Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam, Solusi Strategis Pelaparan Sistematis di Gaza

Saturday, August 16, 2025 | Saturday, August 16, 2025 WIB

 


Oleh Nurul Aini Najibah

Pegiat Literasi


Penduduk Jalur Gaza kembali dilanda ancaman kelaparan yang kini telah mencapai tingkat krisis kemanusiaan global dan berpotensi menyebabkan banyak korban jiwa. Sementara itu, otoritas Mesir menekan Imam Besar Al-Azhar, Ahmed al-Tayeb, agar menarik pernyataannya yang mengkritik pengepungan Israel yang menyebabkan warga Gaza, Palestina, mengalami kelaparan massal. Situasi kelaparan tersebut telah memicu kemarahan masyarakat internasional.


Langkah otoritas Mesir ini menjadi ironi terbaru, mengingat posisinya sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Gaza namun terlihat lebih berpihak pada Israel. Pernyataan kecaman dari Imam Ahmed al-Tayeb sempat diberitakan oleh sejumlah media besar Mesir, termasuk platform milik United Media Services yang diduga memiliki keterkaitan erat dengan intelijen Mesir sebelum akhirnya dihapus. (sindonews.com, 24/7/2025)


Saat ini, lebih dari 80% penduduk Gaza mengalami kelaparan parah, dengan infrastruktur hancur dan bantuan terhalang oleh blokade Zionis. Kondisi ini memicu malnutrisi massal serta ancaman kelaparan berkepanjangan. Sementara itu, semakin banyak negara yang berencana mengakui Palestina sebagai negara menyusul terungkapnya kebrutalan rezim Zionis dan kejahatan yang tak tertandingi.


Pelaparan Sistematis adalah Genosida


Kelaparan di Gaza bukan sekadar kelaparan biasa, sejatinya merupakan bentuk genosida yang dilakukan secara sistematis. Bencana ini semakin memperparah penderitaan rakyat Gaza yang sebelumnya telah menjadi sasaran serangan bertubi-tubi oleh Zionis Israel sejak agresi pada 2023. 


Kementerian kesehatan Gaza melaporkan bahwa saat ini jumlah korban meninggal di Gaza akibat genosida yang dilakukan Israel telah mendekati 57.800 orang. Lebih dari 137.600 warga Palestina juga mengalami luka-luka akibat serangan Israel. Kementerian melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir, 9 warga Palestina tewas dan lebih dari 78 orang terluka saat berusaha mendapatkan bantuan kemanusiaan. Dengan demikian, sejak 27 Mei, jumlah pencari bantuan yang tewas akibat tembakan Israel mencapai 782 orang, sementara 5.179 lainnya terluka. Sementara itu, sejak melanjutkan serangan di Jalur Gaza pada 18 Maret, tentara Israel telah menewaskan 7.200 orang dan melukai 25.615 lainnya, sekaligus menggagalkan gencatan senjata dan perjanjian pertukaran tahanan yang berlaku sejak Januari. (aa.com.tr.id, 10/7/2025)


Zionis terus melakukan serangan, bahkan menutup jalur akses yang menjadi pintu masuk bantuan pangan sebagai bagian dari upaya memusnahkan rakyat Palestina. Di tengah meluasnya krisis kelaparan, Israel justru dengan sengaja menghambat masuknya berbagai jenis bantuan. Tindakan ini jelas merupakan strategi yang telah direncanakan militer Israel, mengingat mereka mengetahui pasokan makanan di Palestina semakin menipis dan situasi kelaparan ini akan memberi keuntungan bagi pasukan mereka.


Diamnya Pemimpin Muslim


Meskipun Palestina telah mengalami serangan selama puluhan tahun, hal itu tampaknya tidak menggugah hati nurani para pemimpin Muslim di berbagai negara. Bahkan, negara-negara Arab yang berbatasan langsung dengan Palestina terlihat mengabaikan seruan bantuan dari rakyat Palestina.


Israel merupakan penjahat perang. Namun, salah satu bentuk kejahatan yang tak kalah kejam adalah sikap diam para pemimpin di negeri-negeri Muslim. Mereka seakan hanya menjadi penonton, menyaksikan saudara seiman dibantai oleh musuh. Kalaupun ada upaya yang disebut sebagai perlawanan, itu pun sebatas kecaman atau kutukan sesaat.


Memang ada pihak yang selalu berpura-pura tegas, dengan lantang mengecam kekejaman Zionis. Namun, ucapan mereka tidak sejalan dengan tindakan. Alih-alih membantu Gaza dengan mengirimkan pasukan dan senjata yang kerap mereka banggakan, mereka justru menjalin kerja sama erat dengan sekutu Zionis dan pemimpinnya, mengabaikan nasib saudaranya sendiri. Ada pula yang tanpa rasa malu memilih berpihak pada penjahat perang atas nama normalisasi hubungan, bahkan turut mendukung pembantaian dengan menutup rapat satu-satunya jalur harapan bagi warga Gaza di perbatasan.


