Oleh: Fatimatuzzahroh
(Praktisi Pendidikan)
Manusia adalah makhluk sosial. Artinya manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain. Namun, definisi ini telah berubah seiring perkembangan teknologi digital. Munculnya perasaan kesepian meskipun terhubung di sosial media. Hal ini disebabkan seseorang bisa begitu aktif di dunia maya tetapi minim interaksi sosial.
Fenomena ini menarik perhatian mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY. Mereka melakukan riset berjudul "Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual". Menurut teori hiperrealitas, representasi digital kerap dianggap lebih 'nyata' daripada realitas itu sendiri, sehingga emosi yang dibentuk media dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang.
Masyarakat di era digital banyak yang merasa kesepian di tengah hiruk-pikuk bermedia sosial, utamanya Gen Z. Mereka disebut generasi yang paling merasa kesepian, insecure (minder), dan efek lebih parahnya mengalami gangguan mental. Semua ini bukan sekedar persoalan kurangnya literasi digital dan manajemen penggunaan gawai.
Melainkan dampak industri kapitalis yang telah membuat arus di media sosial, menimbulkan dampak buruk, diantaranya sikap asosial. Masyarakat sulit bergaul di dunia nyata. Karena waktu mereka lebih banyak digunakan untuk menggunakan gawai daripada melakukan aktivitas secara nyata dalam kehidupan mereka. Lebih parahnya lagi, di tengah keluarga pun pola hubungan diantara anggota keluarga terasa jauh, karena saat mereka berada dirumah setiap anggota keluarga sibuk dengan gawainya sendiri, tidak ada kegiatan mengobrol dan melakukan aktivitas bersama.
Sikap asosial dan perasaan kesepian akan berdampak buruk dan merugikan umat. Terlebih bagi generasi muda yang sebenarnya punya potensi besar untuk menghasilkan karya-karya produktif, akan menjadi generasi yang lemah tak berdaya. Kepedulian terhadap persoalan umat juga tak akan mampu dipotret oleh masyarakat yang terjebak dalam kesepian dirinya.
Masyarakat harus segera menyadari bahwa pengaruh media sosial yang tidak dikelola dengan bijak akan menjadikan banyak orang makin asosial dan merasa kesepian di tengah keramaian. Fenomena ini akan merugikan umat. Pola aktivitas saat di sekolah, dirumah, atau di masyarakat diupayakan seminimal mungkin terbebas dari gawai. Hal ini bertujuan agar ada interaksi produktif untuk melakukan kegiatan bersama. Akibatnya akan menimbulkan rasa saling membutuhkan sehingga tidak ada perasaan kesepian.
Masyarakat harus menjadikan Islam sebagai identitas utama, sehingga tidak terus menerus menjadi korban sistem sekuler liberal. Islam memandang teknologi sebagai sarana yang memudahkan dalam berinteraksi dan berdakwah. Bukan sekedar sarana menghasilkan uang. Sehingga konten yang di upload ke media bukan sesuatu yang dapat merusak mental seseorang, melainkan sesuatu yang produktif untuk membangun generasi, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam alquran Allah berfirman QS. Addzariat ayat 56 berbunyi "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Ibadah di sini tidak hanya terbatas pada ritual shalat, puasa, dan baca Al-Qur'an, melainkan mencakup segala bentuk pengabdian diri, ketaatan, dan kesungguhan dalam menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.
Peran negara penting dalam mengendalikan pemanfaatan dunia digital dan mendorong masyarakat khususnya generasi muda agar tetap produktif dan berkontribusi dalam menyelesaikan problematika umat. Misalnya negara memberikan fasilitas belajar online secara gratis, memberikan informasi yang benar bukan hoaks, menyebarkan konten yang menguatkan keimanan, dan negara akan memblokir konten yang merusak seperti judol, konten pornografi, dan konten yang merusak mental. Semua itu hanya dapat diwujudkan dalam system yang menerapkan islam secara kaffah yaitu khilafah ala minhajin nubuwah. Wallahualam bi showab

No comments:
Post a Comment