Oleh Mimin Nur IndahSari
Kekejaman
Zionis Yahudi terus berlangsung hingga hari ini. Tak cukup dengan membombardir
dan menembaki warga. Yahudi laknatullah juga memblokade seluruh bantuan
logistik yang berisi obat-obatan, bahan makanan dan kebutuhan masyarakat Gaza.
Di tengah blokade ini, dunia diam. PBB seolah-olah tuli. Negara-negara Barat,
Eropa, AS, dan sekutunya justru mendukung genosida pelaparan Gaza. Lalu apa
yang bisa kita lakukan untuk saudara kita di Gaza?
Warga Mesir baru-baru ini melakukan
aksi mengisi botol plastik dengan gandum dan melemparkannya ke laut dengan
harapan akan sampai ke warga Gaza. Dengan segala keterbatasan yang kita miliki,
tentu kita bisa mengupayakan segala potensi kita sebagaimana aksi yang
dilakukan oleh warga Mesir.
Berkaca dari generasi Shalahuddin al
Ayyubi yang mana telah berhasil membebaskan Al Quds (Palestina) dari cengkraman
kaum Salib saat itu. Ada proses perjuangan yang amat panjang, upaya yang
serius, kerja kolektif, kesabaran dan ketekunan yang luar biasa untuk meraih
mimpi yang sama yakni pembebasan Palestina. Karenanya, kita butuh melakukan upaya secara sadar dan serius
untuk membangun opini umum dalam rangka membangun kesadaran di tengah-tengah
masyarakat, antara lain;
Pertama, issue Palestina merupakan issue
yang penting dan genting. Sebab ia merupakan persoalan iman kita sebagai
seorang muslim. Murka Allah SWT bagi sesiapa yang enggan menolong saudaranya
sesama muslim, padahal kita mampu mengupayakan untuk menolong mereka.
Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنِ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا
فِي مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ، وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ،
إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ، وَمَا مِنِ
امْرِئٍ يَنْصُرُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ،
وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ
فِيهِ نُصْرَتَهُ
Tidaklah seseorang
membiarkan (tidak menolong) seorang Muslim di suatu tempat saat kehormatannya
dilecehkan dan harga dirinya direndahkan, melainkan Allah akan membiarkan dia
(tidak menolong dirinya) di tempat ia ingin mendapatkan pertolongan-Nya.
Tidaklah seseorang menolong seorang Muslim di suatu tempat saat harga dirinya
direndahkan dan kehormatannya dilecehkan, melainkan Allah akan menolong dia di
tempat ia ingin mendapatkan pertolongan-Nya (HR
Ahmad).
Kedua, membangun kesadaran
bahwa sampai kapan kita berharap Zionis Yahudi mau menerima solusi dua negara?
Sedangkan, para penguasa negeri-negeri muslim hanya menjadi penonton atau
mencoba menjadi penengah, seolah-olah netral. Bahkan rezim pengkhianat di
negeri-negeri muslim pun terus berusaha menormalisasi hubungan mereka dengan
Zionis Yahudi. Kapan pula kita akan sadar bahwa hanya dengan jihad di bawah
komando seorang Khalifah, Palestina akan mampu dibebaskan sebagaimana kisah
heroik keberhasilan pembebasan Baitul Maqdis yang dipimpin oleh Sultan
Shalahuddin al Ayyubi (Kekhalifahan Abbasiyah).
Ketiga,
menyiapkan perasaan umat agar siap menerima solusi Islam yang akan mampu
memberikan rahmat bagi seluruh umat di seluruh dunia, baik bagi kalangan muslim
maupun non muslim. Sebagaimana bencana kelaparan yang pernah menimpa rakyat
Irlandia pada tahun 1845, meski mayoritas rakyat Islandia beragama katolik,
Sultan Abdul Majid I (Khalifah bani Utsmaniyah) dengan penuh kasih mengirimkan
1000 Poundsterling dan 3 kapal penuh dengan muatan bahan pangan. Kedermawanan
dan kemurahan hati Sultan Abdul Majid I kemudian diapresiasi oleh rakyat
Irlandia. Bahkan klub sepak bola asal kota Drogheda (Irlandia), menempatkan
simbol utsmani bulan bintang pada logo Drogheda United FC untuk mengenang
kemurahan hati kekhalifahan Turki Utsmani terhadap rakyat Irlandia.
Keempat, menyadarkan umat bahwa tak ada pilihan bagi kita dalam perihal kewajiban. Terutama kewajiban berdakwah, menyeru agar Islam bisa kembali diterapkan secara menyeluruh dalam sebuah tatanan institusi Negara Khilafah. Sebab hanya komando seorang khalifah yang akan menyatukan seluruh negeri-negeri muslim dari sekat-sekat batas nasionalisme dan akan mampu memobilisasi seluruh tentara muslim untuk membebaskan Palestina. Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Abu Hamzah (surat kabar Al-Rayah edisi 388), bahwa dorongan atas pembebasan palestina dalam konteks hari ini, harus difokuskan untuk mewujudkan kembali keberadaan sang Khalifah. Sebab sang Khalifahlah yang akan mampu mempersatukan dan memobilisasi kekuatan pasukan militer muslim di seluruh dunia dalam satu komando untuk pembebasan Palestina. Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment