Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)
Saat ini solusi dua negara terus didengungkan seakan menjadi solusi atas konflik di Palestina. Tak urung, KTT Khusus Penyelesaian Damai atas Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara pun diadakan sehari menjelang Sidang Majelis Umum PBB yang ke-80 (23-9-2025). Lebih dari 150 negara telah mengakui negara Palestina, termasuk Inggris dan Prancis.
Demikian juga PBB, secara de facto kemerdekaan Palestina pun diakui. Lebih dari tiga perempat anggota PBB mengakuinya. Tetapi untuk pengakuan secara de jure, masih harus diputuskan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB, karena selama ini AS selalu memvetonya.
Realitas buruknya, walau pengakuan PBB atas negara Palestina telah rilis, tidaklah membuat entitas Zion*s mengurangi serangannya. Zion*s masih terus saja membombardir Gaza hingga Jumat (3-10-2025). 65.000 jiwa melayang hingga kini.
Kondisi ini telah menyiratkan betapa monster Z1on*s sudah tidak bisa diderajatkan sebagai manusia, bahkan hewan sesat sekalipun. Monster ini telah menghabisi manusia yang bukan haknya. Menghisap darah dan menjagal satu demi satu, anak orangtua, hidup manusia dan ruang hidup dengan senjata yang mengalirkan genangan darah dan airmata. Menghilangkan nyawa tanpa rasa tanpa iba.
Fakta derita Gaza sudah penuh dalam lembaran kelam kehidupan manusia. Fakta kejamnya Z1on*s terpampang nyata penuh tipu daya membungkam para penguasa Muslim menjadi seakan tanpa daya. Fakta diamnya dunia bukan lagi kilasan bewara yang diambil bagai sebuah kebangkitan umat manusia yang menyembulkan slogan pembangkit manusia. Tak cukup jika itu diduplikasi sebagai suara yang akan selesaikan derita Gaza. Butuh hal yang sangat mendasar untuk selesaikan genosida Gaza.
Gaza terus dihujani petaka demi petaka. Saat Sumud Flotilla menggeruduk sebagai pasukan kemanusiaan, menggaungkan teriakan agar para penguasa negeri muslim bergeming, para penguasa muslim seakan bersepakat hanya mengecam dan mengancam tanpa bersegera . Ditambah lagi adanya solusi dua negara yang mereka gaungkan menjadi fakta menyakitkan. Mereka rela menjadi para agen pemberi solusi palsu yang memihak penjajah dan mengabaikan saudara seakidah. Mereka seakan ridho solusi dua negara walau berpotensi menjegal Palestina bebas secara hakiki.
Mereka terus saja harmonis dengan AS, bahkan menormalisasi relasi dengan Z1on*s. Bagai kerbau dicucuk hidung mereka tunduk pada kepentingan AS dan Barat demi mengamankan kepentingan nasional masing-masing. Harta, jabatan, dan kekuasaan telah mematikan nilai ukhuwah islamiah. Kepayahannya telah menjatuhkan mereka pada posisi terlemah di hadapan musuh Allah Ta'ala. Lalu, tidak pantaskah kalau disebut secara tidak langsung bahwa para penguasa muslim itu juga terlibat dalam aksi genosida saudara seiman di Gaza?
Lupakah mereka akan ayat Allah Ta'ala?
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ
“Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 190).
Juga ayat,
وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ
“Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib menolong mereka.”(QS Al-Anfal [8]: 72).
Juga sabda Rasulullah saw.,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari dan Muslim).
Atau mereka memang melupakannya? Mereka menghapus memori tentang pentingnya persaudaraan dan solidaritas di antara umat Islam sebagai satu tubuh. Jika satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh akan merasakannya. Mereka menutupi petunjuk tentang sesama muslim itu ada satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Mereka mengabaikan itu semua.
Gaza Bukan Ajang Basa Basi
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتابِ لَكانَ خَيْراً لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفاسِقُونَ
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [3]: 110).
Kondisi Gaza yang teraniaya dan keterpurukan kaum Muslim di hamparan bumi lainnya jauh dari profil Khairu Ummah yang telah diberikan oleh Allah Ta'ala.
