Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Zionis Terus Menindas Rakyat Palestina, Jihad dan Persatuan Ummat Islam Solusinya

Monday, October 06, 2025 | Monday, October 06, 2025 WIB Last Updated 2025-10-06T03:11:40Z



Oleh Ummu Muthya 

Ibu Rumah Tangga 


Kondisi di Jalur Gaza bertambah buruk setelah sinyal internet dan jaringan telekomunikasi kembali terputus total. Pemadaman akses internet ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan dampak langsung dari strategi militer Israel yang menargetkan prasarana penting, termasuk jalur komunikasi utama. Ini terjadi bertepatan dengan masuknya tank-tank Israel ke jantung Kota Gaza, memperkuat dugaan bahwa serangan ke jaringan telekomunikasi dilakukan bersamaan dengan strategi darat. Menurut pernyataan resmi Perusahaan Telekomunikasi Palestina (Paltel), layanan telekomunikasi lumpuh akibat pengeboman terhadap rute jaringan inti. (Tribunnews.com. 18/9/2025)


Lumpuhnya akses telekumunikasi akibat pengeboman bagi rakyat sipil dampaknya sangat besar. Dengan matinya internet dan telepon, warga terpisah dengan keluarga tanpa kabar. Lembaga kemanusiaan kesulitan untuk membantu korban dan rumah sakitpun terhambat dalam mengevakuasi korban. 


Masuknya  tank-tank ke jantung Kota Gaza bertujuan untuk mengepung warga sipil dari berbagai arah sekaligus mengosongkannya, baik utara, selatan, timur dan barat Gaza city. Zionis juga membuka jalan Al-Din  48 jam selama evakuasi. 


Tak dimungkiri, kebrutalan Zionis menghabisi warga Palestina mendapat dukungan penuh negara adidaya dan sekutunya yaitu Amerika beserta penguasa negeri Arab. Buktinya sudah jelas dengan sikap dan pernyataan Donald Trump di beberapa media termasuk saat gencatan senjata (perjanjian damai) terjadi pada 15 Januari 2025. Amerika yang disebut sebagai salah satu mediator gencatan senjata tak sedikit pun bereaksi saat Israel melanggar isi perjanjian tersebut dengan tetap menembaki anak-anak Gaza.  Bahkan hingga kini kondisi Palestina kian mengkhawatirkan. Bukan semata dibombardir tapi juga dilaparkan secara sistemis. 


Untuk mengusir dan menghapus penjajahan yang dilakukan Zionis Yahudi adalah dengan mengerahkan  perlawanan secara militer. Karena apa yang dilakukan Zionis terhadap Palestina tidak bisa dihadapi dengan bahasa diplomasi atau konferensi melainkan bahasa perang. Zionis tak kenal bahasa damai ataupun menyerah dihadapan umat Islam terlebih sikap permusuhannya dan Yahudi merupakan kaum yang paling keras kepada kaum muslim. Allah telah menjelaskan dalam Al-Quran:


"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." (QS Al-Maidah; 82) 


Dengan demikian, membebaskan Palestina dari penjajahan kufar merupakan tanggung jawab umat Islam, hanya saja kewajiban ini bisa terlaksana jika umat bersatu dalam satu komando dan satu kepemimpinan yakni jihad fisabilillah. 


Kemerdekaan Palestina secara hakiki bukanlah sebuah kemustahilan karena pernah terwujud secara nyata, bukan dengan solusi negara-negara imperialis Barat seperti two nation state, tetapi menggunakan solusi Islam. Realitasnya tampak secara terang benderang dalam bentangan sejarah Khilafah sejak masa Khulafaurasyidin hingga Utsmaniyah. Yakni masa Khalifah Umar bin Khattab, Sultan Shalahuddin Al Ayyubi dan terakhir masa Khalifah Abdul Hamid II. Ketiganya tercatat sebagai tokoh besar dalam membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah.


Setelah runtuhnya Kekhilafahan Utsmaniyah (1924), tidak ada lagi penguasa dan militernya melindungi Palestina dari musuh. Tidak ada satu pun penguasa muslim di lebih dari 50 negara yang menggelorakan jihad untuk menumpas penjajah Yahudi dan mengusirnya dari bumi Palestina. Tanpa dukungan militer dan jihad kaum muslimin,  Gaza tetap sendirian melawan pendudukan dan genosida. Dengan batu, tangan kosong, dan tubuh yang lemah dalam keadaan kelaparan mereka berdiri tegak melawan penjahat yang menduduki Al-Aqsa dan sekitarnya.


Wallahu a'lam bish shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update