Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ramai di Dunia Maya, Sepi di Dunia Nyata

Tuesday, October 14, 2025 | Tuesday, October 14, 2025 WIB Last Updated 2025-10-14T03:16:18Z

 


Oleh. Ummu Hamizan (Praktisi Pendidikan)


KITA hidup di masa di mana semua orang terlihat terhubung. Setiap hari, notifikasi berdenting, pesan datang silih berganti, dan linimasa terus bergerak tanpa henti. Tapi ironisnya, di balik semua itu, banyak orang justru merasa sendirian. Perasaan terhubung di media sosial ternyata tak selalu berarti kita benar-benar “terhubung” secara emosional.

Fenomena ini sampai menarik perhatian mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dilansir dari detik.com, mereka melakukan riset berjudul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual.” Hasilnya cukup mengejutkan, bahwa di dunia yang serba digital ini, rasa sepi justru makin dalam.

Teori Hiperrealitas

Menurut teori hiperrealitas, dunia digital sering kali terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Apa yang ditampilkan di layar ponsel bisa membentuk emosi, cara pandang, bahkan kepribadian seseorang. Orang yang bahagia di media sosial belum tentu bahagia di kehidupan nyata. Dan yang paling menakutkan, banyak orang mulai kehilangan kemampuan membedakan antara “kehidupan digital” dan “kehidupan sesungguhnya”.

Kita bisa melihatnya sehari-hari. Banyak orang begitu aktif di TikTok, Instagram, atau X (Twitter), tapi di dunia nyata hampir tak punya teman dekat untuk diajak bicara dari hati ke hati. Bahkan, di tengah keluarga sendiri, komunikasi sering hanya sebatas saling melihat layar. Semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing.

Para peneliti menyebut, generasi Z adalah kelompok yang paling rentan terhadap fenomena ini. Mereka tumbuh di era digital, tapi justru paling merasa kesepian, paling mudah insecure, dan paling sering mengalami gangguan kesehatan mental. Banyak yang menyalahkan kurangnya literasi digital atau manajemen waktu bermain gawai, tapi persoalannya jauh lebih dalam dari itu.

Akar Masalah: Kapitalisme

Akar masalahnya ada pada sistem besar yang mengatur kehidupan kita: sistem ekonomi dan budaya yang digerakkan oleh industri kapitalis. Media sosial diciptakan bukan untuk mempererat hubungan manusia, tapi untuk membuat pengguna terus terhubung dengan layar demi mendatangkan keuntungan. Emosi, perhatian, bahkan waktu kita semuanya jadi komoditas.

Akibatnya, masyarakat makin sulit bersosialisasi di dunia nyata. Semakin banyak orang yang merasa canggung di pertemuan langsung, bahkan merasa asing di tengah keluarganya sendiri. Hubungan antarmanusia kehilangan kehangatan, tergantikan oleh “like” dan emoji. Padahal, manusia sejatinya makhluk sosial yang butuh sentuhan nyata, bukan sekadar notifikasi.

Kalau dibiarkan, sikap asosial dan rasa kesepian ini bisa berdampak buruk bagi masa depan umat. Terutama generasi muda yang sebenarnya punya potensi besar untuk berkarya dan memimpin perubahan akan terjebak dalam dunia yang semu. Mereka sibuk membangun citra digital, tapi kehilangan arah untuk membangun peradaban nyata.

Solusi: Kembali pada Nilai Islam

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk sadar dan bijak mengelola media sosial. Dunia maya memang menawarkan koneksi, tapi tanpa kendali, justru bisa membuat kita terputus dari realitas. Jangan sampai kita ramai di dunia digital tapi kehilangan kemampuan mencintai, peduli, dan berinteraksi di dunia nyata.

Selain itu, umat perlu kembali menjadikan nilai-nilai Islam sebagai identitas utama bukan hanya dalam ibadah, tapi juga dalam cara bersosialisasi, berkomunikasi, dan berinteraksi. Dengan begitu, kita tidak mudah terseret arus budaya sekuler-liberal yang menuhankan kebebasan tanpa arah. Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara sosial dan spiritual.

Terakhir, negara juga punya peran penting dalam mengatur dan mengarahkan penggunaan dunia digital agar membawa manfaat. Pemerintah perlu mendorong generasi muda untuk tetap produktif, kreatif, dan berkontribusi menyelesaikan persoalan umat. Dengan kepemimpinan yang berlandaskan nilai Islam dan berpihak pada kebaikan rakyat, dunia digital bisa menjadi sarana membangun peradaban bukan tempat di mana manusia justru kehilangan jati dirinya. Wallahualam bishawab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update