Hancurnya benteng perlindungan politik terhadap jiwa, harta, dan kehormatan mereka, Khilafah Islamiah, institusi penegak syariat kafah pada 1924 di tangan durjana kafir penjajah Barat, telah menurunkan derajat Khairu Ummah. Persekongkolan Barat atas realisasi mandat keji Perjanjian Sykes-Picot yang memecah belah Khilafah menjadi wilayah-wilayah kecil bernama negara bangsa (nation state) seperti yang ada sekarang ini memorakporandakan kemuliaan kesatuan umat.
Kekejian terus sambung menyambung, berlanjut saat Deklarasi Balfour merestui tegaknya negara Yahudi di tanah suci Palestina mengaruskan gelombang tsunami perampasan wilayah yang terus-menerus terjadi di Palestina. Gaza sebagai benteng terakhir kaum muslim Palestina yang belum ternoda oleh tangan Z1on*s pun berlumuran darah. Darah kaum muslim. Darah para syuhada. Darah saudara kita.
Mampukah kita membayangkan kondisi yang kian memburuk pada umat Rasulullah saw. jika jihad di Gaza pun dilucuti? Mampukah kita membisu untuk suarakan seruan itu?
Jangan biarkan Palestina yang pertama kali dibebaskan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab ra., kemudian dibebaskan kedua kalinya oleh Shalahuddin al-Ayyubi, dan sepanjang sejarah, Palestina tetap berada dalam kesatuan wilayah Khilafah hingga tetes darah penghabisan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II yang melindunginya dari segala upaya busuk Z1on*s yang ingin menguasainya, mampukah kita biarkan begitu saja?
Derita Gaza harus disudahi. Gaza bukan ajang basa basi. Kehormatan, kemuliaan, dan pembebasan Palestina harus diwujudkan. Dan hanya dengan tegaknya Khilafah semua riil tergambarkan. Karena sampai saat ini belum ada yang mampu memberi jawaban pasti dan menyudahi derita Gaza.
Sungguh Khilafah adalah janji Allah Taala yang senantiasa kita nantikan, sebagaimana di dalam ayat,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nur [24]: 55).
Berpegang teguh pada metode dakwah Rasulullah saw., juga mencontoh khulafaurasyidin dan khulafa sepanjang peradaban Islam yang mulia menjadi sangat urgen. Mewujudkan Dan terwujudnya Khilafah yang dijanjikan Allah Ta'ala menjadi hal harus diperjuangkan.
Gambaran pembelaan Khilafah pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang pernah membela seorang muslimah yang dilecehkan oleh tentara Romawi di Kota Ammuriah, di mana peristiwa ini membuat sang khalifah menerjunkan puluhan ribu pasukannya untuk menyerbu Ammuriah selama lima bulan hingga berhasil membebaskan muslimah dan kota tersebut dari tangan Romawi, adalah gambaran nyata yang bukan hanya sekadar cerita. Namun aksi nyata
Saat Khilafah bersikap tegas kepada pihak-pihak yang hendak merampas wilayahnya, sebagaimana sikap Sultan Abdul Hamid II saat Theodore Herzl, tokoh pendiri negara Z1on*s Yahudi yang meminta tanah Palestina untuk permukiman Yahudi lalu permintaan itu ditolak secara tegas oleh Sultan Abdul Hamid II dengan perkataan yang diwakilkan kepada perdana menterinya, “Nasihati Herzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah Palestina ini karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan Palestina. Mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Silakan Yahudi menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhalifahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, selama aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku sendiri daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiah.” Ini riil menunjukkan betapa sistem Islam Kaffah dalam bingkai Khilafah telah mewujud dalam keberanian nyata untuk melindungi wilayah kaum Muslim.
