Oleh: Siti Aminah, S. Pd (Pegiat Literasi Lainea Sulawesi Tenggara)
Sampai detik ini Gaza terus tertindas dan terjajah, entah sampai kapan mereka akan menjalani kehidupan seperti ini. Namun besar harapan bahwa Gaza bisa terbebaskan dari belenggu penjajahan Zionis Israel. Karena genosida yang terjadi di sana tidak pandang bulu, baik laki-laki ataupun perempuan, baik orang dewasa maupun anak yang baru lahir merasakan kezoliman Zionis laknatullah.
Belum lagi kelaparan di sana semakin mengerikan. Seakan kelaparan yang terjadi di sana karena kesengajaan untuk membunuh warga Gaza secara perlahan tapi pasti. Ratusan anak-anak tinggal tulang terbungkus oleh kulit.
Sebagaimana yang dilansir oleh tirto.id, kelaparan di Gaza makin menunjukkan krisis kemanusiaan yang sangat serius dan membutuhkan bantuan internasional segera. Krisis pangan ini merupakan hasil dari kebijakan sistematis yang mempersempit akses terhadap kebutuhan dasar (1/ 8/ 2025).
Ditambah lagi terkait rencana Israel untuk mengambil alih sepenuhnya jalur Gaza. Seperti dilansir oleh Beritasatu.com, Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) PBB Volker Turk pada Jumat (8/8/2025) mengecam rencana Israel untuk mengambil alih sepenuhnya Jalur Gaza secara militer dan mendesak agar rencana tersebut segera dihentikan (8/ 8/ 2025).
Rencana pengambil alihan sepenuhnya jalur Gaza adalah suatu kejahatan dan kezoliman. Bahkan dari kepala HAM PBB mengecam perbuatan ini. Namun kita harus membuka mata bahwa kecaman ini muncul bukan pertama kalinya, akan tetapi sudah ribuan kecaman dilakukan, baik dari kalangan muslim maupun kalangan non muslim belum juga mampu memberikan efek jera agar kaum Zionis laknatullah ini berhenti, malah semakin membabibuta.
Kezoliman Zionis ini sebenarnya diperparah oleh terpecah-belahnya kaum muslimin, yakni mereka disekat-sekat dengan nasionalisme atau negara bangsa. Sehingga para pemimpin negeri muslim, mereka hanya sibuk dengan urusan negeri mereka sendiri. Karena jika diteliti secara mendalam dari sisi pemboikotan sudah dilakukan bahkan terus dilakukan, donasi juga seperti itu, apalagi doa terus dipanjatkan. Namun yang belum dilakukan adalah hadirnya para pemimpin muslim menyuarakan secara tegas dan langsung mengirimkan tentaranya dan bukan hanya mengancam belaka.
Tidakkah mampu mengubah mata, hati, dan pikiran kita bahwa Gaza adalah saudara muslim kita yang terus terjajah? Tidakkah kita berpikir bahwa saudara kita di sana membutuhkan militer untuk menolong mereka? Umat harus sadar bahwa Palestina telah dijajah sejak 75 tahun lalu. Dan Gaza menjadi sasaran perluasan wilayah jajahan Zionis.
Umat harus memahami dan mengembalikan pemahaman yang benar tentang penjajahan. Yaitu penjajahan harus dilawan sampai penjajah disingkirkan. Bukan hanya dengan bantuan makanan, kesehatankesehatan atau obat-obatan, dan juga doa. Tapi lebih dari itu yakni kekuatan militer yang akan menggetarkan Zionis laknatullah itu.
Pada dasarnya, Gaza dan Palestina hanya akan bisa dibebaskan dengan kekuatan militer dan aktivitas jihad fii sabilillah. Namun Jihad fii sabilillah ini hanya bisa dilakukan secara sempurna dengan adanya komando dari seorang Khalifah yang melaksanakan kewajiban jihad dari Allah SWT.
Sebagaimana sejarah telah mencatat bahwa pembebasan Palestina ditahun 1187 yang dilakukan oleh pasukan militer Salahuddin Al-Ayubi melawan tentara Salib, di mana sebelum terjadinya perlawan dari militer atau pasukan tentara dari Salahuddin Al-Ayubi, Palestina terjajah terus menerus hampir satu abad lamanya. Dan bukan hanya Salahuddin Al-Ayubi, masih banyak lagi pemimpin muslim ketika di bawah kekuasaan Islam (Kekhilafan) Palestina terus terjaga dan dijaga.
Ini bukti bahwa, Gaza membutuhkan militer untuk menghentikan kebiadaban Zionis laknatullah. Tanpa kekuatan militer pembebasan Palestina hanya utopis belaka.
Oleh karena itu, umat Islam harus berjuang untuk mewujudkan adanya satu kesatuan kaum muslimin yakni kembalinya kekuasaan Islam (Khilafah), dengan melakukan dakwah berjamaah bersama jamaah dakwah ideologis. Waallahu a'alam Bish-shawab

No comments:
Post a Comment