Oleh Ummu Thufail
Ibu & Penggiat Literasi
Sudan terjerumus dalam perang saudara pada April 2023 setelah terjadi perebutan kekuasaan yang sengit antara militer pemerintah (SAF) dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Perang saudara ini telah menyebabkan kelaparan dan genosida di wilayah Darfur Barat. Kekhawatiran terutama dirasakan penduduk kota El Faster setelah kota tersebut direbut oleh RSF baru - baru ini. Lebih dari 150.000 orang tewas dalam konflik tersebut dan sekitar 12 juta lainnya telah meninggalkan rumah mereka akibat pertikaian tersebut, PBB menyebutnya sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia.
Perang saudara tersebut berawal dari konflik antara Jenderal Al - Burhan dari militer Sudan (SAF) dan Letjen Mohamed Hamdan Dagalo dari pasukan RSF, mereka berselisih untuk memperebutkan kekuasaan. Adapun krisis perebutan kekuasaan di Sudan tersebut sudah berlangsung lama dan bukan murni konflik etnis ataupun perebutan kekuasaan semata, tetapi ada keterlibatan negara adi daya (Amerika Serikat) dan Inggris yang melibatkan negara - negara bonekanya yaitu zionis dan Uni Emirat Arab untuk berebut pengaruh politik demi kepentingan perampokan sumber daya alam yang melimpah ruah di Sudan.
Perlu diketahui bahwa Sudan merupakan negeri yang memiliki sumber daya alam melimpah di benua Afrika bagian timur laut. Sudan menjadi penghubung eropa dengan Timur Tengah. Garis lautnya adalah laut merah yang merupakan laut tersibuk didunia.
Begitu pula Sudan dipisahkan oleh Sungai Nil Putih dan Sungai Nil Biru. Dengan letak yang strategis, Sudan bisa menopang jalur perdagangan dan ekonomi internasional. Sudan sendiri kaya akan minyak mentah dan tambang seperti emas, uranium dan lainnya. Bahkan Sudan merupakan produsen emas Arab terbesar. Posisi geografis Sudan juga sangat strategis bagi jalur perdagangan. Terletak ditimur laut Afrika, Sudan berbatasan dengan 7 negara, yaitu : Mesir, Libya, Chad, Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, Etiopia dah Eritrea. Sudan menjadi penghubung utama antar Afrika Utara, wilayah Sahel dan Afrika Sub - Sahara.
Melihat begitu strategisnya Sudan, wajar jika Sudan menjadi incaran bangsa - bangsa imperialis.
Yang pertama menjajah Sudan adalah Inggris yang dimulai tahun 1899. Inggris berhasil mengambil Sudan dari kekuasaan Islam. Inggris bisa meraih simpati kalangan Islamis. Walhasil representasi pemerintah Inggris pasca 1956 adalah ketua Partai Umma Nas. Al Shadiq as - Mahdi.
Hanya saja memasuki tahun 1980 an pengaruh AS mulai menguat di Sudan melalui anteknya Omar Al-Bushir, AS berhasil menggulingkan pemerintah Al Shadiq di tahun 1989, selama 30 tahun Omar Al Bushir memerintah Sudan. Meski mengalami pasang surut, kekuatan AS di Sudan semakin menggeser pengaruh Inggris.
Pihak Washington menguasai dan menggunakan militer dengan kejam terhadap pihak yang dianggap menghalangi ambisi mereka. Oleh karena itu konflik yang terjadi di Sudan adalah siasat jahat AS dengan tujuan membersihkan sisa-sisa pengaruh Inggris di Sudan baik secara politik atau militer dengan strategi proxy nya.
AS menyokong RSF untuk melakukan pembersihan terhadap kelompok-kelompok yang pro Inggris di Sudan, terutama di Darfur, dan begitupun militer Sudan ( SAF) juga komprador AS di Sudan dari kubu yang berbeda.
Sebenarnya AS dan Inggris mempunyai kepentingan politik yang sama di Sudan. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghentikan kebangkitan Islam yang bisa menjadi ancaman atas penjajahan mereka disana. AS memainkan isu terorisme dan radikalisme untuk mencegah kebangkitan Islam. AS juga memecah belah militer Sudan dan mengadu domba berbagai kelompok militer, suku dan agama disana. Tujuannya untuk melemahkan kekuatan kaum muslim di Sudan.
Realita saat ini yang terjadi di Sudan dan negeri-negeri Islam lainnya menunjukkan bahwa bangsa-bangsa imperialis hanya peduli dengan kepentingan nasional nya sendiri. Bangsa-bangsa imperialis seperti AS, Inggris, zionis Israel dan lainya tidak segan-segan mengorbankan jutaan rakyat sipil demi terwujudnya kepentingan mereka.
Dan ironisnya lagi para pemimpin-pemimpin muslim hari ini justru bersekongkol dengan negara-negara barat penjajah menyembelih kaum muslim. Mereka malah menyokong tindakan jahat AS di Sudan, sama seperti yang mereka lakukan terhadap Gaza. Ironisnya sebagian umat tidak menyebut mereka pengkhianat, tetapi sebagai orang mulia.
Konflik Sudan telah membuka topeng palsu penguasa dan pejabat, negeri-negeri Islam yang sejatinya adalah agen dan antek imperialis dan pengkhianat kaum muslim.
Wahai kaum muslim, konflik yang terjadi ini, tidak akan terjadi seandainya umat masih memiliki pelindung yang ditakuti oleh para penjajah, yaitu khilafah Islamiyyah. Hanya institusi khilafah lah yang akan membebaskan umat dari bentuk penindasan dan pengkhianatan.
Sudah saatnya umat bersatu dalam ukhuwah Islamiyyah dibawah institusi pemerintah Islam yaitu khilafah, sehingga bisa mengusir para penjajah dari tanah kaum muslim.
Allahualam bissawab

No comments:
Post a Comment