Oleh. Irohima
(Pegiat Literasi)
Bertahan di tengah ketidakpastian bisa menyebabkan seseorang akan terjebak dalam situasi yang merugikan. Namun ‘melepaskan pekerjaan di tengah kacaunya kondisi perekonomian dan minimnya peluang untuk mendapatkan, membuat bertahan menjadi keputusan yang diambil dengan penuh kesadaran tatkala dihadapkan pada situasi ‘tidak ada pilihan’ yang menenangkan.
Hal inlah yang kini tengah melanda kalangan pekerja millenial dan Gen Z. Mereka lebih memilih bertahan dalam pekerjaannya ketimbang mengambil risiko pindah pekerjaan.
Jika dulu Job Hopping (berpindah-pindah pekerjaan) menjadi kebiasaan umum anak muda, namun sekarang semua telah berubah. Situasi pasar kerja yang penuh dengan ketidakpastian saat ini serta peluang yang sulit didapatkan membuat fenomena Job Hugging (memeluk pekerjaan) atau bertahan dalam pekerjaan menjadi marak di kalangan para pekerja.
Saat ini tngkat pekerja yang keluar dari pekerjaannya hanya berkisar 2%, terendah sejak 2016. Pertumbuhan pekerjaan juga melemah secara signifikan, dengan laju perekrutan yang melambat ke level terendah sejak 2013 (detikfinance, 20-09-2025).
Fenomena Job Hugging nyatanya tak hanya melanda para pekerja. Fenomena ini juga diikuti oleh perusahaan yang memilih untuk memeluk atau mempertahankan karyawan, ketimbang merekrut yang baru. Mirisnya lagi, fenomena Job Hugging ini hampir melanda seluruh dunia, dikarenakan kondisi perekonomian dunia yang makin lesu, pasar kerja yang tak bergerak, ditambah kinerja perusahaan yang tidak optimal.
Kcilnya peluang dan ketatnya persaingan dunia kerja yang memicu fenomena Job Hugging sejatinya disebabkan oleh sistem kapitalisme yang terbukti telah gagal dalam menjamin pekerjaan bagi rakyat. Sistem kapitalis meniscayakan ketiadaan peran negara dalam meriayah rakyat, padahal sejatinya negara lah yang harus bertanggung jawab dalam penyediaan lapangan pekerjaan. Selama ini, tanggung jawab menyediakan lapangan pekerjaan diambil alih oleh swasta, yang kita tahu setiap kebijakan yang diterapkan tentu akan berorientasi pada kepentingan perusahaan bukan karyawan.
Jadi bukan sesuatu yang mengherankan jika terjadi PHK besar-besaran dengan alasan menghemat biaya produksi dan keuangan. Karena tujuan didirikannya perusahaan memang untuk mencari keuntungan.
Kondisi ini makin diperparah oleh adanya legalitas kepemilikan sumber daya dalam kapitalisme. Sumber-sumber daya alam yang berstatus harta milik umum yang harusnya dikelola negara dan hasilnya akan digunakan untuk kepentingan rakyat, kini justru dimiliki dan dikelola oleh segelintir kapitalis.
Sistem kapitalis juga banyak melakukan aktivitas ekonomi non-rill yaitu aktivitas ekonomi yang tidak secara langsung terkait dengan produksi barang dan jasa rill, melainkan lebih fokus kepada transaksi finansial seperti perdagangan saham, obligasi dan valuta asing.
Aktivitas ekonomi nonriil dalam sistem kapitalisme minim dalam menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi rill, selain karena lebih fokus pada transaksi finansial, adanya keterlibatan modal besar yang hanya bisa disediakan oleh para investor besar juga menimbulkan ketimpangan ekonomi dalam masyarakat. Seringkali keuntungan dan peluang hanya terkonsentrasi pada pelaku ekonomi yang memiliki modal besar dan akses dan informasi yang baik.
Meski kurikulum perguruan tinggi disiapkan untuk adaptif dengan dunia kerja, namun prinsip liberalisasi yang dijadikan landasan ekonomi kapitalis menjadikan lulusan perguruan tinggi tetap saja tak memiliki kesempatan yang sama dan mendapatkan peluang kerja yang lebih banyak, ini disebabkan karena negara yang harusnya bertanggung jawab terhadap urusan rakyat justru berlepas tangan.
Tapi inilah realita negeri yang menganut sistem kapitalisme, sistem yang meniscayakan siapapun yang memiliki kekayaan dan kekuatan yang lebih banyak maka dialah yang bisa bertahan.
Lain halnya dengan Islam. Dalam pemerintahan Islam, negara merupakan penanggung jawab utama seluruh urusan rakyat, termasuk urusan penyediaan lapangan pekerjaan sebagai salah satu wasilah rakyat memenuhi kebutuhan dasarnya.
Negara dalam Islam mampu menyediakan atau menciptakan lapangan pekerjaan karena sistem Islam memiliki kebijakan tersendiri. Seperti pengelolaan sumber daya alam yang wajib dilakukan oleh negara, pengelolaan yang mandiri dengan jumlah sumber daya alam yang melimpah tentu akan membutuhkan sumber daya manusia yang banyak, dan hal ini akan bisa menyerap tenaga kerja secara maksimal.
Pemerintah dalam Islam juga akan memprioritaskan rakyat sendiri ketimbang tenaga kerja asing seperti yang terjadi dalam sistem kapitalisme. kita tentu masih ingat akan kasus TKA yang berbondong-bondong datang di tengah maraknya pengangguran. Tak hanya menyediakan atau menciptakan lapangan pekerjaan, untuk masyarakat yang membutuhkan, negara dalam Islam akan memberikan tanah produktif, memberi modal dan sarana serta melatih masyarakat agar memiliki keterampilan dalam bekerja.
Islam juga akan membingkai pendidikan dan pekerjaan dengan ruh dan keimanan. Dengan demikian output pendidikan tak sebatas menghasilkan generasi yang siap kerja, melainkan generasi yang beriman, mampu berkembang dan berinovasi serta melakukan semua aktivitas karena dorongan ibadah dan hanya mengharap rida Allah Ta’ala, menjalani pekerjaan dengan nyaman dan penuh kebahagiaan tanpa tekanan atau ketakutan.
Dengan sistem Islam, hidup yang berkesinambungan akan tercipta, rakyat akan sejahtera secara adil dan merata. Adanya jaminan lapangan pekerjaan dari negara, akan membuat ‘bertahan bukan lagi sebagai pilihan yang dipaksakan, tapi akan menjadi pilihan yang menyenangkan, sebab memberikan keuntungan.
Wallahu a'lam bishawab
.jpg)
No comments:
Post a Comment