Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kasus Bullying Makin Genting

Thursday, August 21, 2025 | Thursday, August 21, 2025 WIB Last Updated 2025-08-21T04:48:58Z

 


Oleh: Fitri Suryani, S.Pd

(Freelance Writer)


Belum lama ini media sosial digemparkan dengan kasus perundungan yang berakhir kematian dari negeri jiran Malaysia. Korban atas nama Zara Qairina Mahathir, remaja 13 tahun yang merupakan siswi kelas satu Sekolah Menengah Kebangsaan Agama Tun Datu Mustapha di Papar, Sabah, Malaysia, yang meninggal dunia pada 17 Juli usai ditemukan tak sadarkan diri di saluran air dekat asrama sekolah sehari sebelumnya. 


Laporan awal menyebutkan Zara jatuh dari lantai tiga asarama, namun dugaan kuat ia mengalami perundunggan yang berakhir kematian yang melibatkan anak-anak pejabat tinggi (Cnnindonesia, 13-08-2025).


Kasus perundungan yang berakhir kematian juga tak sedikit terjadi di negeri ini, walaupun kasusnya tak segempar Zara asal Malaysia. Seperti salah satu kasus murid kelas 2 Sekolah Dasar di Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau meninggal dunia pada Senin, 26 Mei 2025. Korban berinisial KB, 8 tahun, tewas sepekan setelah diduga dianiaya oleh lima orang Kakak kelasnya (Tempo, 06-06-2025).


Fakta tersebut hanya secuil masalah perundungan yang terekspos media. Sementara yang tidak terekspos tidak menutup kemungkinan jumlahnya lebih banyak lagi. 


Masalah perundungan yang dilakukan anak-anak begitu menyesakkan dada, karena tenyata usia mereka tak sepolos tingkah lakunya. Hal tersebut tentu bukan tanpa sebab, mengingat banyak hal yang memicu timbulnya perilaku tersebut. Adapun penyebab perilaku bullying tersebut di antaranya: Pertama, kurangnya peran orang tua. Peran orang tua saat ini seolah makin terpinggirkan, tak jarang mereka lebih disibukkan oleh pekerjaan, sehingga pedidikan anak dicukupkan hanya di sekolah. Kalau pun diberikan pendidikan dari rumah hanya sekadarnya saja.


Kedua, minimnya kontrol masyarakat. Lingkungan masyarakat merupakan faktor pendukung di mana anak memperoleh pendidikan yang telah ia dapatkan dari rumah. Sayangnya, masyarakat saat ini tak sedikit bersikap tak acuh atas kondisi rusaknya pergaulan anak-anak. Pun budaya amar makruf nahi mungkar kian terkikis di tengah-tengah masyarakat.


Ketiga, rapuhnya peran negara. Negera tentu telah berupaya meminimalisasi masalah bullying, tetapi di sisi lain masih banyak celah yang dapat memicu perbuatan tersebut. Tengok saja, begitu banyak media yang menampilkan tontonan berbau kekerasan, minim nilai edukasi bahkan merusak moral generasi, baik itu berupa film, game bahkan situs porno. Karena tak dipungkiri apa yang dilihat atau ditonton dan didengar oleh anak seringkali dijadikan tuntunan.


Pun pendidikan yang didapat anak turut andil dalam mencetak generasi muda. Bagaimana tidak, pendidikan saat ini seakan hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, namun minim dalam membentuk karakter anak yang luhur. Karenanya tak heran banyak anak cerdas, tapi tak sedikit yang adabnya kurang.  


Dari itu, seyogianya semua elemen bersinergi dalam bahu-membahu meminimalisasi bahkan menuntaskan masalah bullying. Hal itu pun sebagaimana dalam islam yang menempatkan peran orang tua sebagai pendidik yang utama dan pertama di dalam lingkungan keluarga. Orang tua pun tidak hanya cukup mengajarkan pemahaman terkait norma agama, tetapi lebih dari itu memberikan contoh yang baik. Karena orang tua merupakan teladan terdekat bagi anak-anaknya. 


Selain itu, islam juga memerintahkan kepada manusia untuk saling nasihat-menasihati dalam kebeneran. Karena manusia bukan nabi, apalagi malaikat yang tak lepas dari dosa, terlebih anak-anak yang masih butuh banyak arahan dan bimbingan dari orang dewasa. Dari itu, pentingnya budaya amar makruf nahi mungkar di tengah lingkungan masyarakat. 


Tak kalah penting peran negara. Negara memegang peran yang tak kalah penting dari peran lingkungan keluarga dan masyarakat, sebab negara memiliki kekuatan hukum dalam membuat dan menerapkan aturan. Dari itu dalam Islam di antara upaya mengondisikan masyarakat tak terkecuali anak-anak agar senantiasa dalam ketaatan yakni, negara akan meniadakan tayangan yang berbau kekerasan, minim nilai edukasi, apalagi yang merusak moral generasi, terlebih situs porno yang jelas bertentangan dengan norma agama. 


Oleh karena itu, kondisi saat ini sulit menciptakan anak yang memiliki akhlak yang luhur, jika masih banyak celah yang memicu. Karena itu, keluarga, masyarakat, dan negara sudah semestinya bersinergi dalam mengondisikan dan mencetak generasi penerus bangsa yang tak hanya cerdas secara akademik, tapi juga berbudi pekerti luhur. Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update