Oleh Dra. Rahma
Praktisi Pendidikan
Tersingkapnya jaringan perdagangan bayi jaringan Indonesia-Singapura telah mengguncang dunia maya beberapa waktu lalu. Kasus ini bermula dari laporan penculikan ini, kemudian membongkar keperihan. Bayi-bayi tak berdosa itu dijual oleh orang tua mereka sendiri, yang seharusnya menyayangi. Dua belas orang sudah ditahan dalam kasus yang sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Peristiwa ini lebih dari sekadar noda hitam kejahatan pribadi. la adalah potret buram dari sistem kehidupan yang bobrok, yaitu kapitalisme. Sekularisme mengecilkan nilai manusia menjadi sekadar angka materi. Pikirkan, sewaktu keperluan pokok tidak terjangkau dan negara terkesan abai, keluarga miskin seolah terdorong pada keputusasaan, sampai mengorbankan darah daging mereka.
Kapitalisme mengikis nilai kemanusiaan dengan membuat celah ketimpangan yang lebar. Sumber daya alam dan harta cuma terkonsentrasi di segelintir elite, sedangkan jutaan rakyat mati-matian berjuang untuk bertahan hidup. Negara yang semestinya melindungi, malah lebih sering memberi sarana untuk kepentingan perusahaan raksasa, alih-alih melayani rakyat.
Dalam kerangka ini, perdagangan bayi menjadi logis, sebagai buah dari sistem yang menjadikan orientasi keuntungan di atas segalanya. Saat nilai-nilai akhlak dan keagamaan dibelakangkan, manusia pun kehilangan substansinya. Mereka yang terdesak, tiada alternatif selain memperlakukan anak sebagai "komoditas" terakhir, yang bisa dijual untuk bertahan hidup. Ini kenyataan pahit pahit saat ekonomi pasar bebas menguasai semua aspek kehidupan, termasuk martabat manusia.
Untuk mengembalikan martabat insan, tiada pilihan lain selain dengan Islam. Berlainan dengan kapitalisme, Islam menyiapkan penyelesaian yang lengkap melalui penerapan syariah secara utuh. Pemerintah wajib menyejahterakan semua warganya. Keperluan pokok, yakni makanan, pakaian, perumahan, pendidikan dan kesehatan dijamin sepenuhnya oleh negara. Bukan sebatas diupayakan. Ini melenyapkan tekanan ekonomi yang kerap memicu tindakan ekstrem, semisal penjualan anak.
Islam menjamin secara materi, juga menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat. Masyarakat dibentuk untuk mempunyai kesadaran besar terhadap tanggung jawab sosial dan akhlak. Tanggung jawab kemasyarakatan dan akhlak mulia ini mencegah timbulnya kasus-kasus memilukan, seperti perdagangan bayi. Sebab kemanusiaan dan harkat martabat pribadi, jauh lebih berharga dibandingkan materi.
Perlu suatu lembaga politik yang kokoh dan sanggup menerapkan syariah yang kaffah, yaitu Khilafah Islam.
Khilafah bukan hanya nama, tetapi juga sistem pemerintahan yang sudah terbukti dalam sejarah. Mampu memberi keadilan, kesejahteraan dan melindungi semua umat manusia, tanpa memandang latar belakang mereka.
Khilafah akan betul-betul melaksanakan tugasnya, yang melindungi dan melayani warga. Tidak menjadi alat bagi kepentingan sekelompok elite. Dengan demikian, kasus-kasus yang mencederai kemanusiaan, semisal jual-beli bayi, dapat dikurangi bahkan dihilangkan sepenuhnya, sebab sistemnya didesain untuk menyokong setiap pribadi.
Kasus jual-beli bayi ini seyogyanya menjadi tanda peringatan kepada umat Islam untuk bermuhasabah dan memberi sikap yang tegas. Sudah waktunya kita tanggalkan sistem kapitalis yang terbukti gagal dan hanya membawa derita. Ayo kembali kepada syariah yang paripurna!!.
Hanya dengan menerapkan syariah secara utuh dalam naungan khilafah, maka kaum Muslim dapat meraih kemuliaan dan kesejahteraan yang hakiki. Ini cita-cita luhur, serta merupakan kewajiban dari Allah dan penyelesaian nyata atas permasalahatan umat.

No comments:
Post a Comment