Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pengolahan Pangan SPPG Koto Baru Payakumbuh Timur Terapkan Standar Ketat BGN

Monday, January 26, 2026 | Monday, January 26, 2026 WIB Last Updated 2026-01-28T04:08:55Z

Nusantaranews.net, Payakumbuh — Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Koto Baru, Kecamatan Payakumbuh Timur, yang dikelola Yayasan Badunsanak Anugrah Barokah di bawah pimpinan Erilia Bonita Yos, menerapkan standar pengolahan pangan sesuai pedoman Badan Gizi Nasional (BGN), mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi ke sekolah.

Kepala SPPG Koto Baru, Ihsan, menjelaskan bahwa proses awal dimulai pada pukul 14.00 WIB dengan penerimaan bahan baku terverifikasi. Seluruh bahan yang masuk wajib melalui tahapan pemeriksaan mutu fisik, meliputi kesegaran, kebersihan, kemasan, serta tanggal kedaluwarsa sesuai standar BGN.

“Pada tahap ini, petugas wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap sebagai bagian dari penerapan higiene dan sanitasi pangan,” jelas Ihsan.

Selanjutnya, bahan pangan menjalani uji keamanan pangan (rapid test food) untuk mendeteksi potensi cemaran berbahaya. Bahan yang tidak memenuhi standar langsung dipisahkan dan tidak digunakan dalam proses pengolahan.

Setelah dinyatakan layak, bahan baku disimpan sesuai standar penyimpanan BGN, dengan pemisahan bahan mentah dan bahan siap olah, serta pengaturan suhu untuk mencegah kontaminasi silang. Proses pengolahan dan memasak dimulai pukul 02.00 WIB dini hari, mengikuti prinsip Good Manufacturing Practices (GMP) dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) yang menjadi acuan BGN.

Seluruh pekerja dapur telah melalui pemeriksaan kesehatan, dibekali BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, serta mendapatkan asupan vitamin secara berkala guna memastikan kondisi fisik tetap prima selama proses produksi.

Pengawasan eksternal dilakukan secara rutin oleh Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) tingkat kabupaten/kota, untuk memastikan setiap tahapan berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) BGN, baik dari aspek keamanan pangan, kebersihan lingkungan, maupun kualitas gizi.

Dalam tahap pengendalian mutu, SPPG Koto Baru menerapkan uji organoleptik terhadap setiap menu sebelum didistribusikan. Penilaian dilakukan menggunakan formulir standar, yang mencakup aspek warna, rasa, aroma, tekstur, dan tampilan makanan, sebagai bentuk jaminan mutu sebelum dikonsumsi siswa.

Distribusi makanan dilakukan dengan sistem terkontrol ke 29 sekolah dengan total 3.625 murid. Khusus untuk SLB Jendela Hati, yang melayani anak-anak autis, diterapkan perlakuan khusus sesuai standar diet BGN, dengan penyesuaian tekstur, porsi, serta komposisi gizi. Penyajian buah dan sayur juga disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan karakteristik penerima manfaat.

Pimpinan Yayasan Badunsanak Anugrah Barokah, Erilia Bonita Yos, menegaskan bahwa keberadaan SPPG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi semata.

“SPPG ini memberikan multiplier effect bagi masyarakat, mulai dari peningkatan kesehatan anak, penguatan ekonomi lokal, hingga pembentukan nilai sosial,” ujarnya.

Menurut Bonita, penerapan pola makan bersama dengan menu yang sama juga menjadi sarana menghilangkan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah, karena seluruh siswa mendapatkan hak yang setara.

Dengan penerapan standar BGN secara konsisten dan pengawasan berlapis, SPPG Koto Baru Payakumbuh Timur diharapkan menjadi model layanan pemenuhan gizi yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan. (R.Sitepu)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update