Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fatherless Kian Populer, Buah Kehidupan Kapitalistik–Sekuler

Sunday, October 26, 2025 | Sunday, October 26, 2025 WIB Last Updated 2025-10-26T00:06:53Z

Oleh. Rizki Ika Sahana (Aktivis Muslimah)

Fenomena fatherless atau tiadanya peran ayah, baik secara fisik maupun psikis, kini menjadi perhatian serius di tengah masyarakat. Banyak anak muda mengaku tumbuh tanpa kasih sayang dan bimbingan seorang ayah. Mereka berbagi kisah di media sosial tentang kerinduan, luka batin, dan kehilangan arah karena sosok yang seharusnya menjadi pelindung justru absen dari kehidupan.

Angka Fatheress

Penelitian menyebutkan, jutaan anak Indonesia mengalami fatherless dalam berbagai bentuknya. Mulai dari ayah yang benar-benar tidak hadir karena perceraian atau kematian, hingga ayah yang hadir secara fisik namun tidak terlibat secara emosional dalam pengasuhan. Para ayah ini mungkin tinggal serumah, tetapi terasa berjarak bahkan berjauhan dengan anak. Walhasil, ayah menjadi sosok asing di rumahnya sendiri.

Mengutip voi.id (11 Oktober 2025), Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan angka fatherless tertinggi di dunia. Ini sejalan dengan analisa Tim Jurnalisme Data Harian Kompas, bahwa 15,9 juta anak di Indonesia berpotensi tumbuh fatherless alias tanpa pengasuhan ayah. Angka ini setara dengan 20,1 persen dari total 79,4 juta anak berusia kurang dari 18 tahun, merujuk pada olahan data Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional badan Pusat Statistik Maret 2024.

Kapitalisme-Sekular Biang Fatherless

Fenomena fatherless ini tidak muncul tiba-tiba. Fatherless merupakan buah dari sistem kehidupan yang saat ini mengatur dunia, yakni sistem kapitalistik-sekuler. Sistem ini telah mengubah makna kehidupan menjadi semata urusan materi dan produktivitas. Akibatnya, peran ayah tereduksi sebatas penyedia kebutuhan ekonomi, bukan pembentuk karakter dan penuntun spiritual anak-anaknya.

Dampak Fatherless

Muncul beragam tanggapan pakar terhadap fenomena fatherless ini. Beberapa ahli menyoroti dampaknya terhadap proses tumbuh kembang anak, seperti gangguan emosi, sulit percaya diri, hingga rentan terhadap masalah sosial di masa remaja bahkan dewasa.

Akar Persoalan Fatherless

Salah satu pemicu fatherless tak lain adalah tekanan ekonomi. Banyak ayah terseret dalam tuntutan pekerjaan panjang, bahkan harus bekerja lembur atau jauh dari rumah demi memenuhi kebutuhan. Ironisnya, sistem kerja kapitalistik justru menormalisasi hal ini — seolah semakin sibuk dan lelah adalah tanda keberhasilan. Padahal di sisi lain, anak-anak tumbuh dengan jiwa yang kosong karena kehilangan figur pengayom.

Jika ditelisik secara lebih mendalam, akar persoalan fatherless ini sesungguhnya terletak pada penerapan ideologi kapitalisme yang menuhankan materi. Kapitalisme membentuk manusia sebagai makhluk yang valuenya semata diukur dari produktivitas dan kepemilikan harta. Nilai seorang ayah pun diukur dari kemampuannya memberi nafkah atau harta kepada keluarga termasuk anak. Semakin banyak harta yang mampu diberikan, maka akan semakin tinggi nilai seorang ayah.

Padahal, ketika nafkah dianggap semata urusan dunia, bukan amanah dari Allah, maka hilanglah ruh kepemimpinan seorang ayah dalam keluarga. Waktu dan tenaganya terkuras hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang tak ada habisnya, sementara hubungan emosional dengan anak kian hampa.

Dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, nilai-nilai spiritual yang seharusnya menuntun perilaku dan tanggung jawab ayah terhadap keluarga dianggap urusan personal, bukan prinsip hidup yang harus mendapatkan dukungan dan penjagaan bahkan oleh support system paling handal. Akibatnya, banyak ayah kehilangan fungsi qawwam-nya — sebagai pemimpin, pelindung, dan pembimbing ruhiyah keluarga, karena tak ada support system yang menguatkan dan mengokohkannya.

Pandangan Islam

Islam memandang peran ayah begitu tinggi dan mulia. Seorang ayah tidak hanya bertanggung jawab memberi nafkah, tetapi juga menjadi teladan akhlak dan pemimpin pendidikan. Kisah Lukman al-Hakim dalam Al-Qur’an menggambarkan betapa pentingnya peran ayah dalam membentuk iman dan karakter anak. Lukman bukan hanya memberi nasihat, tetapi juga menanamkan tauhid, mengajarkan adab, dan menunjukkan kebijaksanaan hidup berlandaskan ketaatan. 

Dalam Islam, pendidikan anak bukan sekadar tanggung jawab ibu sebagai pengasuh, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari kepemimpinan seorang ayah.

Islam juga membangun sistem sosial yang menjaga peran ayah agar tidak lenyap. Negara dalam sistem Islam wajib menjamin kesejahteraan setiap kepala keluarga. Lapangan kerja harus terbuka luas, dengan upah yang layak, sehingga ayah tidak perlu bekerja berlebihan atau jauh dari keluarganya demi bertahan hidup. Islam juga menetapkan sistem perwalian (wilayah) yang memastikan setiap anak memiliki figur pelindung — baik dari ayah kandungnya maupun dari wali yang ditunjuk negara bila sang ayah tiada.

Dengan sistem ini, tidak ada anak yang dibiarkan tanpa perlindungan dan bimbingan. Semua diatur agar keluarga menjadi lingkungan yang stabil dan penuh kasih, bukan tempat yang hampa peran dan makna.

Berbeda dengan kapitalisme yang menjerumuskan ayah menjadi budak ekonomi, Islam menempatkan ayah sebagai pemimpin peradaban. Seorang ayah bukan hanya pencari rezeki, tetapi juga penjaga moral dan penuntun arah keluarga menuju ridha Allah. Negara Islam akan memfasilitasi hal itu dengan menjamin kebutuhan dasar rakyat, mengatur perekonomian secara adil, dan memastikan sistem pendidikan berbasis akidah. Dengan begitu, para ayah memiliki waktu, tenaga, dan ketenangan untuk membersamai keluarga mereka.

Kembali Kepada Islam

Fenomena fatherless yang kini kian populer seharusnya menjadi alarm bagi umat Islam. Ia bukan sekadar isu sosial biasa, tetapi tanda bahwa sistem kehidupan yang berjalan hari ini telah gagal menjaga fungsi keluarga. Solusinya tidak cukup dengan seruan moral atau kampanye kesadaran, sebab akar persoalannya terletak pada ideologi yang mendasari sistem kehidupan manusia. Karenanya, selama kapitalisme-sekuler masih menjadi dasar kehidupan, peran ayah akan terus terpinggirkan.

Sudah saatnya umat menyadari bahwa kembalinya fungsi ayah hanya mungkin terjadi ketika sistem kehidupan kembali kepada Islam. Dalam naungan syariat, keluarga bukan sekadar unit ekonomi, tetapi institusi pembentuk insan bertakwa. Di sanalah peran ayah dan ibu berpadu — membangun rumah tangga yang kokoh di atas iman, kasih sayang, dan kepemimpinan yang diridai Allah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update