Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bencana yang Tak Pernah Kebetulan

Thursday, February 05, 2026 | Thursday, February 05, 2026 WIB

 



Oleh. Ummu Hamizan


Awal tahun 2026 diwarnai kabar duka dari berbagai daerah. Banjir dan longsor datang beruntun, menelan korban jiwa, merusak permukiman, dan memutus penghidupan warga. Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa bencana tidak selalu hadir sebagai kejadian alamiah semata. Ada rangkaian kebijakan dan cara pandang yang ikut berperan membentuknya.


Dilansir dari katadata.co.id, data menunjukkan bencana air dan tanah bergerak terjadi di banyak wilayah hanya dalam waktu singkat. Kondisi ini terlalu sering disebut sebagai hal biasa akibat musim hujan, seolah curah hujan adalah satu-satunya penyebab. Padahal, hujan turun merata, tetapi dampaknya tidak sama di setiap daerah. Perbedaan itu muncul dari bagaimana alam dikelola dan ruang hidup diatur.


Kerusakan lingkungan yang terus berlangsung menjadi faktor yang sulit disangkal. Sungai kehilangan fungsi alaminya karena penyempitan dan pendangkalan. Lereng dibuka tanpa perhitungan matang. Kawasan resapan berubah menjadi bangunan padat. Semua dilakukan atas nama pembangunan, namun mengabaikan daya dukung alam yang terbatas.


Yang mengkhawatirkan, persoalan ini bukan tanpa aturan. Regulasi sebenarnya tersedia, tetapi kerap kalah oleh kepentingan jangka pendek. Izin mudah terbit, pengawasan longgar, dan pelanggaran jarang berujung sanksi tegas. Ketika bencana terjadi, penanganan darurat dilakukan, namun evaluasi mendasar sering terlewatkan.


Cara pandang yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi masih mendominasi. Keselamatan rakyat sering dikorbankan demi perhitungan ekonomi sesaat. Risiko dianggap bisa ditoleransi, selama aktivitas berjalan dan keuntungan mengalir. Pola seperti ini membuat bencana bukan lagi kejadian tak terduga, melainkan konsekuensi yang terus berulang.


Padahal, alam diciptakan sebagai penopang kehidupan, bukan sumber ancaman. Sungai mengatur aliran air, hutan menahan longsor, dan bukit menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika fungsi-fungsi ini dirusak, maka yang tersisa hanyalah kerentanan yang diwariskan dari satu musim ke musim berikutnya.


Manusia memiliki tanggung jawab moral dalam mengelola alam. Peran ini bukan soal kekuasaan, melainkan amanah untuk menjaga dan merawat. Ketika prinsip ini diabaikan, kebijakan kehilangan arah dan pengelolaan berubah menjadi sekadar urusan hitung-hitungan materi.


Sudah saatnya pengelolaan alam dan ruang hidup dikembalikan pada nilai yang menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama. Pembangunan seharusnya berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, bukan saling meniadakan. Tanpa perubahan mendasar, status siaga dan tanggap darurat hanya akan terus diperpanjang setiap tahun.


Masyarakat tidak membutuhkan janji atau simbol kepedulian semata. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memperbaiki arah, menutup celah penyalahgunaan, dan menegakkan aturan secara konsisten. Penanganan bencana tidak cukup di hilir, tetapi harus menyentuh hulu persoalan.


Banjir dan longsor hari ini seharusnya dibaca sebagai peringatan serius. Bukan hanya soal cuaca, melainkan tentang cara kita memperlakukan alam dan menentukan kebijakan. Jika kesalahan yang sama terus dipelihara, maka harapan rakyat akan terus hanyut bersama arus. Namun jika keberanian untuk berubah benar-benar diambil, masih ada ruang untuk menyelamatkan masa depan.

Wallahua'lam bi shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update