Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Skenario Terburuk Kelaparan Sistemik Palestina, Kebangkitan Islam Solusi Hakiki

Saturday, August 16, 2025 | Saturday, August 16, 2025 WIB




Oleh Ana Ummu Rayfa 

Aktivis Muslimah


Skenario terburuk kelaparan saat ini sedang terjadi di Jalur Gaza. Demikian kesimpulan otoritas internasional terkemuka yang menangani krisis pangan dalam peringatan barunya pada Selasa. Mereka memperkirakan “kematian yang meluas” tanpa adanya tindakan segera. Peringatan tersebut, yang masih belum mencapai deklarasi kelaparan resmi, menyusul kerisauan atas gambar anak-anak kurus di Gaza dan laporan puluhan kematian terkait kelaparan setelah hampir 22 bulan perang. Jumlah kematian akibat kelaparan sejak perang dimulai kini mencapai 175 jiwa, termasuk 93 anak-anak, menurut data yang dirilis otoritas kesehatan Gaza. (media online republika.id)

Kondisi di Gaza semakin mencekam, terutama sejak serangan pada 7 Oktober 2023. Tetapi, kondisi menjadi makin buruk tatkala Zionis atas arahan Amerika, memberlakukan blokade total atas akses keluar masuk bantuan baik makanan, air bersih, obat-obatan dan lain-lain sejak 2 Maret 2025. Sejak saat itulah, warga Gaza tidak hanya terhimpit akibat senjata, tetapi juga diintai kelaparan hingga menghilangkan nyawa. Ini bukan hal yang kebetulan. Zionis menyebut bahwa blokade yang dilakukan tidak lain untuk mempersempit ruang gerak Hamas yang dituding selalu merampas bantuan yang masuk dan menggunakannya untuk kepentingan perang. Sebagai kompensasi, mereka berjanji untuk memberi bantuan kepada warga dengan membentuk badan amal Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Kementrian  Luar Negeri Zionis mengklaim, 4.400 truk bantuan kemanusiaan sudah masuk ke Gaza, dan 700 truk lainnya sedang menunggu.  Namun, kenyataan di lapangan berbeda.  Di media sosial, tampak banyak foto dan video yang memperlihatkan warga Gaza yang kelaparan. Tubuh lansia, anak-anak, bahkan pemuda kering kerontang karena tidak ada asupan makanan. Mereka yang masih bertahan, makan dan minum apa saja untuk bertahan hidup, mulai dari pakan ternak, rerumputan, hingga air limbah pembuangan. 

Sulit rasanya untuk menyangkal bahwa ini adalah skenario Zionis dan Amerika sebagai bagian dari strategi genosida Gaza. Blokade dijalankan agar warga Gaza kelaparan, hingga mereka perlahan mati mengenaskan. Selain itu, mereka juga terpaksa berbondong-bondong mengejar bantuan, dan di sana mereka dibunuh dengan kejam. Ini bukan tudingan semata, tetapi dibuktikan dengan fakta dan data yang disampaikan beberapa pihak yang terpercaya. Pada 29 Juli, Kantor Berita Anadolu Ajansi  menyebutkan kematian akibat kelaparan dan kekurangan gizi hingga saat ini sudah berjumlah 134, termasuk 88 anak- anak. Disebutkan pula oleh sumber lainnya, total korban mencapai 147 orang. (Gazamedia, 29-7- 2025). Juru Bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB Thameen al-Kheetan kepada BBC World Service mengatakan bahwa hingga 21 Juli 2025, tercatat ada 1.054 orang tewas di Gaza saat berusaha mendapatkan makanan; 766 di antaranya tewas di sekitar lokasi GHF dan 288 di dekat konvoi bantuan PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya. Ini merupakan bukti tak terbantahkan bahwa skenario kelaparan sistemis memang digunakan oleh Zionis untuk genosida warga Palestina.

Ironisnya, fakta terang benderang yang sudah diketahui oleh masyarakat di seluruh dunia, tidak juga menggugah para pemimpin, khususnya negeri-negeri Muslim di dunia, untuk menghentikan kejahatan Zionis di Palestina. Mereka hanya bisa mengecam tanpa aksi nyata, dan sibuk mengamankan diri dan kekuasaannya dari kemarahan Amerika, dengan dalih menjaga hubungan antar negara dan hukum internasional. Mereka tidak berkutik dibawah kendali Amerika.

Negara-negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Mesir, pertama kalinya resmi mendesak Hamas untuk melucuti senjata dan menyerahkan kekuasaan atas Jalur Gaza kepada Otoritas Palestina (PA). Sementara Mesir justru menekan Imam Besar Al Azhar untuk mencabut pernyataannya tentang Zionis, padahal dunia menyaksikan pelaparan sistemis menjadi senjata Yahudi  untuk genosida. Di sisi lain, mulai banyak negara yang akan mengakui Palestina sebagai negara setelah terbuka borok Zionis Yahudi dan menyaksikan kejahatan yang tiada tara.

Para pemimpin negeri-negeri Muslim seolah buta dan tuli dengan keadaan saudara sesama Muslim di Palestina. Ukhuwah Islamiyah yang menjadi pengikat antar sesama Muslim, dimatikan oleh kepentingan dan jabatan. Sikap ini menjerumuskan mereka pada kelemahan dihadapan musuh-musuh Islam. Padahal, Allah SWT dalam QS. Ali Imron ayat 110 menyebutkan bahwa umat Islam adalah umat terbaik. Kemuliaan sebagai umat terbaik ini akan kembali pada kaum Muslim, sesuai janji Allah dalam QS. An Nur ayat 55, yang menegaskan bahwa Allah akan menjadikan orang beriman berkuasa di bumi. Kekuasaan inilah yang akan dapat membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis. Seperti Khalifah Abdul Hamid II yang dulu dengan lantang dan tegas menolak ketika Theodore Herzel, meminta tanah Palestina untuk kaum Yahudi Zionis. 

Kekuasaan inilah yang ditakuti oleh penjajah. Kebangkitan kaum Muslim dalam satu institusi negara, akan menggerakkan kaum Muslim di seluruh dunia untuk bersatu dalam jihad secara fisik dan mengusir Zionis dan Amerika dari tanah Palestina. Dalam naungan khilafah, kaum Muslim akan kembali mulia dan menjadi umat terbaik, dan tidak akan membiarkan satu jengkalpun tanah kaum Muslim yang diduduki oleh penjajah.

Oleh karena itu, solusi untuk penderitaan warga Palestina bukanlah bantuan kemanusiaan, melainkan solusi hakiki yang dapat mengakhiri penjajahan secara total yaitu dengan bangkitnya institusi negara, yaitu Khilafah Islamiyah.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update