Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jembatan Cikaleho Runtuh: Infrastruktur Perlu Perawatan

Tuesday, November 25, 2025 | Tuesday, November 25, 2025 WIB Last Updated 2025-11-25T10:32:44Z
Jembatan Cikaleho Runtuh: Infrastruktur Perlu Perawatan

Oleh: Isah Azizah


Jembatan Cikaleho di Jalan Nasional Ciamis-Cirebon, tepatnya di Dusun Namas, Desa Buniseuri, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, ambruk sebagian, Sabtu (8/11/2025) pagi. Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan mengguyur wilayah Ciamis pada Jumat (7/11/2025). Diduga pondasi jembatan tergerus oleh derasnya Sungai Cikaleho yang berada di bawahnya.

(DetikJabar, 8 November 2025)



Ambruknya Jembatan Cikaleho bukan sekadar kerusakan struktur beton yang tergerus arus sungai. Ia adalah sebuah peringatan halus namun tegas, bahwa infrastruktur publik—seperti halnya kehidupan sosial yang saling bertaut—tidak pernah kokoh hanya karena ia dibangun sekali waktu. Ia membutuhkan perhatian, kejujuran, dan kepedulian yang berkesinambungan.


Peristiwa ini membawa kita merenung: mengapa jembatan yang telah menopang mobilitas masyarakat selama puluhan tahun bisa runtuh dua kali hanya dalam hitungan minggu? Apa yang sesungguhnya rapuh—jembatannya, atau cara kita merawatnya?


Keruntuhan tidak datang tiba-tiba. Bila kita menelusuri kejadiannya, jembatan ini pertama kali mengalami kerusakan pada awal November 2025 setelah hujan deras menggelontorkan debit besar ke Sungai Cikaleho. Sebagian badan jembatan runtuh, tetapi arus lalu lintas tetap dialihkan lewat pembukaan satu jalur.


Tentu, keputusan itu diambil untuk menghindari lumpuhnya jalur nasional. Namun, keruntuhan kedua yang terjadi pada 23 November memperlihatkan bahwa penanganan darurat saja tidaklah cukup. Struktur yang telah melemah tidak bisa dibiarkan menahan beban publik, apa pun alasannya.


Keruntuhan jembatan mestinya dibaca bukan sebagai kejadian mendadak, melainkan sebagai hasil akumulasi dari usia struktur, kondisi lingkungan yang berubah, dan perawatan yang tidak seimbang dengan tingkat risiko.


Warga sekitar melaporkan bahwa pendangkalan Sungai Cikaleho meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dugaan bahwa tanah urugan di area perumahan sekitar turut terbawa arus dan menumpuk di dasar sungai mengisyaratkan adanya masalah tata ruang yang lebih mendalam.


Jika benar demikian, maka runtuhnya jembatan bukan semata karena hujan deras, melainkan juga akibat hubungan tidak harmonis antara pembangunan dan alam. Ketika sungai menyempit dan dangkal, arus air yang menguat menjadi ancaman bagi pondasi apa pun, termasuk jembatan yang telah berusia lebih dari tiga dekade itu. Akhirnya, lingkungan yang diabaikan itu membalas dengan cara yang tidak terduga.



Kita bisa membicarakan pondasi yang tergerus, debit sungai yang meningkat, atau tanah yang longsor. Namun persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana kita memaknai infrastruktur: sebagai proyek fisik, atau sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif?


Sering kali, proyek infrastruktur dipandang selesai ketika jembatan berdiri dan diresmikan. Padahal, usia panjang sebuah jembatan ditentukan bukan oleh kemegahannya saat dibangun, melainkan oleh konsistensi perawatan setelahnya. Pengawasan yang longgar, laporan keretakan kecil yang diabaikan, hingga alokasi anggaran perawatan yang tidak memadai dapat menjadi faktor yang jauh lebih menentukan daripada cuaca ekstrem.


Kita perlu keberanian untuk mengakui bahwa perawatan jembatan tidak hanya soal teknis, tetapi juga soal integritas.

Kualitas infrastruktur pada akhirnya adalah cerminan kualitas tata kelola.


Dalam perspektif Islam yang kaya dengan nilai-nilai etika publik pengelolaan fasilitas umum adalah amanah. Amanah mencakup kejujuran, kesungguhan, serta rasa tanggung jawab terhadap keselamatan orang banyak.


Prinsip tersebut sesungguhnya universal. Kita dapat menyebutnya profesionalisme, integritas, akuntabilitas, atau tata kelola yang baik. Namun hakikatnya sama: jembatan dibangun bukan hanya untuk dilalui, tetapi untuk melindungi manusia yang melintas di atasnya. Penjagaan dengan tanggungjawab besar pelayanan negara terhadap rakyatnya.


Ketika prinsip kejujuran dijunjung sebagai manifestasi dari keimanan negara, tidak ada ruang bagi pengurangan kualitas material. Ketika prinsip musyawarah dihargai, keluhan warga soal pendangkalan sungai tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Ketika kepedulian lingkungan menjadi bagian dari kebijakan, pembangunan di sekitar sungai tidak dilakukan sembarangan.

