Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bendera One Piece: Simbol Kekecewaan Rakyat. Kemanakah Seharusnya Rakyat Kembali?

Saturday, August 16, 2025 | Saturday, August 16, 2025 WIB

 




Oleh Ferlinawati, S.Tp

Aktivis Muslimah


Ada yang unik pada perayaraan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 80 di tahun 2025 ini. Himbauan presiden RI Prabowo Subiyanto kepada masyarakat agar mereka mengibarkan bendera merah putih pada bulan Agustus 2025 ini malah disambut dengan pengibaran bendera onepiece oleh sebagian masyarakatnya. Sontak ini menimbulkan rasa geram penguasa. Di lansir dari ANTARA Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai memandang negara berhak melarang pengibaran bendera fiksi dalam anime “One Piece” yang sejajar dengan bendera Merah Putih pada momen peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2025. Menurut Pigai, negara berhak melarang hal tersebut karena dianggap melanggar hukum sekaligus sebagai bentuk makar.

Fenomena pengibaran bendera One Piece ini tidak hanya sekadar ulah penggemar anime atau bentuk kreativitas spontan. Bagi sebagian masyarakat, aksi ini adalah simbol sindiran dan bentuk kekecewaan yang mendalam terhadap pemerintah. Bendera bajak laut dalam serial One Piece kerap melambangkan pemberontakan terhadap otoritas yang dianggap korup, menindas, atau tidak adil. Saat bendera itu dikibarkan di dunia nyata,  banyak yang menafsirkan bahwa masyarakat ingin menyampaikan pesan bahwa mereka merasa pemimpinnya tidak lagi berpihak pada rakyat, bahkan mungkin sudah kehilangan arah. Kekecewaan ini lahir dari akumulasi masalah, ketidakpuasan terhadap kebijakan yang dianggap menguntungkan segelintir elit, maraknya korupsi, lemahnya penegakan hukum, hingga kesenjangan sosial yang semakin melebar. 

Dalam situasi seperti itu, masyarakat mencari cara unik namun provokatif untuk menyampaikan suara protes. Pertanyaannya adalah apakah dengan dikibarkannya bendera onepiece akan membukakan hati penguasa untuk berbenah? Jawabannya adalah tidak mungkin. Ini dikarenakan sistem Demokrasi adalah produk dari Kapitalisme yang mana sistem ini menganut asas manfaat. Manfaat untuk siapa? Tentu saja manfaat untuk pemilik kekuasaan dimana yang memperoleh keuntungan hanyalah para pemilik modal dan pemilik kekuasaan saja, bukan rakyat. Dalam sistem ini rakyat hanya dianggap sebagai media yang bisa dimanfaatkan untuk mereka mendapatkan keuntungan yang sebesar besarnya. Pajak diseluruh aspek kehidupan, Sumber Daya Alam yang dikuras habis habisan, itu semua dikeruk untuk memenuhi isi lumbung mereka para penguasa dan pemilik modal. Dari sini kita harus tau bahwa sistem Kapitalis sampai kapanpun tidak akan pernah berpihak pada kepentingan rakyat. Karena sistem ini adalah buatan manusia, sifat dasar manusia adalah lemah dan berpihak maka dari itu aturan yang dibuat pun tidak akan pernah sempurna.

Di tengah carut-marutnya sistem hukum dan aturan buatan manusia yang sering berubah mengikuti kepentingan, ada satu kebenaran yang tak terbantahkan, aturan terbaik adalah aturan yang datang dari Allah yaitu sistem Islam dibawah kepemimpinan khalifah. Mengapa? Karena aturan Islam bersumber dari Sang Pencipta, yang Maha Mengetahui hakikat manusia, segala kelemahannya, kebutuhannya, dan apa yang terbaik untuk kehidupannya.

Aturan buatan manusia, meski diklaim sebagai hasil pemikiran ilmiah dan pengalaman panjang, selalu memiliki celah. Ia dipengaruhi oleh kepentingan politik, ekonomi, bahkan hawa nafsu pembuatnya. Hari ini suatu peraturan dianggap benar, esok bisa saja diubah atau dihapus jika tidak lagi menguntungkan pihak tertentu. Inilah kelemahan mendasar dari hukum ciptaan manusia, ia tidak mutlak, mudah dimanipulasi, dan tidak selalu berpihak pada keadilan sejati. 

Berbeda dengan aturan Allah yang bersifat sempurna, adil, dan abadi. Syariat-Nya tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan antar sesama manusia, hingga hubungan manusia dengan alam. Setiap perintah dan larangan yang Allah tetapkan bukanlah beban, melainkan jalan untuk menjaga kehormatan, keamanan, dan kesejahteraan hidup.

Sejarah telah membuktikan bahwa ketika umat manusia menjalankan aturan Allah secara konsisten, tercipta masyarakat yang beradab, adil, dan sejahtera. Korupsi ditekan, kriminalitas berkurang, dan kehormatan setiap orang terjaga. Sebaliknya, ketika aturan Allah ditinggalkan, kita melihat meningkatnya kezaliman, ketidakadilan, dan kerusakan moral.

Aturan buatan Allah adalah cahaya yang menuntun manusia keluar dari kegelapan. Menolak atau mengabaikannya sama saja dengan menutup mata terhadap solusi terbaik yang sudah Allah sediakan. Karena itu, jika kita ingin membangun kehidupan yang damai, adil, dan penuh berkah, tidak ada pilihan lain selain kembali kepada hukum dan aturan-Nya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update