Oleh: Purnama Sari
Beredar foto yang menunjukkan bahwa baju siswa SMP berinisial F yang tewas dengan kepala terbungkus plastik di dalam rumahnya di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, berlumuran darah. Dugaan sementara pihak kepolisian, darah itu bukan karena akibat penganiayaan, tetapi karena pembuluh darah korban pecah.
Itu kalau keterangan di lapangan itu pembengkakan, pembuluh darahnya pecah dari telinga, kata Kasi Humas Polres Simalungun AKP Verry Purba, Jumat.
Verry mengatakan saat pertama kali ditemukan, belum ada bercak darah yang ditemukan di jasad korban. Namun, darah tersebut diduga keluar saat proses evakuasi.
Mungkin waktu digeser itu mungkin kan, waktu diangkat-angkat . Nggak ada luka di tubuh, memar atau penganiayaan nggak ada, jelasnya.
Verry menjelaskan bahwa keluarga F diduga mengalami broken home. Selain itu, ibu dan ayah F juga telah berpisah.
Dia diduga keluarga broken home itu. Jadi, ortunya pisah, mamanya sering ke Berastagi, dagang, niaga. Iya, sering, ujarnya.
Sebelumnya, Verry menjelaskan jasad korban ditemukan di rumahnya di Jalan Veteran, Kecamatan Bandar, Rabu. Dia mengatakan korban biasanya tinggal bersama ibu dan kakaknya, sedangkan ayahnya telah bercerai dengan ibunya.
Lalu, pada saat Senin, ibu dan kakak korban pergi ke rumah kakaknya di Berastagi. Saat ditinggalkan itu, korban dalam keadaan sehat dan masih pergi sekolah.
Kemudian, pada Selasa, korban tidak lagi merespons saat dihubungi oleh ibunya. Alhasil, ibu korban meminta bantuan paman korban yang tinggal di dekat lokasi kejadian untuk mengecek ke rumah.
Namun, saat dipanggil, korban tak merespons. Alhasil, paman korban memanggil pihak desa dan polsek setempat untuk mendobrak pintu itu.
Pada saat olah TKP, korban di dalam kamar yang terkunci dari dalam, dengan situasi korban sudah meninggal. Informasi kalau korban diikat itu tidak benar, namun muka ditutup plastik itu benar, kata Verry, Kamis .
Tak Ada Luka Kekerasan di jasad pelajar wajah tertutup plastik di Simalungun.
Dari hasil pemeriksaan sementara, tidak ditemukan bekas luka kekerasan di jasad korban.
Dari pemeriksaan polda dan polres bahwa terhadap jenazah secara kasat mata tidak ada luka atau bekas tindakan kriminal, seperti pemukulan ataupun hantaman dan lain-lain. Kalau secara kasat mata, korban tewas kehabisan oksigen, jelasnya.
Verry mengatakan pihaknya masih mendalami penyebab kematian korban. Saat ini, jasad korban juga telah dibawa ke RS Djasamen Saragih Pematangsiantar untuk diautopsi. Sambil menunggu hasil autopsi, pihak kepolisian juga memeriksa saksi dan mencari bukti-bukti lain.
Untuk penyebab kematian pasti Polisi masih menunggu hasil autopsi dari rumah sakit Djasamen Saragih Kota Pematang Siantar. Untuk semua keluarga dan saksi-saksi masih dilakukan pemeriksaan, termasuk teman korban dan peralatan elektronik korban, seperti hp dan laptop, karena ada juga dugaan bahwa korban hendak bunuh diri, namun masih didalami, pungkasnya.
Fenomena ini jelas menggambarkan betapa rapuhnya tatanan keluarga dan rusaknya generasi hari ini. Kian maraknya fenomena ini juga bukan tanpa sebab. Dan jika dicermati, penyebab utama yang sesungguhnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena berakar pada paham sekaligus penerapan sistem rusak sekularisme kapitalisme yang diterapkan oleh negara saat ini. Sistem rusak inilah yang telah merusak dan merobohkan pandangan hidup masyarakat mengenai keluarga sekaligus tatanannya.Sebab pasalnya, sekularisme sebagai paham yang menyingkirkan agama dari kehidupan ini telah melahirkan manusia-manusia krisis iman yang tidak mampu mengontrol emosinya, rapuh dan kosong jiwanya. Begitu pun kapitalisme, sebagai paham sekaligus sistem kehidupan (ideologi) yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup manusia, telah mencetak banyak generasi menjadi abai atau tidak peduli lagi pada kewajibannya sebagai hamba Allah Swt, termasuk kewajiban untuk berbakti kepada orang tua (birrul walidain).
Penerapan sistem hidup kapitalisme yang berakidah sekularisme telah nyata terbukti gagal memanusiakan manusia. Fitrah dan akal manusia tidak terpelihara, sehingga menjauhkan dari tujuan penciptaan dirinya di dunia, yaitu sebagai hamba Allah Swt. dan khalifah yang memakmurkan bumi dengan menjadikan risalah Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Sistem sekularisme kapitalisme yang hanya memandang Islam sebagai agama ritual, juga telah menghilangkan jati diri generasi. Alhasil, generasi saat ini banyak yang tidak memahami bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan setelah kematian dan akan di balas oleh Allah Swt di akhirat kelak.
Kehidupan generasi dalam sistem Kapitalisme diliputi dengan berbagai kemaksiatan, seperti narkoba, tawuran, dan pembegalan. Selain itu, generasi juga lemah dalam mengendalikan dirinya dalam menghadapi persoalan termasuk kecemasan dan ketakutan.
Sistem pendidikan sekuler-kapitalis gagal membentuk generasi berkepribadian Islam. Output pendidikan sekuler adalah generasi yang tidak tahu jati dirinya sebagai Muslim, sehingga tidak paham bagaimana harusnya berpikir dan bertindak yang benar sesuai misi penciptaan.
Tidak adanya lingkungan sosial yang suportif membentuk kepribadian generasi. Media hari ini pun bebas kontrol dan memuat berbagai pemikiran yang merusak generasi.
Berbagai persoalan generasi membutuhkan sistem yang mampu memberikan solusi komprehensif, yakni penerapan sistem Islam di bawah institusi negara Khilafah. Islam akan menjadikan negara sebagai penanggung jawab segala urusan umat, termasuk membentuk kepribadian mulia generasi.
Sistem pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada penanaman nilai akademis, tapi juga membentuk kepribadian Islam pada generasi. Dari sini, masyarakat pun akan memahami Islam dan mensuasanakan generasi dalam ketaatan. Negara Khilafah juga akan mengontrol media sebagai sarana edukasi dan dakwah semata.
Dengan begitu, maka terbentuk pula masyarakat yang benci dengan kemaksiatan dan mencintai ketaatan, sehingga akan menjadi kontrol bagi masyarakat melalui aktivitas saling menasihati karena dorongan akidah dan syariat Islam. Wallahu allam bisshaab

No comments:
Post a Comment