Sungguh, mereka seolah lupa bahwa setiap nyawa yang hilang dan setiap tetes darah tak bersalah di Gaza, Palestina, kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat dengan penyesalan yang tiada akhir. Mereka pun lalai bahwa setiap tangisan anak-anak yang kehilangan orang tua, serta perempuan yang kehilangan keluarga tercinta, juga akan menuntut pertanggungjawaban.


Islam, Solusi Kelaparan di Gaza


Krisis kelaparan di Gaza sejatinya merupakan tanggung jawab seluruh umat Islam, bahkan seluruh umat manusia. Namun, untuk menyelesaikan persoalan Palestina dan Gaza secara menyeluruh, kita harus melihatnya dari dua sisi. Pertama, masalah pendudukan Zionis Yahudi yang dijalankan dengan kekerasan, perampasan, dan tindakan keji yang merupakan akar permasalahan Gaza. Kedua, persoalan jatuhnya korban jiwa, luka-luka, serta timbulnya krisis kemanusiaan seperti kelaparan, ketiadaan akses pendidikan, layanan kesehatan dan rasa aman. Masalah kedua ini merupakan dampak turunan dari akar permasalahan tersebut.


Saat ini, umat Islam diarahkan untuk memusatkan perhatian pada penyelesaian masalah kedua, seperti menggalang donasi guna menyediakan bantuan pangan, obat-obatan dan pendidikan bagi para korban. Bahkan, muncul gagasan solusi berupa evakuasi warga Gaza yang didorong oleh rasa empati terhadap penderitaan mereka. Namun, jelas terlihat bahwa sebesar apapun upaya menyelesaikan masalah kedua, hal itu tidak akan efektif selama akar persoalan yakni kebrutalan dan kekejaman Zionis Yahudi tidak disentuh untuk dihentikan. Masalah kedua akan terus berulang selama masalah pertama belum diselesaikan.


Dengan demikian, bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian dan tenda darurat memang sangat dibutuhkan. Akan tetapi, umat Islam tidak boleh melupakan bahwa langkah paling mendesak untuk menyelesaikan seluruh masalah kemanusiaan tersebut adalah menghentikan kebrutalan dan kejahatan Zionis Yahudi. Mereka dapat terus melakukan kekerasan karena memperoleh dukungan finansial, persenjataan, dan kekuatan militer dari negara-negara adidaya. Maka, Palestina harus dibebaskan dari penjajahan dan penjarahan Zionis Yahudi dengan mengerahkan kekuatan militer serta persenjataan yang setara. Umat Muslim harus mengerahkan segala kemampuan yang dapat membuat musuh gentar.


Solusi strategis ini berupa jihad, yaitu berperang untuk menegakkan kalimat Allah di seluruh muka bumi. Hakikat jihad adalah menyingkirkan penghalang fisik, berupa kekuatan negara dan militer yang menghalangi manusia untuk mengenal Allah sebagai Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan, serta menghalangi mereka untuk menerapkan hukum-hukum Allah Swt. Zionis yang memperoleh dukungan dari negara-negara adidaya, merupakan salah satu kekuatan fisik yang menghalangi manusia untuk mengenal dan tunduk kepada Tuhannya, dan melakukan kebiadaban tak terhingga dengan membunuh ratusan ribu kaum muslimin. Jihad inilah yang mampu menghentikan kebiadaban, kebrutalan dan kesombongan kekuatan sekuler, sekaligus mewujudkan kehidupan yang berlandaskan ketundukan penuh kepada Al-Khaliq, Allah Ta‘ala.


Di sisi lain, tragedi pembantaian di Gaza harus menjadi titik awal kebangkitan umat Islam, dengan menyadari bahwa mengandalkan solusi dari Barat justru menjauhkan dari penyelesaian hakiki atas penjajahan di Palestina. Satu-satunya solusi sejati adalah menegakkan institusi Islam sebagai warisan Nabi Muhammad saw. yang terbukti menjadi pelindung umat dan membawa mereka menuju kebangkitan yang sesungguhnya.


Islam telah terbukti menjadi pelindung (junnah) bagi Palestina dan seluruh umat Muslim. Rasulullah saw. bersabda,“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaq ’Alaih).


Maka, penerapan sistem Islam perlu menjadi agenda bersama bagi seluruh umat Islam di dunia. Dukungan terhadap upaya ini perlu diwujudkan melalui dakwah pemikiran politik ideologis. Tidak cukup hanya mendukung secara pasif, umat Islam juga harus terlibat langsung dan bergerak dalam perjuangan menegakkan Islam bersama kelompok dakwah Islam yang berlandaskan ideologi. Inilah bentuk nyata keseriusan kita dalam membantu saudara-saudara Muslim di Gaza dan Palestina.


Langkah ini diyakini dapat membebaskan umat Islam dari keterpurukan yang disebabkan oleh kehidupan di bawah sistem sekuler kapitalis. Dengan tegaknya Islam, seluruh umat Islam, termasuk kaum Muslim di Palestina, akan merasakan keamanan dan kesejahteraan.

Wallahu a‘lam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update