Sebagaimana peringatan yang telah Allah gambaran dalam Surat Al-A'raf ayat 56 berikut ini :


{ وَلَا تُفۡسِدُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفࣰا وَطَمَعًاۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِیبࣱ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ }


"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan."



Etika publik bukan hal abstrak; ia hadir dalam bentuk yang sangat konkret sebagai sebuah pelayanan negara berasas ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Ia adalah bentuk amanah yang terjaga dengan berpandu pada fungsinya sebagai pelayan rakyat.


Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)



Pelayaan tersebut berwujud nyata berupa beton yang lebih kuat, pondasi yang lebih dalam, dan jembatan yang tetap berdiri di tengah derasnya air sungai.


Maka, keruntuhan jembatan Cikaleho tidak boleh hanya menjadi catatan berita yang dilupakan setelah jembatan darurat dipasang. Ia harus menjadi titik refleksi: apa yang bisa kita perbaiki, dan bagaimana kita melakukannya tanpa menunggu insiden serupa?


Infrastruktur bukan sekadar benda mati; ia adalah simpul kehidupan sosial. Ketika simpul itu putus, aktivitas ekonomi terganggu, mobilitas terhenti, dan rasa aman masyarakat pun ikut retak.


Kita tidak bisa memastikan hujan tidak turun atau sungai tidak meluap. Namun kita bisa memastikan bahwa jembatan dibangun dan dirawat dengan penuh amanah.


Sebagai referensi, kita tak bisa melewatkan begitu saja fakta penanganan Perairan pada masa keemasan kekhilafahan Islam. Sebagai contoh, masa Abbasiyah di Baghdad, beberapa hal dilakukan dengan serius sebagai berikut.


1. Sistem Kanal dan Irigasi


Abbasiyah secara aktif membangun dan mengembangkan kanal-kanal besar untuk pengairan dan distribusi air. 


Kanal Nahr Isa adalah salah satu kanal penting di Baghdad yang menghubungkan Sungai Eufrat dan Tigris, digunakan tidak hanya untuk irigasi tetapi juga transportasi air. 


Kanal Nahrawan merupakan sistem irigasi utama di daerah timur Tigris, dan pada masa Abbasiyah kanal ini mencapai masa kejayaannya sebagai suplai air vital bagi wilayah pertanian dan ibu kota. 


2. Pembangunan Bendungan (Dam)


Abbasiyah membangun bendungan di Sungai Eufrat untuk mengatur aliran air, mengurangi risiko banjir sekaligus mendistribusikan air ke kanal-kanal irigasi. 


Bendungan ini juga memungkinkan perluasan pertanian di daerah yang sebelumnya sulit disiram secara teratur. 


3. Qanāt dan Sumur


Untuk memasok air ke dalam kota Baghdad, dibangun qanāt (terowongan air bawah tanah) yang mengambil air dari kanal Karkhāyā (salah satu cabang kanal) untuk penggunaan minum, pembuatan bata, dan menjaga kelembapan tanah untuk konstruksi. 


Sumur-sumur juga digali sebagai bagian dari sistem distribusi air kota. 


4. Teknologi Angkat Air


Abbasiyah memanfaatkan teknologi waterwheel (roda air / noria) untuk mengangkat air kanal ke tingkat yang lebih tinggi dan menyalurkannya ke berbagai sub-kanal kecil, taman, kebun, dan kolam. 


Penggunaan waterwheel ini menunjukkan kemajuan teknologi hidrolik di masa Abbasiyah untuk melayani kebutuhan sipil dan pertanian. 


5. Administrasi dan Biro Pengelolaan Air


Terdapat administrasi khusus yang mengelola air (irigasi dan kanal), misalnya disebut di beberapa sumber sebagai “Diwan al‑Aqrah” (departemen air) dalam manajemen air publik. 


Keberadaan biro khusus ini menunjukkan bahwa pengelolaan air dipandang sebagai isu penting pemerintahan Khalifah Abbasiyah, bukan hanya sekadar proyek lokal.


6. Infrastruktur Air Publik untuk Kota


Di kota seperti Baghdad, selain kanal besar, ada sistem distribusi air yang masuk ke dalam permukiman dan jalan-jalan kota agar air tetap tersedia, bahkan dalam musim panas dan musim dingin. 


Sistem ini membantu menjaga pasokan air kota, sekaligus mendukung kebersihan (misalnya pemandian publik) dan kegiatan sehari-hari warga kota.


Pada akhirnya, kekuatan sebuah jembatan bukan hanya pada beton yang menopangnya, tetapi pada nilai-nilai yang mengiringi pembangunannya: kejujuran, kehati-hatian, dan kepedulian. Jika nilai-nilai itu ditegakkan, jembatan seperti Cikaleho tidak hanya akan berdiri lebih lama, tetapi juga menjadi bagian dari warisan moral bagi generasi mendatang.


Wallahu a’lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update