Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rojali dan Rohana Potret Profil Kesenjangan

Friday, September 26, 2025 | Friday, September 26, 2025 WIB

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya). Demikianlah fenomena ini menjadi istilah mencuat beberapa waktu yang lalu.

Pada awalnya dengan keberadaan dua profil tersebut,  penulis belum tergelitik untuk menggoreskan kata hati dan menuangkan olah pikir. Namun setelah istilah ini bergulir cukup riuh di ruang publik sampai saat ini,  penulis greget juga mengamati ini.

Unik memang. Rojali dan Rohana sebagai aktivitas sekelompok orang baik secara individu maupun bersama, yang sekadar jalan-jalan atau cuci mata, merebak sebagai fenomena yang muncul pada masyarakat Indonesia. Cara pandang manusia mengisi hidup memunculkan dinamika psikologis, sosial, budaya, dan ekonomi.

Dikutip dari tempo 25-07-2025, Kasandra Putranto (psikolog klinis dan forensik) menjelaskan fenomena itu bisa disebabkan oleh faktor yang disebut hierarki kebutuhan di mana kunjungan ke pusat perbelanjaan tidak semata bertujuan membeli barang untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, tapi, untuk memenuhi kebutuhan sosial dan aktualisasi diri, seperti berkumpul, refreshing (penyegaran) atau healing (pemulihan).

Tentunya semua tidak lepas dari cara pandang terkait pemenuhan kebutuhan atau hanya sebuah keinginan. Adanya kesenjangan cara pandang membuat fenomena apapun bisa terjadi termasuk fenomena Rojali Rohana. Bisa fenomena ini jadi self-image strategy, strategi pencitraan diri,  ingin dianggap sebagai individu dengan daya beli tinggi, meskipun kenyataannya tidak demikian.

Identitas Celupan Kapitalisme 

Relate memang. Saat kapitalisme menjadi ukuran pilihan gaya hidup, kunjungan ke pusat perbelanjaan meski tanpa transaksi, cuma nanya jarang beli bahkan tidak membeli sering kali menjadi simbol. Demi status sosial, dipandang modis, urban, atau elite, menjadi bagian yang tidak dipisahkan dari perilaku sebagian masyarakat.

Terlebih, media sosial turut pula memperkuat budaya ini. Selfie-selfie di mal-mal  mewah, kafe-kafe viral, atau butik mahal, sekalipun tidak ada yang dibeli, menjadi pilihan gaya hanya karena ingin meningkatkan grade sosial. Budaya konsumerisme modern, dengan image: membeli tidak selalu penting, yang penting terlihat seperti pembeli.

Kebiasaan window shopping (bertanya dulu sebelum membeli) menjadi rancu dengan adanya fenomena Rojali Rohana. Saat fenomena ini  kian umum, bisa jadi hal ini menjadi indikator lemahnya daya beli masyarakat. Window shopping yang semula merupakan perilaku normal, dengan adanya Rojali Rohana bisa saja berubah menjadi sinyal adanya tekanan ekonomi di lapisan bawah masyarakat. Identitas Rojali Rohana kian membahana. Celupan kapitalisme menarik publik pada kesan ketidakberdayaan di tengah gegayaan.

Ketua Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia, Arsjad Rasjid, dalam wawancara dengan Detik, mengungkapkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia kini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ironisnya, hal ini terjadi di tengah klaim pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi masih positif.

Menurut Arsjad, penurunan daya beli disebabkan oleh berbagai faktor: inflasi, melemahnya nilai tukar rupiah, meningkatnya biaya hidup, serta tingginya angka pengangguran. Terlebih, sekitar 60% angkatan kerja Indonesia berada di sektor informal, dengan penghasilan tidak tetap dan tanpa perlindungan sosial. Situasi ini menjadikan kondisi finansial rakyat sangat rentan.

Kapitalisme, Kesenjangan Terus Terbentang

Semakin ditelisik, kita akan mendapati bahwa akar dari berbagai persoalan di negeri ini ada pada sistem ekonomi yang masih digunakan. Sistem ekonomi kapitalisme mendominasi dengan titik fokus hanya pada angka pertumbuhan ekonomi.  Pemerataan kesejahteraan luput dari pemenuhan. Alhasil, jurang kesenjangan kian lebar: 1% kelompok terkaya menguasai hampir separuh aset nasional.

Diperparah dengan gencarnya liberalisasi sumber daya alam. Penguasaan korporasi asing dan swasta besar atas sektor strategis membuat pendapatan negara Kian menurun. Alih-alih memenuhi kebutuhan rakyat, untuk menutup kekurangan anggaran, negara mengandalkan pajak dan utang luar negeri yang membebani rakyat, ujing-ujungnya semakin menekan daya beli. Sistem kapitalisme sangat tidak manusiawi.

Islam Melibas Cara Pandang Keliru

Berbeda dengan kapitalisme, sistem ekonomi Islam menawarkan pendekatan yang sangat adil.  Dalam Islam, negara bertanggung jawab penuh dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat (pendidikan, kesehatan, dan keamanan) secara gratis dan merata.

Dalam sistem Islam negara wajib menciptakan lapangan kerja yang layak dan memberikan jaminan sosial bagi yang tidak mampu bekerja. Sumber daya alam sebagai milik umum  dikelola negara demi kemaslahatan bersama, tidak dikomersialkan untuk keuntungan sekelompok orang.

Sistem ekonomi Islam menata moneter dengan menggunakan mata uang berbasis emas dan perak. Sistem ini terbukti stabil, tahan  inflasi, dan melindungi daya beli masyarakat dalam jangka panjang.

Islam akan terus melibas cara pandang keliru sehingga fenomena Rojali Rohana tidak menjadi dagelan akibat ketidakberdayaan. Sebagai potret dari krisis yang lebih dalam: mulai dari tekanan psikologis akibat standar sosial yang tinggi, hingga ketimpangan ekonomi sistemik yang membuat banyak orang hanya bisa melihat tapi tak bisa membeli, fenomena Rojali Rohana akan dihindari.

Sungguh, solusi yang bukan hanya tambal sulam sudah seharusnya diwujudkan. Perubahan sistemik yang menyeluruh sudah sangat urgen diniscayakan. Sistem ekonomi Islam, dengan prinsip keadilan dan tanggung jawab negara, layak untuk dipertimbangkan sebagai alternatif menuju kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan. Sistem Islam Kaffah bukan lagi sekadar tawaran, namun harus segera diterapkan agar kesejahteraan bukan lagi hanya sebatas angan.

Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update