Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Aktivisme Gen Z dalam Hegemoni Ruang Digital Sekuler Kapitalistik

Friday, December 19, 2025 | Friday, December 19, 2025 WIB Last Updated 2025-12-19T04:34:40Z


Oleh. Rika Kamila, S. Ag.


Era digital adalah sebuah keniscayaan sejarah yang tidak dapat dihindari. Perkembangan teknologi informasi telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia, mulai dari akses ilmu pengetahuan, komunikasi tanpa batas, hingga peluang partisipasi sosial yang luas. Namun, di balik kemudahan tersebut, era digital juga membawa beragam pengaruh buruk yang secara perlahan membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak generasi muda, khususnya Generasi Z.

Generasi Z kerap dilabeli sebagai generasi lemah, rapuh secara mental, mudah cemas, dan minim daya juang. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Di sisi lain, Gen Z justru memiliki potensi kritis yang besar, keberanian menyuarakan pendapat, serta kemampuan menginisiasi perubahan melalui media sosial. Fenomena aktivisme digital, kampanye sosial, hingga gerakan advokasi berbasis isu lokal dan global (glocal activism) menunjukkan bahwa Gen Z bukan generasi apatis, melainkan generasi yang sedang mencari bentuk dan arah perjuangan.


Ruang Digital yang Tidak Netral

Meski tampak bebas dan terbuka, ruang digital sejatinya tidaklah netral. Ia dibangun, diatur, dan didominasi oleh nilai-nilai sekuler kapitalistik. Algoritma media sosial dirancang untuk mengejar atensi, keuntungan, dan kepuasan instan, bukan kebenaran atau kebermaknaan hidup. Akibatnya, Gen Z tumbuh dalam ekosistem digital yang secara sistematis membentuk pola pikir pragmatis, individualistik, dan relativistik.

Di satu sisi, ruang digital memang memudahkan proses belajar, memperluas wawasan, serta mempercepat arus informasi dan mobilisasi massa. Namun di sisi lain, ia juga melahirkan problem serius seperti krisis kesehatan mental, budaya validasi, normalisasi nilai inklusif-progresif yang seringkali bertentangan dengan ajaran agama, serta kecenderungan mempertanyakan agama secara dangkal tanpa kerangka berpikir yang utuh dan otentik. Tak jarang, Gen Z akhirnya membangun sistem nilai sendiri yang berbeda, bahkan berjarak dengan nilai-nilai generasi sebelumnya.

Aktivisme Gen Z pun sering kali bersifat reaktif dan pragmatis. Pergerakan dilakukan karena isu sedang viral, demi eksistensi diri, atau sekadar mengikuti arus opini publik. Karakteristik sebagai digital native membuat mereka cepat bergerak, namun juga cepat lelah, mudah berganti fokus, dan minim orientasi perjuangan jangka panjang.


Menyelamatkan Generasi dari Hegemoni Digital

Melihat kondisi ini, upaya menyelamatkan generasi dari hegemoni ruang digital yang sekuler kapitalistik menjadi sebuah kebutuhan mendesak. Penyelamatan ini tidak cukup dengan pendekatan moralistik atau teknis semata, seperti pembatasan gawai atau literasi digital parsial. Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma berpikir secara mendasar.

Paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan harus digantikan dengan paradigma Islam yang menyeluruh. Islam tidak hanya diposisikan sebagai urusan ibadah ritual, tetapi sebagai sistem kehidupan yang mengatur cara berpikir, bersikap, dan berjuang. Dengan paradigma Islam, Gen Z dapat memandang teknologi sebagai alat (wasilah), bukan tujuan; sebagai sarana dakwah dan perubahan, bukan sumber identitas dan validasi diri.

Aktivisme Gen Z pun perlu diarahkan agar tidak berhenti pada aksi simbolik atau tuntutan parsial, tetapi bergerak menuju solusi yang sistemis dan ideologis. Islam menawarkan kerangka perubahan yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar gejala. Perjuangan yang berangkat dari akidah Islam akan melahirkan aktivisme yang konsisten, bernilai ibadah, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.


Sinergi untuk Arah Pergerakan yang Sahih

Tanggung jawab menyelamatkan dan mengarahkan Gen Z tidak dapat dibebankan pada individu semata. Diperlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga berperan sebagai benteng awal penanaman akidah dan nilai Islam. Masyarakat berfungsi sebagai ekosistem yang menumbuhkan budaya amar makruf nahi mungkar. Sementara negara memiliki peran strategis dalam menciptakan sistem pendidikan, media, dan kebijakan publik yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Tanpa sinergi ini, Gen Z akan terus terombang-ambing dalam arus digital yang deras, aktif namun kehilangan arah, kritis namun miskin pijakan ideologis. Sebaliknya, dengan bimbingan paradigma Islam yang sahih, Gen Z berpotensi menjadi agen perubahan sejati—generasi yang mampu memanfaatkan era digital untuk menegakkan kebenaran dan menghadirkan solusi peradaban.

Wallahu a'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update