Oleh; Kursiyah Azis (Penulis Dan Aktivis Muslimah)
Air mata Gaza bukan lagi sekadar tetesan duka, melainkan jeritan panjang yang mengguncang nurani umat. Puluhan tahun penderitaan, penjajahan, dan kebrutalan Zionis telah menyisakan luka yang tak kunjung sembuh. Dunia bungkam, lembaga internasional gagal, sementara darah syuhada terus membasahi tanah suci itu. Gaza kini butuh kepemimpinan Islam agar kembali kepada solusi syariat yang hakiki, bukan pada kompromi politik yang selalu berujung pengkhianatan dan kemunafikan.
Melansir dari Repoblika.co.id. Sabtu (6/9/2025) Militer Israel meminta warga Gaza untuk mengungsi ke arah selatan, mereka diperingatkan bahwa operasi tersebut berlangsung di seluruh kota.
Militer Israel (IDF) sejak awal perang di Gaza kerap mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga sipil Palestina. Mereka meminta masyarakat Gaza, khususnya di wilayah utara dan Kota Gaza, untuk mengungsi ke arah selatan dengan dalih “demi keselamatan.” Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa evakuasi yang tidak aman.
Jalur evakuasi yang ditentukan Israel tidak selalu bebas dari serangan. Banyak laporan menunjukkan konvoi pengungsi justru menjadi sasaran serangan udara atau artileri. Selain itu tekanan psikologis akan berdampak akibat perintah evakuasi massal dan hal tersebut kerapkali menjadi cara Israel melemahkan perlawanan, yakni memecah belah masyarakat, dan membuat warga Gaza kehilangan rumah, tanah, serta akses kebutuhan dasar.
*Ambisi Penjajah yang tak berujung*
Salah satu tujuan militer dan politik bagi para penjajah seperti Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, adalah keinginan kuat untuk menguasai sepenuhnya tanah jajahannya. Mereka sudah berulang kali menegaskan keinginannya untuk menguasai penuh Kota Gaza. Bagi Israel, Kota Gaza dianggap sebagai pusat pemerintahan Hamas dan simbol perlawanan Palestina. Sehingga mereka mengusir penduduknya dengan cara yang paling bengis.
Dengan demikian, perintah pengungsian bukan sekadar urusan “keselamatan sipil,” melainkan bagian dari strategi Israel untuk mengosongkan wilayah, menguasai pusat-pusat penting, dan melemahkan daya tahan rakyat Gaza.
Ambisi Israel untuk menguasai Palestina bukanlah sekadar persoalan keamanan, melainkan proyek kolonial yang terencana rapi sejak awal abad ke-20. Zionisme datang membawa misi: merebut tanah Palestina dan menghapus identitas bangsanya. Sejak 1948, ketika Nakba terjadi dan ratusan ribu rakyat Palestina terusir dari tanah kelahiran mereka, hingga kini, Israel tak pernah berhenti melangkah maju dalam peta ekspansi.
Israel ingin seluruh Palestina jatuh di bawah kendalinya. Bukan hanya Gaza yang terus dibombardir, bukan hanya Tepi Barat yang dipenuhi pos-pos militer dan permukiman ilegal, tapi juga Yerusalem yang mereka klaim sebagai "ibu kota abadi". Israel sedang menjalankan politik fait accompli: mengubah realitas di lapangan hingga dunia harus menerima fakta bahwa Palestina “hilang” dari peta.
Dalih "keamanan" hanyalah kamuflase. Karena sejatinya tidak ada yang benar-benar aman di tanah yang sedang dijajah. Lalu siapa yang sebenarnya merasa aman? Anak-anak Palestina yang kehilangan rumah, orang tua yang mengungsi, atau justru para penjajah Israel yang bersenjata lengkap? Israel selalu menempatkan dirinya sebagai korban, padahal ia adalah penjajah yang haus tanah, haus legitimasi, dan haus dominasi.
Lebih parahnya lagi, ambisi Israel berdiri di atas sokongan Barat, terutama Amerika Serikat. Dukungan dana, senjata, hingga hak veto di PBB membuat Israel kebal dari kecaman dunia. Inilah wajah nyata imperialisme modern. Dimana sebuah negara kecil tapi kejam, dijadikan pion penting untuk menjaga kepentingan geopolitik Barat di jantung dunia Islam. Palestina dijadikan korban, agar Israel bisa tampil sebagai kekuatan hegemoni yang tak tertandingi.
Namun ada satu hal yang tak pernah bisa ditaklukkan, yakni semangat perlawanan rakyat Palestina. Meski Gaza hancur, meski Tepi Barat terkepung, meski dunia bungkam, semangat itu terus hidup. Karena Palestina bukan hanya soal tanah, tapi soal martabat, identitas, dan perlawanan terhadap penjajahan.
Israel boleh mengklaim dirinya kuat, tapi sejarah telah berkali-kali menunjukkan bukti bahwa kekuatan yang lahir dari kezaliman selalu punya titik runtuh dan pasti akan berakhir pada kebinasaan.
*Tegaknya Kepemimpinan Islam: Jalan Hakiki Mengakhiri Derita Gaza*
Penderitaan rakyat Gaza seolah tiada ujung. Setiap hari mereka terus-terusan menghadapi bom, blokade, kelaparan, hingga kehilangan orang-orang tercinta. Dunia lantang berteriak “kemanusiaan”, namun seringkali solusi nyata tak kunjung datang. PBB lemah, negara-negara besar berlomba bungkam, sedangkan negeri-negeri Muslim hanya mampu memberi bantuan seadanya tanpa keberanian struktural untuk menghentikan kebiadaban.
Entah sampai kapan Gaza harus terus menjerit tanpa pembela. Selama umat Islam belum memiliki kepemimpinan sejati yang menegakkan keadilan dan melindungi yang tertindas, penderitaan Gaza akan terus berulang.
Olehnya itu maka tegaknya kepemimpinan Islam saat ini menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Karena hanya dengan sistem Islamlah yang mampu menekankan kewajiban melindungi nyawa, martabat, dan keselamatan kaum yang lemah. Pemimpin yang beriman harus menjadikan pembelaan terhadap yang tertindas sebagai prioritas kebijakan. Melalui bantuan nyata, perlindungan diplomatik, dan upaya hukum internasional. Ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah kewajiban moral dan agama untuk menegakkan keadilan.
Kekuatan umat Islam saat ini terpecah. Maka, dengan Tegaknya kepemimpinan Islam yang menyatukan upaya politik, ekonomi, dan kemanusiaan otomatis akan meningkatkan efektivitas bantuan baik berupa pembukaan koridor kemanusiaan, dukungan medis dan pangan, hingga pemblokiran dukungan finansial bagi kebijakan yang memperpanjang blokade. Pengorganisasian sipil, solidaritas lembaga wakaf, dan koordinasi antarnegara Muslim dapat mengurangi penderitaan tanpa menciptakan eskalasi militer baru
Dengan kepemimpinan Islam maka akan lahir penguasa yang berwibawa, yang mampu memainkan peran diplomasi tegas dengan menggunakan pengaruh ekonomi dan politik untuk menekan aktor-aktor yang mensuplai atau mendukung agresi, serta memanfaatkan mekanisme internasional untuk menegakkan akuntabilitas. Tekanan kolektif yang dirancang secara strategis dapat lebih efektif daripada kecaman moral yang kosong melompong.
Oleh karena itu, penderitaan Gaza bukan sekadar isu kemanusiaan semata. Ini adalah panggilan akidah dan moral, umat Islam harus bangkit bukan untuk mengobarkan kekerasan, melainkan untuk membangun kepemimpinan yang berlandaskan syariat dan prinsip-prinsip keadilan yang universal, kepemimpinan yang mampu menyatukan dukungan politik, ekonomi, hukum, dan kemanusiaan agar penderitaan benar-benar berhenti. Wallahu alam.

No comments:
Post a Comment