Hendaknya kita jangan melupakan perkataan Khalifah Umar bin Khaththab ra., “Dahulu kita adalah kaum yang paling hina, tetapi Allah memuliakan kita dengan Islam. Kapan saja kita meminta kemuliaan selain dari apa yang telah dimuliakan Allah terhadap kita maka Allah akan menghinakan kita.” Karena kemuliaan umat hanya akan diraih dengan Islam, yakni akidah yang tidak hanya diyakini, tetapi juga diterapkan secara kaffah di dalam institusi Khilafah.
Oleh karena itu, tegaknya Khilafah harus diperjuangkan. Umat Islam harus memiliki kesadaran dan menumbuhkan kebutuhan terhadap perjuangan penegakan Khilafah itu. Langkah menuju tegaknya Khilafah ini membutuhkan kepemimpinan sebuah jemaah dakwah Islam ideologis yang tulus mengajak umat untuk berjuang.
Jemaah dakwah Islam ideologis yang tulus memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kafah, sebagaimana kutlah (kelompok) dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. saat menapaki aktivitas dakwah di Makkah hingga tegaknya Daulah Islam yang pertama di Madinah, menjadi sangat penting jika kita menghendaki adanya kemenangan dan kemuliaan Islam.
Rasulullah saw. menempuh tiga tahapan (marhalah) dakwah.
Pertama, tahap pembinaan (tatsqif), yaitu tahapan ketika Rasulullah saw. membina para sahabat di Darul Arqam. Rasulullah saw. membangkitkan aktivitas berpikir di tengah-tengah para sahabat tentang ayat-ayat Allah. Beliau membina akal mereka dengan pemikiran dan pemahaman Islam. Beliau menjadikan mereka orang-orang yang sabar menghadapi penderitaan serta rida terhadap ketaatan dan kepemimpinan. Ketika tsaqafah mereka sudah matang, akal mereka telah terbentuk menjadi akal yang islami (akliah islamiah) dan jiwa mereka sudah menjadi jiwa yang islami (nafsiah islamiah). Kesadaran hubungan mereka dengan Allah tampak menonjol pengaruhnya dalam perilaku mereka.
Kedua, tahap interaksi dengan umat (tafa’ul ma’al ummah). Ini adalah momentum saat dakwah dilaksanakan secara terang-terangan. Dari tahap kontak dengan orang-orang yang simpati dan siap menerima dakwah, menuju tahap menyeru seluruh lapisan masyarakat. Pada saat itu akan terjadi benturan antara keimanan dan kekufuran, juga gesekan antara pemikiran yang benar dan rusak.
Ketiga, tahap pengambilalihan kekuasaan (tathbiq al-ahkam), yaitu dalam rangka mengemban dan melanjutkan tahapan dakwah kepada tahapan praktis berupa penerapan Islam dan pengembanan risalahnya dengan kekuatan negara dan penguasanya. Tahapan ini ditandai dengan peristiwa saat rombongan dari Madinah yang beranggotakan 75 orang membaiat Rasulullah saw. dalam momentum Baiat Aqabah II. Baiat ini tidak lagi sebatas komitmen dakwah dan kesabaran menghadapi kesengsaraan, tetapi juga mencakup kekuatan yang akan mampu membela dan melindungi kaum muslim dalam institusi negara. Orang-orang dari Madinah itu membaiat Rasulullah saw. dalam rangka melindungi beliau seperti mereka melindungi istri-istri dan anak-anak mereka.
Allaahu Akbar. Gambaran semua itu menjadi aktivitas utama dan efektif untuk membebaskan Palestina dari belenggu kuat penjajah Z1on*s Yahudi. Perjuangan pembebasan Palestina akan terwujud secara tuntas ketika Khilafah tegak. Khilafah akan mengomando satu kesatuan pasukan jihad untuk membebaskan Palestina secara menyeluruh.
Perjuangan menyeru umat harus terus berlanjut. Gaza terlalu lama penuh derita. Kita tidak layak mendiamkannya. Kita, umatnya Nabi Muhammad saw., hamba Allah Ta'ala yang diperintahkan untuk menolong saudaranya harus terus berada dalam perjuangan nyata, mewujudkan kembali kemuliaan Islam dan kaum muslim untuk menyudahi hancurnya Gaza.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment