Zahrah (Aktivis Dakwah)
Wacana Two State Solution kini kembali digaungkan oleh Amerika dan didukung oleh banyak negara termasuk Indonesia. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto kembali menegaskan dukungannya terhadap wacana tersebut. Pada Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS. Beliau menegaskan posisi Indonesia yang mendukung penuh kemerdekaan Palestina agar tercipta perdamaian sambil mendukung keamanan Israel (Tribunnews, 23/09/2025).
Solusi dua negara terus didengungkan sebagai solusi atas konflik di Palestina. Meskipun saat ini terjadi gencatan senjata dan pertukaran sandera menjadi angin segar bagi warga Palestina akan tetapi mundurnya tentara Zionis tak membuat serangan terhadap warga Palestina terhenti. Hal ini dibuktikan dengan syahidnya jurnalis Shaleh Al-Ja’rofi usai gencatan senjata setelah diculik dan ditembaki tujuh peluru. Pesimis rasanya Palestina akan merasa damai, karena Yahudi tidak pernah bisa dipercayai. Dibalik jargon diplomatik two state solution, terselip kenyataan pahit, Solusi dua negara hanya solusi damai yang melanggengkan penjajahan Zionis dan mengamankan kepentingan Barat di Timur Tengah.
Konsep Two State Solution bukanlah gagasan rakyat Palestina, ia lahir dari ketamakan Barat yang menginginkan agar Zionis Israel terselamatkan dari kecaman dunia Internasional. Konsep ini sangat merugikan warga Palestina karena Israel dijamin akan mendapatkan wilayah subur di Galilea serta mayoritas garis Pantai sedangkan Palestina hanya akan mendapatkan tanah-tanah tandus, Gurun Negev serta wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Selain itu Palestina akan berdiri tanpa kedaulatan penuh, tanpa kontrol perbatasan bahkan tanpa kekuatan militer. Hamas dipaksa melucuti senjatanya.
Inilah bentuk kemerdekaan yang dijanjikan: menjadi negara diatas reruntuhan dan dikelilingi tembok-tempok besar. Palestina jadi penjara terbesar di dunia. Namun Barat terus saja menjual ide dua negara sebagai solusi damai. Padahal kenyataannya ini bukan solusi damai, ini strategi legalisasi penjajahan.
Amerika serikat dan sekutunya tidak pernah benar-benar peduli pada penderitaan rakyat Palestina. Meskipun berbagai perundingan terus dilakukan di meja bundar PBB. Fokus utama mereka adalah menjaga setiap kepentingan mereka di Timur Tengah melalui antek mereka, Israel. Selain itu, konsep dua negara akan melemahkan solidaritas dunia islam, agar pembebasan Palestina berubah sekedar isu kemanusiaan tanpa basis ideologis yang menjauhkan muslim dari solusi hakiki atas konflik yang terjadi.
Mirisnya, banyak pemimpin negeri-negeri muslim ikut berkontribusi dalam skenario jahat ini. Mereka menyerukan perdamaian dan mendukung warga Palestina tapi disisi lain mereka bungkam terhadap penjajahan Israel atas warga Palestina bahkan mendukung Zionis Penjajah. Dengan alasan politik realistis, dan kecintaan mereka terhadap kekuasaan mereka justru meninggalkan jihad dan persatuan umat, padahal itulah solusi hakiki pembebasan Palestina.
Sejatinya Gaza tidak butuh konsep Two State Solution. Gaza butuh dunia islam Bersatu. Karena dengan bersatunya seluruh kaum Muslimin dibawah satu panji, satu komando yakni kholifah maka jihad bisa dilaksanakan dan Palestina bisa dibebaskan. Sebagaimana Umar bin Khattab dan Sholahuddin Al-Ayyubi membebaskan Palestina. Karena persatuan kaum Muslimin menjadi momok menakutkan bagi Israel dan Amerika serta sekutu-sekutunya. Untuk itu Solusi hakiki konflik Palestina tidak lain tidak bukan hanya dengan jihad dan Khilafah. Wallahu a’lam bi showwab.
\

No comments:
Post a Comment