan pendukung Israel, sehingga menempatkan negara-negara Muslim dalam posisi problematik.
Bagaimana mungkin solidaritas terhadap Palestina tetap lantang diklaim, sementara pada saat yang sama tangan dijulurkan kepada blok yang menormalisasi, bahkan melindungi, kejahatan penjajahan?
Demikianlah paradoks politik umat hari ini. Ketika palestina terus disuarakan di mimbar-mimbar, tetapi dalam waktu yang sama justru dilemahkan di meja diplomasi. Ketika air mata ditumpahkan di jalanan, sementara kebijakan luar negeri justru memberi ruang bagi para penindas. BoP, dalam konteks ini, bukan sekadar aliansi politik namun ia adalah simbol kompromi atas prinsip.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, langkah ini sering dibela dengan dalih realisme politik. Seolah-olah umat Islam harus memilih antara kepentingan nasional dan keberpihakan pada Palestina.
Padahal, sejarah Islam menunjukkan sebaliknya. Solidaritas umat tidak pernah lahir dari kompromi dengan kezaliman, melainkan dari keberanian memutus ketergantungan pada sistem yang menindas.
Dengan demikian maka, ketika politik dipisahkan dari nilai, maka kepentingan akan selalu mengalahkan keadilan.
BoP adalah potret nyata politik tanpa ruh. Ia mereduksi Palestina menjadi sekadar isu sampingan, bukan amanah akidah. Padahal Rasulullah ﷺ telah menegaskan bahwa kaum Muslim itu bagaikan satu tubuh, itu artinya bahwa jika satu bagian terluka, seluruh tubuh ikut merasakannya. Maka mustahil solidaritas sejati terwujud jika umat memilih jalan politik yang justru menguntungkan pihak yang melukai saudaranya.
Antara Keadilan dan Kepentingan
Para penguasa di negeri-negeri Muslim memutuskan untuk ikut bergabung dengan dalih demi keadilan dan perdamaian, namun sesungguhnya itu hanya sebuah alasan untuk menutupi tujuan utama mereka, yakni kepentingan. Karena selain dampak buruk bagi penduduk palestina, terdapat pula dampak yang tak kalah mengerikan ketika bergabung dengan BoP, yakni munculnya bahaya secara jangka panjang. Sebab ia membentuk anggapan bahwa penjajahan dapat ditoleransi selama dibungkus kepentingan strategis. Ini bukan hanya pengkhianatan terhadap Palestina, tetapi juga ancaman bagi umat Islam di masa depan. Hari ini Palestina, esok bisa jadi negeri Muslim lainnya.
Olehnya itu sudah saatnya umat Islam jujur menilai arah politik yang ditempuh para penguasanya. Kita harus paham bahwa solidaritas bukan slogan, melainkan ia adalah bentuk keberpihakan nyata. Palestina tidak membutuhkan pernyataan normatif, tetapi sikap politik yang tegas dan berani. Sikap yang lahir dari iman, bukan dari tekanan global.
Selama umat masih menggantungkan arah politiknya pada aliansi-aliasi rapuh seperti BoP, selama itu pula solidaritas hanya akan menjadi jargon kosong. Jalan kebangkitan umat tidak akan pernah sejalan dengan jalan kompromi terhadap kezaliman. Palestina mengajarkan satu hal yang jelas bahwa tidak ada netralitas dalam penjajahan.
Jika BoP adalah jalan politik yang dipilih, maka umat berhak bertanya: ke mana sebenarnya arah keberpihakan itu mengalir. Benarkah kepada keadilan, atau juatru kepada kepentingan?
Islam Tidak Memberi Ruang Kompromi bagi Penjajah
Dalam Islam, Palestina adalah tanah wakaf umat, bukan isu bilateral atau konflik regional biasa. Masalah BoP muncul bukan tanpa alasan, sebab palestina direduksi jadi komoditas politik, Normalisasi dianggap “pragmatis”, padahal itu legalisasi penjajahan
Sementara itu, islam memandang penjajahan sebagai kezaliman yang haram didukung, baik langsung maupun tidak langsung. Sebagaimana Allah Berfirman;
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)
Olehnya itu maka sudah seharusnya kita menghentikan Normalisasi dengan Penjajah, karena solusi Islam menolak total normalisasi dengan entitas penjajah, dalam bentuk apa pun, termasuk Kerja sama politik, hubungan ekonomi, perjanjian keamanan, maupun dukungan diplomatik terselubung.
BoP adalah bentuk pengkhianatan ukhuwah Islamiyah, karena menguatkan penjajah dan melemahkan yang dijajah. Sudah saatnya mengembalikan Politik Islam sebagai Pelindung Umat dan mewujudkan persatuan Umat di Bawah Aqidah, Bukan Nasionalisme.
Dengan demikian maka, sebagai Umat Islam kita semua punya peran yang sama untuk membakitkan Kesadaran, menyebarkan Opini Islam dan menyingkirkan tekanan Moral.
Karena selain peran penguasa, umat Islam punya kewajiban untuk tegas menolak narasi damai palsu, membongkar kejahatan normalisasi sambil menekan penguasa dengan opini publik serta mendidik generasi agar sadar Palestina adalah isu iman. Karena tindakan mendiamkan diri terhadap BoP adalah bentuk pembiaran kezaliman.
Solusi Puncak: Tegaknya Kepemimpinan Islam
Solusi tuntas menurut Islam bukan sekadar kecaman, akan tetapi sebuah perwujudan melalui Tegaknya kepemimpinan Islam yang independen, dan diterapkannya Politik luar negeri berbasis aqidah. Sehingga terciptalah perlindungan nyata terhadap Palestina secara otomatis.
Sejarah telah membuktikan bahwa palestina aman ketika umat dipimpin oleh sistem Islam, dan kini berdarah saat sistem itu runtuh. Kehadiran ide bertajuk BoP bukan kegagalan diplomasi, tapi kegagalan akidah dalam politik. Padahal dalam sistem Islam tidak ada istilah menawarkan kompromi dengan penjajah, melainkan keadilan dan pembebasan sejati. Wallahu alam.

No comments:
Post a Comment