Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Balik Normalisasi Bentuk Penjajahan yang Terselubung

Tuesday, December 02, 2025 | Tuesday, December 02, 2025 WIB Last Updated 2025-12-02T13:40:48Z

 



Oleh Turmini

Aktivis Muslimah


Dunia Islam terperangah. Uni Emirat Arab menyatakan diri melakukan langkah normalisasi dengan Israel. Arab Saudi hingga kini masih bungkam, Uni Emirat Arab menjadi negara Teluk Arab pertama yang secara resmi memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.dilansir REPUBLIKA.CO.ID.

Turki mengeluarkan surat penangkapan terhadap Netanyahu serta pejabat tinggi rezim lainnya dengan tuduhan melakukan Genosida dan kejahatan kemanusiaan di Gaza. Sayangnya bebeberapa negara justru mengambil langkah yang berlawanan kazakhstan misalnya memutuskan bergabung  dalam Abraham Accords.

Perjanjian normalisasi hubungan diplomatik  dengan rezim Zionis, Hal ini kemudian dikecam oleh Hamas, karena dianggap sebagai pembenaran atas agresif zionis terhadap rakyat Palestina. 

Sejak tahun 2020 Amerika Serikat meluncurkan proses normalisasi Zionis-Arab dengan menandatangani serangkaian dokumen yang dikenal sebagai Abraham Accords, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko menjadi negara pertama yang bergabung dalam kesepakatan tersebut. Kini Gedung Putih bahkan menargetkan lebih banyak negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan rezim Zionis pada masa jabatan kedua presiden Tramp.

Klaim bahwa normalisasi hubungan dengan Zionis melalui Abraham Accords dapat melegalkan penjajahan atas Palestina bukan tanpa dasar. Berbagai pihak di Palestina termasuk Hamas menilai normalisasi ini digunakan oleh rezim Zionis dan sekutunya terutama Amerika Serikat,  sebagai alat diplomatik untuk mengurangi tekanan Internasional terhadap pendudukan yang mereka lakukan. 

Sementara itu Turki secara terbuka memang mengkritik agresi rezim Zionis terhadap Gaza dan Palestina. Namun, ada sejumlah fakta yang mengejutkan bahwa hubungan Turki dan Zionis tidak sepenuhnya terputus. Dibalik retorika keras Ankara Turki tetap mempertahankan kerangka kerjasama Ekonomi, Energi bahkan militer dengan rezim zionis

Fakta ini memperlihatkan bahwa meski bersuara lantang menantang Zionis, kepentingan geo politik dan Ekonomi membuat Turki tak sepenuhnya memutuskan hubungan dengan entitas tersebut. Bahkan presiden Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa Turki dan rezim Zionis bisa bekerjasma dalam pengiriman gas alam ke Eropa melalui Turki. Selain itu Turki juga merupakan satu-satunya negara Muslim anggota NATO serta telah menandatangani puluhan perjanjian kerjasama dengan entitas Zionis.

Apa yang terjadi di Palestina  hari ini jelas bukan menjadi akhir dari penjajahan. Meski gencatan senjata telah disepakati dan sejumlah negara mengakui Palestina sebagai negara merdeka, rakyat Palestina tetap hidup keterpurukan akses terhadap bantuan pangan, air dan listrik masih dibatasi. Kelaparan terus melanda dan penderitaan tak kunjung berakhir.

Faktanya negeri-negeri Muslim saat ini lebih banyak menjadi penonton. Mereka hanya mengutuk dan mengecam, tanpa mengambil langkah nyata untuk membebaskan Gaza atau menghentikan agresi Zionis. Padahal seluruh negeri Muslim seharusnya bertindak tegas, bukan hanya bicara dalam forum diplomasi. 

Krisis Gaza tak akan pernah berakhir, selama para penguasa dunia Islam terutama para pemimpin Arab dan Turki masih tunduk pada kepentingan barat dan terkungkung ide Nasionalisme sempit. Sesungguhnya negeri Muslim inilah yang justru menjadi penjaga eksistensi negara Zionis di jantung dunia Islam. Selama mereka tetap seperti ini entitas Yahudi itu akan terus berdiri dan penderitaan rakyat Palestina  akan terus berlanjut.

Sesungguhnya solusi tuntas atas penjajahan Palestina hanya akan terwujud dengan tegaknya kembali Khilafah Islam. Hanya dengan khilafah persatuan umat Islam dapat terwujud. Kekuatan militer dan politik dapat diarahkan untuk membebaskan seluruh tanah Palestina. Dan sistem yang menindas umat Islam dapat dihentikan dari akarnya. Khilafah yang menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan akan mencabut penjajahan hingga keakar-akarnya dari bumi Palestina. Untuk menghilangkan penjajahan ini tidak ada cara lain kecuali dengan perang Jihad Fii sabilillah. Untuk itu kewajiban utama Jihad ini ada pada pundak penguasa negeri-negeri Islam dan para panglima perang yang memiliki tentara yang terlatih, peralatan tempur, pesawat-pesawat tempur dan persenjataan yang lebih dari cukup.

Kewajiban kaum Muslimin untuk Jihad Fii sabilillah ketika diperangi musuh, telah tercantum dalam Firman Allah SWT.  "Perangilah mereka, dimana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian" ( TQS Al Baqarah (2):191).

Pada masa Rasulullah kaum Yahudi di Madinah juga diusir dari Madinah setelah mereka melakukan pengkhianatan terhadap negara Islam dan kaum Muslim. Kaum Yahudi Bani Qainuqa diperangi dan diusir oleh Rasulullah saw., setelah mereka melecehkan kehormatan seorang Muslimah yang membunuh seorang laki-laki pedagang Muslim yang membelanya.

Bani Nadhirpun diusir setelah mereka berkhasiat dan bersekongkol untuk membunuh Rasulullah saw. Ketika beliau datang meminta bantuan sesuai perjanjian. Oleh karena itu Palestina hanya bisa dibebaskan jika khilafah berdiri untuk melindungi tanah yang Allah berkahi tersebut. Khilafahpun akan mengusir para penjajah dari dunia Islam. Oleh sebab itu eksistensi Khilafah Islamiyah adalah vital dan wajib bagi kaum muslim karena ia akan menjàdi pelindung umat

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update