Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bagaimana Upaya Kita Menghentikan Genosida “Pelaparan Gaza” ?

Sunday, August 10, 2025 | Sunday, August 10, 2025 WIB

 


                                                           Oleh Mimin Nur IndahSari

                                                                   Aktivis Muslimah

 

            Kekejaman Zionis Yahudi terus berlangsung hingga hari ini. Tak cukup dengan membombardir dan menembaki warga. Yahudi laknatullah juga memblokade seluruh bantuan logistik yang berisi obat-obatan, bahan makanan dan kebutuhan masyarakat Gaza. Di tengah blokade ini, dunia diam. PBB seolah-olah tuli. Negara-negara Barat, Eropa, AS, dan sekutunya justru mendukung genosida pelaparan Gaza. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk saudara kita di Gaza?

Warga Mesir baru-baru ini melakukan aksi mengisi botol plastik dengan gandum dan melemparkannya ke laut dengan harapan akan sampai ke warga Gaza. Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, tentu kita bisa mengupayakan segala potensi kita sebagaimana aksi yang dilakukan oleh warga Mesir.

Berkaca dari generasi Shalahuddin al Ayyubi yang mana telah berhasil membebaskan Al Quds (Palestina) dari cengkraman kaum Salib saat itu. Ada proses perjuangan yang amat panjang, upaya yang serius, kerja kolektif, kesabaran dan ketekunan yang luar biasa untuk meraih mimpi yang sama yakni pembebasan Palestina. Karenanya, kita butuh melakukan upaya secara sadar dan serius untuk membangun opini umum dalam rangka membangun kesadaran di tengah-tengah masyarakat, antara lain;

Pertama, issue Palestina merupakan issue yang penting dan genting. Sebab ia merupakan persoalan iman kita sebagai seorang muslim. Murka Allah SWT bagi sesiapa yang enggan menolong saudaranya sesama muslim, padahal kita mampu mengupayakan untuk menolong mereka. Rasulullah SAW bersabda,

‌مَا ‌مِنِ ‌امْرِئٍ ‌يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ، وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ، إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ، وَمَا مِنِ امْرِئٍ يَنْصُرُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ، وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ

Tidaklah seseorang membiarkan (tidak menolong) seorang Muslim di suatu tempat saat kehormatannya dilecehkan dan harga dirinya direndahkan, melainkan Allah akan membiarkan dia (tidak menolong dirinya) di tempat ia ingin mendapatkan pertolongan-Nya. Tidaklah seseorang menolong seorang Muslim di suatu tempat saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilecehkan, melainkan Allah akan menolong dia di tempat ia ingin mendapatkan pertolongan-Nya (HR Ahmad).

            Kedua, membangun kesadaran bahwa sampai kapan kita berharap Zionis Yahudi mau menerima solusi dua negara? Sedangkan, para penguasa negeri-negeri muslim hanya menjadi penonton atau mencoba menjadi penengah, seolah-olah netral. Bahkan rezim pengkhianat di negeri-negeri muslim pun terus berusaha menormalisasi hubungan mereka dengan Zionis Yahudi. Kapan pula kita akan sadar bahwa hanya dengan jihad di bawah komando seorang Khalifah, Palestina akan mampu dibebaskan sebagaimana kisah heroik keberhasilan pembebasan Baitul Maqdis yang dipimpin oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi (Kekhalifahan Abbasiyah).

            Ketiga, menyiapkan perasaan umat agar siap menerima solusi Islam yang akan mampu memberikan rahmat bagi seluruh umat di seluruh dunia, baik bagi kalangan muslim maupun non muslim. Sebagaimana bencana kelaparan yang pernah menimpa rakyat Irlandia pada tahun 1845, meski mayoritas rakyat Islandia beragama katolik, Sultan Abdul Majid I (Khalifah bani Utsmaniyah) dengan penuh kasih mengirimkan 1000 Poundsterling dan 3 kapal penuh dengan muatan bahan pangan. Kedermawanan dan kemurahan hati Sultan Abdul Majid I kemudian diapresiasi oleh rakyat Irlandia. Bahkan klub sepak bola asal kota Drogheda (Irlandia), menempatkan simbol utsmani bulan bintang pada logo Drogheda United FC untuk mengenang kemurahan hati kekhalifahan Turki Utsmani terhadap rakyat Irlandia.

            Keempat, menyadarkan umat bahwa tak ada pilihan bagi kita dalam perihal kewajiban. Terutama kewajiban berdakwah, menyeru agar Islam bisa kembali diterapkan secara menyeluruh dalam sebuah tatanan institusi Negara Khilafah. Sebab hanya komando seorang khalifah yang akan menyatukan seluruh negeri-negeri muslim dari sekat-sekat batas nasionalisme dan akan mampu memobilisasi seluruh tentara muslim untuk membebaskan Palestina. Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Abu Hamzah (surat kabar Al-Rayah edisi 388), bahwa dorongan atas pembebasan palestina dalam konteks hari ini, harus difokuskan untuk mewujudkan kembali keberadaan sang Khalifah. Sebab sang Khalifahlah yang akan mampu mempersatukan dan memobilisasi kekuatan pasukan militer muslim di seluruh dunia dalam satu komando untuk pembebasan Palestina. Wallahualam bissawab

 

           

 

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update