Oleh: Suryani
bbc.com- kasus penculikan anak bernama bilqis yang sebelumnya telah ramai di bicarakan karena perpindahan dari makassar hingga ke pedalaman jambi menunjukkan kelompok rentan, seperti anak hingga masyarakat adat selalu rawan menjadi korban eksploitasi.
Penculik bilqis, Adefrianto Syahputra S (36) dam Mery Ana (42) menipu begendang menggunakan dokumen surat pernyataan palsu yang seolah-olah ditandatangani orang tua bilqis. Dalam surat ini, keluarga di sebut tidak mampu dan menyerahkan anaknya untuk dirawat. Sindikat penculikan anak tersebut memanfaatkan kepolosan suku anak dalam yang sebagian besar tidak bisa membaca dan menulis. Begendang menjadi korban tipu daya kerena rasa iba membuatnya tetap bertekad merawat bilqis, bahkan ketika di minta membayar untuk mengganti biaya perawatan sebanyak Rp 85 juta.
Dari kasus diatas kita dapat melihat betapa masih lemahnya sistem keamanan negara indonesia di luar dari kelalaian kedua orang tua, mengapa demikian karena mudahnya para pelaku kejahatan ini memalsukan dokumen bahkan mampu melakukan perpindahan lokasi dengan jarak yang cukup jauh.
Kasus ini membuktikan tidak adanya jaminan keamanan dan keselamatan negara bagi seluruh rakyat terkhusus untuk anak dan juga para perempuan. Tidak ada lagi ruang yang aman bagi masyarakat, bukan tanpa sebab karena kehidupan saat ini berada di bawah pengaturan sekuler kapitalis yang menjauhkan agama dari kehidupan sehingga seseorang bebas melakukan apapun tidak ada standar haram dan halal dari apa yang ingin mereka lakukan, sehingga tidak heran bahwa kejahatan semakin merajalela dan cenderung di permudah oleh sistem yang ada.
Akar masalah:
Pengaruh sistem sekuler-kapitalis secara tidak langsung memudahkan kasus penculikan anak dapak dilihat dari beberapa aspek dan praktik yang melekat pada ideologi ini. Pertama, dari aspek sekulerisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan yang melonggarkan benteng sosial dan moral. Ketidakadaan penerapan nilai-nilai moral dan agama secara kolektif dalam sistem hukum dan sosial mampu melemahkan standar berperilaku, membuat seseorang bebas bertindak tanpa standar halal/haram atau baik/buruk. Selain itu, lemahnya efek hukum, hukuman yang ditetapkan sistem sekuler saat ini tidak memberikan efek jera, terutama kejahatan serius terhadap anak sehingga tidak mampu mencegah pelaku kejahatan lain untuk melakukan ataupun mengulangi hal serupa.
Kedua, dari aspek kapitalisme, kapitalisme dengan fokus utamanya akumulasi kekayaan maupun keuntungan dengan sederhananya materi atau uang adalah standar kesuksesan. Dengan begitu dengan adanya tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau melunasi utang karena persaingan ekonomi yang ketat dapat mendorong individu untuk melakukan tindakan ekstrem seperti penculikan. Singkatnya di bawah sistem ini di mana hanya para pemilik modal saja yang di untungkan, sehingga bagi mereka bukan para pemilik modal bisa melakukan berbagai cara untuk menghasilkan uang bahkan mampu melihat manusia sebagai akomodasi penghasil.
Kontruksi islam:
Sistem islam mampu menjadi solusi berbagai bentuk kejahatan di bawah naungan sistem sekuler-kapitalis dengan menegakkan hukum islam yang memberikan sanksi tegas terhadap pelaku kejahatan di mana dalam sistem islam diberikan untuk pencegahan dan penyembuhan, dan tidak hanya itu melalui penanganan akar masalahnya ia memotong motif ekonomi melalui jaminan kesejahteraan dan pemerataan (zakat) dan baitul mal, serta memotong peluang kejahatan dengan memperkuat benteng moral individu (taqwa), pengawasan keluarga, dan kontrol sosial masyarakat (amarma’ruf).
Wallahu’alam.

No comments:
Post a Comment