Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pesantren: Benteng dan Ruang Ideologis Kebangkitan Umat

Friday, October 17, 2025 | Friday, October 17, 2025 WIB Last Updated 2025-10-17T14:26:28Z

 

Oleh: Ummu Almahira 

(Aktivis Muslimah)


Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak seluruh komponen pondok pesantren di Indonesia untuk menjadikan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional dan Internasional sebagai “anak tangga pertama” menuju kembali “The Golden Age of Islamic Civilization” (Zaman Keemasan Peradaban Islam). Menag menegaskan bahwa kebangkitan kembali peradaban emas ini harus dimulai dari lingkungan pesantren (Kemenag.go.id, 02/10/2025).


Seruan tersebut seharusnya menjadi refleksi mendalam bagi umat Islam, khususnya dunia pesantren, untuk meninjau ulang arah pendidikan dan dakwah hari ini. Karena pada dasarnya, kebangkitan Islam tidak akan diperoleh hanya dengan seremoni lomba, ajang penghargaan, ataupun kegiatan seremonial tahunan lainnya. Kebangkitan sejatinya menuntut perubahan mendasar dalam pola berpikir, berperilaku, bahkan bernegara yakni dengan menjadikan Islam sebagai asas kehidupan dalam seluruh aspek, bukan sebatas simbol keagamaan.


Kebangkitan Islam Butuh Sistem

Selama ini, pesantren selalu dikenal sebagai tameng terakhir dalam pendidikan Islam. Akan tetapi, sejak runtuhnya Daulah Islamiyyah, arus liberalisasi pendidikan telah mulai merembes ke dalam dunia pesantren. Banyak pesantren saat ini lebih diarahkan untuk menjadi lembaga pendidikan modern yang harus menyesuaikan diri dengan tuntutan kapitalisme pasar, mencetak tenaga kerja siap pakai, mengejar sertifikasi, dan beradaptasi dengan sistem pendidikan sekuler.


Kurikulum pesantren perlahan diarahkan agar selaras dengan “standar nasional” yang notabene berlandaskan paradigma sekularisme, bukan paradigma Islam kaffah. Akibatnya, ruh ideologis pesantren mulai memudar. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan Islam di masa lalu justru berawal dari lingkungan ilmiah yang membangun kesadaran politik dan peradaban Islam, bukan sekadar pengajaran teks-teks agama secara ritualistik.


Pesantren dahulu melahirkan para ulama dan pemimpin besar bukan hanya ahli agama, tapi juga negarawan, pejuang, dan pemikir ideologis. Mereka tidak hanya mengajarkan fikih dan tafsir, tetapi juga menanamkan visi politik Islam dan tanggung jawab umat terhadap urusan dunia dan akhirat. Maka, jika hari ini pesantren hanya diarahkan untuk “beradaptasi dengan zaman”, tanpa membimbing santrinya memahami sistem Islam secara menyeluruh, maka ajakan menuju The Golden Age akan berhenti di tataran wacana.


Peradaban Islam tidak akan bangkit hanya karena semangat nostalgia terhadap masa keemasan. Zaman keemasan itu bukan hasil kebetulan, tetapi buah dari penerapan sistem Islam kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyyah. Di bawah naungan sistem itu, pesantren (atau madrasah di masa lalu) berperan besar dalam mencetak ulama, ilmuwan, dan pemimpin umat. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, tapi tidak terlepas dari iman dan syariah.


Kini, umat justru dipisahkan dari sistem hidup yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Akibatnya, meski jumlah pesantren bertambah, namun pengaruhnya terhadap arah peradaban global sangat kecil. Pesantren sibuk dengan kompetisi administratif, akreditasi, dan lomba, tetapi kehilangan peran strategisnya sebagai motor ideologis kebangkitan umat.


Kebangkitan Islam yang hakiki harus dimulai dengan kebangkitan kesadaran politik umat Islam kesadaran bahwa Islam bukan hanya agama spiritual, tetapi sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan diantaranya politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan pemerintahan. Pesantren seharusnya menjadi tempat melahirkan generasi yang memahami dan memperjuangkan penerapan sistem Islam secara total, bukan hanya menghasilkan santri yang “pintar agama” namun terkungkung dalam sekat nasionalisme dan pragmatisme.


Pesantren Sebagai Basis Dakwah Ideologis

Dalam sejarah Islam, lembaga pendidikan selalu menjadi basis dakwah ideologis. Rasulullah SAW. membina para sahabat di Dar al-Arqam, bukan sekadar mengajarkan ibadah, tapi menanamkan pemahaman politik Islam, yaitu bagaimana mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islam. Dari majelis kecil itu lahir generasi yang siap menegakkan Daulah Islam di Madinah.


Begitu pula para ulama besar seperti Imam Abu Hanifah, Al-Ghazali, dan Ibn Khaldun, mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memperjuangkan penerapan hukum Allah di muka bumi. Maka, peran pesantren harus kembali ke jalur itu: menjadi tempat lahirnya pejuang intelektual yang memahami urgensi penerapan syariah dan khilafah sebagai solusi bagi krisis peradaban umat manusia hari ini.


Dengan demikian, kebangkitan Islam tidak cukup hanya dengan membaca kitab klasik, tetapi harus melahirkan kesadaran kolektif untuk menegakkan sistem Islam secara menyeluruh. Demikianlah makna sejati dari The Golden Age yang selalu menjadi buah bibir sebagai masa ketika Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam karena diterapkan dalam kehidupan nyata, bukan sekadar dikenang dalam sejarah atau diulang dalam lomba keagamaan.


Kebangkitan Islam tidak akan terwujud selama umat masih terikat pada sistem kapitalisme dan nasionalisme yang memecah belah. Dunia Islam hari ini tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara dengan batas buatan kolonial. Masing-masing sibuk dengan kepentingan nasionalnya sendiri, sementara saudara mereka di Palestina, Suriah, dan Rohingya terus menderita.


Khilafah Islamiyyah adalah sistem yang akan mempersatukan umat di bawah satu kepemimpinan, menegakkan keadilan, dan mengembalikan ilmu serta pesantren pada fungsinya semula: sebagai mercusuar peradaban. Dalam sistem itu, pesantren akan menjadi pusat lahirnya para ulama, ilmuwan, dan pemimpin umat yang tak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kokoh dalam ideologi Islam.


Maka, seruan Menag seharusnya tidak berhenti pada slogan The Golden Age, tetapi menjadi pemicu untuk mengembalikan pesantren pada perannya yang hakiki, yaitu membina umat menuju kebangkitan Islam kaffah di bawah naungan khilafah. Hanya dengan itu, kejayaan Islam akan benar-benar terwujud bukan sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang menerangi dunia dengan cahaya keadilan dan ilmu. Wallahu'alam bis shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update