Oleh: Astina
Kelaparan di Gaza makin menunjukkan krisis kemanusiaan yang sangat serius dan membutuhkan bantuan internasional segera. Krisis pangan ini merupakan hasil dari kebijakan sistematis yang mempersempit akses terhadap kebutuhan dasar. Blokade berkepanjangan yang dilakukan oleh Israel telah menghambat bantuan kemanusiaan dan mengisolasi 2 juta warga dari dunia luar. WHO melaporkan, setidaknya ada 63 kasus malnutrisi pada Juli 2025, termasuk 24 di antaranya dialami oleh balita. Tingkat malnutrisi akut global di Gaza meningkat tiga kali lipat sejak Juni, dengan hampir satu dari lima anak di bawah lima tahun mengalami malnutrisi akut.
Apa yang terjadi di Palestina saat ini semakin membuka mata dan hati masyarakat di seluruh dunia. Adanya serangan dari Israel yang terus datang membuat masyarakat Gaza menderita. Bukan hanya serangan fisik yang warga Palestina terima, tetapi mereka juga dibuat kelaparan, dimana bantuan yang masuk juga di tahan oleh Israel laknatullah.
Umat muslim seyogyanya memiliki kesadaran yang lebih tinggi dari masyarakat dunia lainnya karena bukan hanya perasaan kemanusiaan tetapi juga ada perasaan persaudaraan sebagai sesama muslim. Karena umat muslim bagaikan satu tubuh yang maknanya ketika saudara muslim di negara lain merasakan penderitaan masyarakat muslim lainnya juga harus merasakannya. Tetapi pada kenyataannya umat muslim saat ini seolah tidak peduli asalkan hal itu tidak terjadi di tempat tinggalnya.
semua tragedi ini terus berlangsung tanpa ada yang bisa menghentikan. PBB hanya bisa berkoar-koar meminta Zion*s menghentikan kekejamannya, tetapi veto Amerika membuatnya mandul tanpa daya dan membuat Zion*s makin jemawa. Padahal, sejak 7 Oktober 2023, sudah lebih dari 204.000 warga Gaza menjadi korban, 60.000 lebih di antaranya tewas, dan yang lainnya luka-luka. Mayoritas adalah anak-anak dan perempuan. Lebih dari 10.000 orang dinyatakan hilang dan ratusan ribu lainnya terusir dari tempat tinggalnya.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 28—29 Juli 2025 lalu soal Gaza pun nyatanya hanya mampu bermain aman. Deklarasi New York yang dihasilkan hanya menyerukan dukungan penuh terhadap solusi dua negara dan mendesak Negara ‘ilegal’ Israel untuk menyatakan komitmennya atas berdirinya Negara Palestina yang merdeka. Deklarasi tersebut bahkan tidak berani menyebut kata “Israel” secara eksplisit ketika mengecam “tindakan sepihak ilegal” yang dinilai menjadi ancaman eksistensial bagi kemerdekaan Palestina!
Dalam KTT itu tentu terdapat pula para pemimpin muslim—yang notabene seagama dengan warga Gaza. Akan tetapi, sebagaimana sebelum-sebelumnya, mereka pura-pura buta tuli. Masing-masing hanya sibuk menyelamatkan diri dan kekuasaannya dari kemarahan Amerika, seraya berlindung di balik narasi soal menjaga hubungan antarnegara dan hukum-hukum internasional.
Memang ada yang selalu berpura-pura garang. Mereka dengan gagah mengecam sikap Zion*s yang sangat kejam. Namun, lain sikap, lain yang dikatakan. Alih-alih menolong Gaza dengan mengirim tentara dan senjata yang dibangga-banggakan, tangan mereka justru erat bergandengan dengan para sekutu Zion*s dan dengan gembongnya di belakang rakyatnya! Ada juga yang tidak malu-malu memilih berdiri bersama penjahat perang atas nama “normalisasi hubungan”, bahkan tega mendukung pembantaian dengan turut menjaga rapat-rapat satu-satunya pintu harapan bagi warga Gaza di perbatasan.
Sungguh, mereka benar-benar lupa bahwa setiap nyawa yang hilang dan darah yang menetes dari umat tidak berdosa di Gaza Palestina, kelak di akhirat harus mereka bayar tunai dengan penyesalan yang sangat panjang. Mereka pun lupa bahwa setiap tangisan anak-anak yang kehilangan orang tua, juga perempuan-perempuan yang kehilangan keluarga yang dicinta, juga akan meminta pertanggungjawaban.
Sikap mereka itu sangat berbeda jauh dengan yang Rasulullah ﷺ dan para khalifah contohkan. Mereka selalu hadir sebagai pengurus dan penjaga, bukan hanya untuk urusan dunia, tetapi hingga urusan akhirat rakyatnya. Mereka benar-benar bertindak seperti penggembala yang memastikan setiap rakyatnya terpenuhi akan kebutuhan dan kesejahteraannya. Jangankan urusan nyawa, siapa pun yang berani melanggar kehormatan rakyatnya, mereka harus siap berhadapan dengan pembelaan yang keras dari para pemimpin Islam. Bukan hanya kata-kata, tentara pun siap mereka dikirimkan kapan pun diperlukan.
Entitas Yahudi Madinah yang pembangkang punya pengalaman pahit dalam sejarah hubungannya dengan para pemimpin Islam. Begitu pun yang ada di sekitar Madinah, seperti Yahudi Khaibar. Akan tetapi, sebagian mereka yang mau tunduk dalam kepemimpinan Islam, dari masa ke masa sebagaimana Yahudi dan Kristen di Palestina sebelum pendudukan, justru merasakan kenikmatan dan penghormatan luar biasa dari para penguasa Islam.
solusi yang semestinya dituntut oleh masyarakat dunia adalah pengusiran penjajah Zion*s dari setiap jengkal Tanah Palestina, tidak terkecuali di Gaza. Mengakui keberadaan mereka sebagai negara, termasuk dengan mendukung solusi dua negara sebagaimana ditawarkan Amerika dan sekutunya, hanyalah memberi amunisi pada mereka untuk terus bertindak semena-mena.
Masalahnya, pengusiran itu tentu menuntut pengerahan tentara dan senjata yang hanya bisa dilakukan oleh level sebuah negara. Negara itu jelas bukan negara biasa, melainkan harus negara yang siap menantang Amerika dan semua sekutunya.
Negara seperti itu hanya ada pada negara yang menerapkan Islam secara total dan akan menyatukan seluruh potensi umat Islam di seluruh dunia, serta siap memobilisasi tentara memimpin jihad fi sabilillah. Urusan Gaza-Palestina bagi umat Islam bukanlah sekadar urusan kemanusiaan. Sejatinya, ini adalah urusan hukum syarak dan urusan iman karena di dalamnya berkelindan perkara perintah dan larangan, termasuk menyangkut pembelaan terhadap sesama umat Islam sebagai barometer iman.
