Oleh: Rani (Pegiat Literasi)
Sebuah potret yang mengiris hati dari dunia pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Kasus yang menimpa Kepala SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, Dini Fitri, adalah bukti gambaran dari buruknya sistem pendidikan hari ini. Ia dilaporkan oleh orang tua murid karena diduga menampar seorang siswa bernama Indra yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Meski insiden tersebut akhirnya diselesaikan secara damai dan laporan polisi dicabut oleh pihak keluarga siswa, peristiwa ini menyisakan banyak pertanyaan. (detik.com, 30 Oktober 2025)
Di sisi lain, dunia maya dihebohkan pula dengan beredarnya foto seorang siswa SMA di Makassar berinisial AS, yang terlihat santai merokok sambil mengangkat kaki di samping gurunya. Dua peristiwa ini menggambarkan potret dilematis yang kini dihadapi para pendidik di era modern.
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperlihatkan bahwa fenomena remaja perokok kini telah menjadi masalah global. Sekitar 15 juta remaja berusia 13–15 tahun di dunia menggunakan rokok elektrik atau vape, dan mereka sembilan kali lebih berpotensi menggunakannya dibandingkan orang dewasa. Angka ini menjadi sinyal bahaya bagi masa depan generasi muda. (WHO Global Youth Tobacco Survey, 2024)
Dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja. Betapa rumitnya posisi seorang guru saat ini. Mereka dituntut untuk menegakkan disiplin, namun di sisi lain terikat oleh batas-batas hukum yang mengatasnamakan Hak Asasi Manusia — sementara tidak ada hukum yang benar-benar berpihak kepada mereka. Fenomena guru yang dilaporkan karena menegur atau mendisiplinkan siswa menunjukkan adanya ruang abu-abu dalam dunia pendidikan. Wibawa guru semakin tergerus, sementara siswa merasa memiliki kebebasan tanpa batas.
Ketika seorang guru menegakkan kedisiplinan, risikonya bukan lagi sekadar protes siswa, melainkan ancaman laporan hukum. Situasi ini membuat banyak guru merasa tidak berdaya dan enggan bertindak tegas, padahal pembentukan karakter justru memerlukan ketegasan dan keteladanan.
Saat ini generasi sudah krisis akan moral akibat sistem liberal. Fenomena siswa yang berani melawan, tidak menghormati guru, hingga merokok di sekolah, tidak lepas dari sistem yang membentuk mereka. Sistem pendidikan sekuler yang berakar pada paham liberal memberi ruang kebebasan tanpa batas kepada siswa, tetapi melupakan nilai moral dan spiritual. Akibatnya, muncul generasi yang merasa bebas berbuat apa saja, bahkan di luar batas etika.
Merokok bagi sebagian remaja dianggap simbol kedewasaan dan kebanggaan agar terlihat keren. Namun di balik itu, mudahnya akses terhadap rokok menjadi bukti lemahnya pengawasan negara terhadap perilaku konsumtif yang membahayakan generasi muda. Inilah potret negara yang abai terhadap pembinaan moral remaja.
Segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal, tetap tidak dibenarkan. Namun demikian, perlu disadari bahwa pendidikan sejatinya adalah proses pembentukan kesadaran, bukan sekadar transfer pengetahuan. Remaja perlu dibimbing agar memahami siapa dirinya, tujuan hidupnya, dan arah yang harus ia tempuh.
Dalam sistem pendidikan saat ini tidak ada perlindungan yang jelas bagi guru. Guru berada dalam tekanan yang luar biasa. Mengingatkan seseorang yang bersalah adalah salah satu bagian dari amar makruf nahi mungkar, tentu bukan melalui kekerasan, melainkan dengan tabayun dan pendekatan yang bijak untuk mengetahui latar belakang seseorang melakukan kesalahan.
Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini memberikan ruang kebebasan, terbukti telah gagal mencetak peserta didik yang bertakwa dan berakhlak mulia. Perlu menanamkan kembali nilai-nilai fundamental seperti sopan santun dan rasa hormat kepada guru.
Dalam Islam, guru adalah pilar peradaban, posisinya dihormati dan dimuliakan karena tugasnya membentuk kepribadian muridnya. Guru bukan hanya gudang ilmu, namun pendidik yang memberikan suri teladan bagi muridnya.
Dalam Islam, hukum merokok memang mubah, tapi di sisi lain tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain. Merokok bisa membahayakan kesehatan bagi perokok aktif maupun pasif. Selain itu juga menjadikan hidup boros.
Sistem pendidikan Islam mengajarkan bagaimana pelajar mempunyai pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam. Melahirkan generasi yang mempunyai kesadaran bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Bahwa remaja muslim harus berprinsip dan bangkit menjadi generasi yang beriman, bukan generasi yang merusak. Wallahu'alam

No comments:
Post a Comment