Oleh
Santika
Pemerhati
Remaja
Kemajuan
tekhnologi saat ini memiliki dampak positif dan negatif terhadap para
penggunanya. Dampak positifnya di antaranya yaitu semakin bertambah kemudahan dalam
mengakses komunikasi, penyebaran berita, juga bisa berselancar keliling dunia
tanpa harus meninggalkan rumah. Selain itu juga masih banyak dampak positif
lainnya, termasuk adanya activism medsos dalam dakwah.
Sayangnya, dampak negatifnya pun tak kalah menakutkan, mulai dari kebebasan berekspresi tanpa batas di media sosial, ruang pornografi yang kian berseliweran, belum lagi judol, pinjol dan berbagai flatform yang membuat para penguna kecanduan, terutama Gen Z.
Media sosial menjadi ajang para Gen Z menyalurkan berbagai kreatifitas, Gen Z yang dikenal sebagai generasi strawberry dan generasi lemah mampu menunjukkan berbagai hasil karyanya. Mereka seolah olah memiliki tempat untuk ajang unjuk gigi. Namun tanpa tanpa mereka sadari telah membuat jurang yang dalam dengan dunia nyata.
Selain itu media sosial juga menciptakan kesenjangan antara Gen Z dan Gen Y. Media sosial akhirnya menjadi tempat mereka bergaul dan bersosialisasi. Sayang seribu sayang itu semua akhirnya menjadi buah simalakama bagi para Gen Z. Dalam media sosial terpampang jelas identitas, status, gaya hidup. dan berbagai standar kehidupan yang tinggi, sehingga kesempurnaan selalu mereka cari. Yang tidak kalah bahaya adalah berbagai konten kekerasan yang membentuk karakter Gen Z saat ini. Kehidupan dengan status sosial kalangan atas yang selalu dipertontonkan. Sedikit demi sedikit Gen Z beralih dari berbagai kebebasan menjadi penuh dengan tekanan dunia medsos, akhirnya tujuan hidup mereka hanya untuk mendapatkan berbagai pengakuan sempurna di mata manusia. Baik fisik, karier, jabatan, bahkan gelar.
Dukungan terhadap fenomena ini dapat dilihat dari penelitian yang menunjukkan bahwa 70% remaja perempuan di Kabupaten Ciamis berusia 11-20 tahun memiliki citra tubuh dalam kategori sedang. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakpuasan terhadap penampilan fisik mereka. Artinya, tujuh dari sepuluh remaja perempuan dalam rentang usia tersebut merasa kurang puas dengan penampilan fisik mereka. Tidak hanya itu, tekanan untuk menampilkan citra diri yang "sempurna" juga membuat 60% remaja merasa tidak percaya diri dengan foto atau video yang mereka unggah di akun media sosial. (news.detik.com)
Ruang digital akhirnya tidak netral, lebih menonjolkan dalam fenomena yang berbau sekuler kapitalistik. Fenomena ini sebetulnya adalah bagian rancangan sistem itu. Akhirnya Gen Z disetir Dunia Digital rancangan kapitalistik. Gen Z menjadi sasaran eksploitas demi bisnis semata tanpa memperdulikan dampak negatifnya.
Berkaca dari sejarah bagaimana para Gen Z pada masa Rasulullah saw. menjadi para pemuda yang tangguh, pemuda yang berjuang di jalan Islam. Mental pejuang yang hadir di dada-dada pemuda Muslim.
Pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam perjuangan islam. Para pemuda menjadi agen perubahan yang siap mengemban dan mendakwahkan Islam tanpa gentar dan takut dengan apapun yang akan menghadangnya. Contohnya adalah Sahabat Ali bin Abi Thalib r.a. yang diusia 7 tahun sudah memutuskan masuk Islam. Ali bin Abi Thalib adalah sosok pemuda teladan yang luar biasa: pemberani di medan perang (menggantikan tidur Rasulullah, memimpin di Khaibar, Khandaq), cerdas (dijuluki Babul Ilmi), setia memeluk Islam sejak kecil, ahli ibadah, dermawan, dan pemimpin adil, yang dicintai Allah dan Rasul-Nya karena keteguhan iman serta pengorbanannya membela Islam sejak awal dakwah hingga akhir hayatnya. Ia adalah contoh pemuda yang berani berjuang dan memiliki pengetahuan mendalam tentang agama.
Fenomena gen z saat ini tidak cukup hanya mengandalkan pembatasan media sosial tanpa mengubah paradigma gen Z tentang tujuan hidup. Dan lebih mengenali ideologinya sendiri yaitu Islam. Dengan mempelajari Ideologi Islam maka akan menghapus paradigma sekuler kapitalistik dalam benak Gen Z dan mengubah paradigmanya dengan Ideologi Islam.
Hanya dengan mengikuti metode Rasulullah saw. yaitu membina para pemuda dengan berbagai kajian dalam menggali ilmu Islam, maka para pemuda akan mampu keluar dari setir sekuler kapitalis. Tentunya ada dorongan dari berbagai eleman, dalam menghilangkan tekanan medsos di kalangan gen Z, terutama keluarga sebagai pondasi utama, masyarakat dan juga negara yang mengarahkan Gen Z ke arah pergerakan yang sahih sesuai dengan yang dicontohkan oleh suri teladan kita Nabi Muhammad saw.. Wallahualam bisshawab.

No comments:
Post a Comment